Pfizer Izinkan Obat Covid-19 Versi Generik Digunakan 95 Negara

Kesepakatan Pfizer untuk memberikan akses produksi obat Covid-19 Paxlovid tanpa merek ini tak berlaku di beberapa negara seperti Cina, Rusia dan Brazil.
Yuliawati
17 November 2021, 17:59
pfizer, covid-19,
ANTARA FOTO/REUTERS/Matthew Childs/WSJ/cf
Logo Pfizer terlihat di lokasi pemasok global di Havant, Britain, Senin (1/2/2021).

Perusahaan raksasa farmasi Pfizer bersedia memberikan akses kepada 95 negara untuk memproduksi obat Covid-19 versi generik. Obat buatan pfizer bernama Paxlovid diklaim dapat mengurangi peluang rawat inap dan kematian pada orang dewasa yang terserang Covid-19 hingga 89%.

“Kami yakin bahwa pengobatan antivirus oral mempunyai peran penting dalam mengurangi kerasnya penularan Covid-19, mengurangi ketegangan pada sistem kesehatan dan menyelamatkan nyawa,” ujar CEO Pfizer Albert Bourla dikutip dari Aljazeera, Rabu (17/11).

Pfizer membuat kesepakatan dengan lembaga PBB untuk paten obat, Medical Patent Pool (MPP) untuk mengizinkan pembuatan obat versi generik atau tanpa merek Pfizer.

Akses diberikan kepada 95 negara yang berpendapatan menengah dan rendah. Pfizer tidak menarik honor, selama Covid-19 masih berstatus darurat kesehatan umum yang membutuhkan perhatian internasional.

Kesepakatan ini membuat perusahaan obat di luar Pfizer dapat memproduksi massal obat tersebut. Sehingga sebanyak 53% populasi dunia dapat mengakses obat tersebut. “Pfizer tetap berkomitmen menghadirkan terobosan ilmiah untuk membantu mengakhiri pandemi ini untuk semua orang,” ujar Bourla.

Pfizer telah mengajukan Paxlovid untuk penggunaan darurat obat kepada BPOM AS (FDA) pada Selasa (16/11). Fungsi tablet tersebut adalah menghalang aktivitas enzim yang dibutuhkan virus untuk berlipat ganda.

Penggunaan obat tersebut dikombinasikan dengan obat HIV, Ritonavir. Ritonavir dalam hal ini berfungsi untuk memperlambat metabolisme, sehingga obat dapat berfungsi dalam tubuh pasien lebih lama. Hal ini juga membantu Paxlovid untuk bekerja dengan pemusatan lebih tinggi.

Pfizer menguji obat tersebut dalam uji klinis 18 pasien yang memiliki risiko lebih tinggi terkena Covid-19 bergejala parah. Kombinasi kedua obat tersebut mengurangi kematian dan rawat inap hingga 89% tiga hari setelah muncul gejala. Obat tersebut diberikan dua kali sehari sebanyak 150 miligram untuk Paxlovid dan 100 miligram Ritonavir.

Namun, tidak semua negara termasuk dalam kesepakatan Pfizer dengan MPP. Di antara negara yang tidak masuk dalam persetujuan tersebut yakni Brazil, Argentina, Cina, Thailand, dan Rusia.

Negara-negara tersebut dianggap tidak mengalami penularan besar-besaran. Pihak dari organisasi amal seperti Doctors Without Borders atau Medecins Sans Frontieres (MSF) asal Perancis mengatakan hal tersebut mengecewakan.

“Kami kecewa melihat lagi-lagi adanya lisensi sukarela yang bersifat membatasi, sementara kasus di berbagai negara terus meningkat,” ujar Yuanqiong Hu, penasehat kebijakan hukum senior dari MSF Access Campaign. 

Advertisement

Penyumbang: Amartya Kejora

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait