Kekayaan Turun, Donald Trump Terdepak dari Daftar Orang Terkaya Forbes

Penurunan kekayaan Donald Trump di antaranya disebabkan sebagian besar kekayaan Trump berupa aset properti kota tidak laku pada saat pandemi.
Image title
8 Oktober 2021, 19:08
Donald Trump, Forbes
ANTARA FOTO/REUTERS/Carlo Allegri/AWW/dj
Peniru mantan Presiden AS Donald Trump John Walsh merekam video TikTok di Kasino Trump Plaza yang dijadwalkan diledakkan esok, di Atlantic City, New Jersey, Amerika Serikat, Selasa (16/2/2021).

Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump keluar dari daftar 400 orang terkaya versi Forbes untuk pertama kalinya dalam 25 tahun. Forbes menyebutkan kekayaan Trump turun US$ 600 juta atau sekitar Rp 8,5 triliun sejak awal pandemi Covid-19. Sehingga Trump terlempar dari daftar orang terkaya pada 2021.

Forbes menyatakan, pengusaha real estate tersebut masih kayanya seperti tahun lalu ketika masih berada di peringkat 339 orang terkaya. Total kekayaan Trump saat ini US$ 2,5 miliar atau sekitar Rp 35,5 triliun.

Penurunan kekayaan Trump di antaranya disebabkan sebagian besar kekayaan Trump berupa aset properti kota tidak laku pada saat pandemi. Di masa pandemi, bisnis yang berkembang pesat yakni saham teknologi, mata uang kripto, dan aset lainnya.

Editor senior Forbes, Dan Alexander mengatakan penurunan kekayaan ini karena kesalahan Trump. "Lima tahun lalu, dia memiliki kesempatan emas untuk mendiversifikasi kekayaannya,” kata Dan dikutip dari Forbes, Jumat (8/10).

Dalam daftar orang terkaya versi Forbes, pendiri Amazon Jeff Bezos berada di posisi puncak untuk keempat kalinya dengan perkiraan kekayaan US$ 177 miliar. Diikuti oleh Elon Musk dengan US$ 151 miliar, dan di posisi ketiga yakni pendiri Facebook Mark Zuckerberg dengan US$ 134,5 miliar. Bill Gates berada di peringkat empat dengan US$ 134 miliar, diikuti oleh Larry Page dengan kekayaan US$ 123 miliar. Berikut grafik Databoks:



Utang Trump Bertambah Sejak Lengser dari Presiden Amerika

Trump juga memiliki gundukan utang di bisnis propertinya, sekitar US$ 1,3 miliar atau Rp 18,4 triliun. Jumlah utang ini hampir US$ 200 juta lebih banyak daripada saat dirinya meninggalkan kantor Gedung Putih.

Namun, hal ini tidak berarti dirinya berada di bawah tekanan finansial yang besar. Bahkan sampai saat ini, neraca Trump masih berada dalam kondisi yang lebih baik dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.

Kuncinya dukungan JPMorgan Chase yang meminjamkan US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 17 triliun untuk biaya kompleks perkantoran San Fransisco di mana Trump memegang sebanyak 30% kepemilikan minoritas. Sebagai mitra terbatas, Trump tidak akan bertanggung jawab secara pribadi atas utang itu jika terjadi wanprestasi. Namun hal tersebut masih memiliki efek besar pada keuangannya.

Pinjaman tersebut memungkinkan Trump dan mitra bisnisnya yakni Vornado Realty Trust yang diperdagangkan secara publik untuk membayar kembali utang mereka sebelumnya terhadap gedung yang jatuh tempo bulan lalu dan memperoleh sekitar US$ 616 juta tunai atau sekitar Rp 8,7 triliun.

Dengan kata lain, refinancing dapat meningkatkan utang pada properti tetapi juga memberikan lebih banyak likuiditas kepada pemiliknya. Jika Trump menerima 30% dari cash-out, kesepakatan itu akan meningkatkan kepemilikan likuidnya dari sekitar US$ 110 juta menjadi hampir US$ 300 juta.

Uang tersebut dapat berguna bagi Trump untuk beberapa tahun kedepan. Hal ini seperti pinjaman lain yang akan jatuh tempo. Selain itu, Trump juga memiliki memiliki utang sebesar US$ 738 juta atau Rp 10 triliun yang akan jatuh tempo selama tiga tahun ke depan.

 




Reporter: Cahya Puteri Abdi Rabbi
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait