Deret Jenderal Militer yang Dilirik Partai Politik Jelang Pilpres 2024

Kandidat berlatar belakang militer yang diperhitungkan dalam Pilpres 2024 di antaranya Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa
Image title
7 Februari 2022, 15:28
militer, Pilpres 2024
Biro pers, media, dan informasi Setpres
Jenderal TNI Andika Perkasa saat dilandtik sebagai Panglima TNI pada Rabu (17/11/2021).

Pemerintah dan DPR telah menyepakati jadwal Pemilu 2024 pada 14 Februari 2024. Ketetapan ini membuat partai politik bergerak mencari para kandidat untuk Pilpres 2024, di antaranya dari kalangan militer.

Parpol berasumsi masyarakat masih tertarik dengan calon pemimpin berlatar belakang militer atau Tentara Nasional Indonesia (TNI). Partai Keadilan Sejahtera (PKS) salah satu parpol yang menyatakan akan mengusung kombinasi sipil dan militer dalam Pilpres 2024.

Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Al Muzammil Yusuf mengatakan kandidat berlatar belakang militer yang diperhitungkan dalam Pilpres 2024 di antaranya Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa dan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo.

Muzammil menyebut mencuatnya beberapa nama dengan latar belakang militer merupakan hal wajar seiring kebutuhan aspek kemanan dan pertahanan dalam negeri. "Fenomena tersebut normal dan logis saja," ujar Muzammil kepada Katadata.co.id pada Senin (7/2).

Selain PKS, Partai Golkar juga membuka peluang bagi figur militer untuk maju menemani Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto dalam Pilpres 2024. Ketua DPP Partai Golkar Dave Laksono mengatakan sosok Andika Perkasa merupakan suatu paket yang menarik.

Menurut Dave sebagai Panglima TNI, Andika merupakan sosok yang sigap dalam menyikapi berbagai isu. Selain itu, Andika juga menjalin komunikasi yang baik dengan Komisi I Dewan Perwakilan Rakayat (DPR) selama menjabat sebagai Panglima TNI.

"Itu memang satu paket yang menarik, tapi kami tidak tergesa-gesa," ujar Dave beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Partai Gerindra masih konsisten akan mengusung Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dalam Pilpres 2024. Ketua Harian DPP Gerindra Sufmi Dasco Ahmad mengatakan sejauh ini terdapat desakan dari internal Gerindra yang kuat mendukung Prabowo maju dalam Pilpres.

Namun, Dasco mengatakan Partai Gerindra akan memutuskan nama capres melalui forum dalam internal Gerindra. "Kami akan menentukan apakah Pak Prabowo akan maju atau kemudian ada calon lain," ujar Dasco di Kompleks Parlemen pada Senin (7/2).

Berikut daftar tokoh jenderal militer yang muncul dalam bursa Pilpres 2024:

1. Andika Perkasa

Jenderal TNI Andika Perkasa merupakan lulusan Akademi Militer tahun 1987 yang sebelum menjadi Panglima TNI pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Sebelumnya ia juga pernah menduduki jabatan Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).

Andika Perkasa mengawali kariernya sebagai perwira pertama infanteri di jajaran korps baret merah (Kopassus) Grup 2 selama 12 tahun. Setelah mendapatkan penugasan di Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam) serta Mabes TNI-AD, kembali bertugas di Kopassus sebagai Komandan Batalyon 32/Apta Sandhi Prayuda Utama.

Advertisement

Nama Andika mulai muncul ke publik saat menjadi Kepala Dinas Penerangan TNI-AD dengan pangkat Brigadir Jenderal (Brigjen) pada 2013. Saat Presiden Joko Widodo naik tampuk kekuasaan di 2014, Andika ikut ke Istana sebagai Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Danpaspampres).

Pada 2016, Andika menduduki jabatan Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XII Tanjungpura, Kalimantan Barat dengan pangkat Mayor Jenderal. Dua tahun kemudian, Andika naik pangkat menjadi Letnan Jenderal dan menjadi Komandan Komando Pembina Doktrin Pendidikan dan Latihan Angkatan Darat (Dankodiklat) sebelum akhirnya menjadi Pangkostrad. Ia kemudian resmi menjabat sebagai KSAD pada 22 November 2018 sebelum akhirnya menjadi Panglima TNI pada 17 November 2021.

2. Prabowo Subianto

Prabowo merupakan lulusan Akademi Militer di Magelang. Ia mengawali karier militernya di TNI Angkatan Darat pada tahun 1974 sebagai seorang Letnan Dua.

Prabowo menghabiskan karier militernya di Komando Pasukan Khusus atau Kopassus yang merupakan satuan elite TNI. Ia mulai menjabat dari Komandan Pleton hingga menjadi Komandan Jenderal Kopassus dengan pangkat Mayor Jenderal.

Nama Prabowo melambung setelah melakukan beberapa operasi militer seperti pembebasan sandera di Papua dan Timor-timur dan menjadi jenderal termuda yang meraih bintang tiga atau Letnan Jenderal (Letjen) pada usia 46 tahun.

Prabowo sempat dikaitkan dengan kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) lantaran diduga terlibat dalam kasus penculikan aktivis, penembakan mahasiswa Trisakti hingga pemicu kerusuhan Mei 1998.

Hasil investigasi Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) menyebut Prabowo terlibat dalam kasus penculikan aktivis. Kemudian Prabowo dipecat dari militer. Dia lantas terbang ke Amman, Yordania pada Mei 1998 dan kembali ke Indonesia pada November 2001.

Pada 2008, Prabowo  membentuk Partai Gerakan Indonesia Raya atau Partai Gerindra dengan menggandeng Hashim Djojohadikusumo, Fadli Zon, Muchdi Purwoprandjono, dan beberapa nama lainnya. Saat ini ia menjabat sebagai Ketua Umum Partai Gerindra sejak 2014.

Prabowo memiliki ambisi menjadi pemimpin RI. Dia sudah tiga kali maju dalam gelaran Pilpres mulai 2009 hingga 2019. Pertama kali maju pada Pilpres 2009 menjadi cawapres mendampingi Megawati Soekarnopoetri. Namun, kalah dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono dalam satu putaran.

Prabowo kemudian maju dalam Pilpres 2014 bergandengan dengan Hatta Rajasa. Namun, ia kalah dari pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Pada 2019, Prabowo berpasangan dengan Sandiaga Uno. Kedua pasangan ini kalah dari Jokowi-Ma'aruf Amin.

3. Gatot Nurmantyo

Gatot merupakan lulusan Akademi Militer angkatan 1982 yang mengawali karier militernya di pasukan infanteri baret hijau Kostrad. Ia menjalani tugas mulai dari penguasaan teritorial, pasukan dan pendidikan di lingkungan Angkatan Darat.

Gatot kemudian dikirim ke Papua sebagai Komandan Kodim dan pada 2010 ia dilantik sebagai Gubernur Akademi Militer. Setelah satu tahun menjadi Gubernur Akmil ia diangkat menjadi Pangdam Brawijaya menggantikan Mayor Jenderal TNI Suwarno.

Pada 2013 ia dilantik sebagai Pangkostrad menggantikan Letnan Jenderal TNI Muhammad Munir. Satu tahun setelahnya ia kembali naik jabatan dengan diangkat menjadi KSAD oleh Presiden SBY pada 2014.

Karier militernya berada dipuncak setelah ditunjuk sebagai Panglima TNI menggantikan Jenderal Moeldoko oleh Presiden Jokowi pada 2015.

Selama menjabat sebagai Panglima TNI, Gatot mendapat sorotan. Dia di antaranya memerintahkan anak buahnya menggelar nonton bersama film G30S. Dia juga sering melempar wacana mengenai kebangkitan PKI.

Pada 2017, Jokowi mencopot Gatot sekitar empat bulan sebelum masa pensiunnya berakhir. Dia digantikan oleh Marsekal Hadi Tjahjanto.

Belakangan, Gatot Nurmantyo menggugat syarat ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold) menjadi 0% ke Mahkamah Konstitusi.

 

Reporter: Nuhansa Mikrefin
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait