Dongkrak Harga CPO, DMO Jadi Instrumen RI Kendalikan Pasar Global

Lutfi berharap kemampuan RI mengendalikan harga CPO juga diikuti oleh komoditas lainnya seperti nikel, bauksit.
Image title
10 Maret 2022, 14:44
CPO, DMO, kemendag
Kementerian Perdagangan
Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi memimpin kegiatan Apel Pagi yang berlangsung di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta.

Kebijakan pemerintah yang menerapkan kewajiban memasok pasar domestik (DMO) membuat harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar internasional melonjak. Menteri Perdagangan Muhamad Lutfi menyatakan setelah pemerintah mengumumkan kebijakan DMO 30%, harga CPO naik dan dua kali disuspensi atau dihentikan sementara di bursa berjangka.

"Naik 10% disuspensi naik lagi 10%, ini menunjukkan bahwa kita bisa mendikte dunia,” kata Lutfi saat membuka rapat kerja (Raker) Kementerian Perdagangan, Bali, Kamis (10/3).

Lutfi mengatakan harga CPO pada akhir Januari 2022 sebenernya mengendor. Namun, penerapan DMO sejak 14 Februari 2022 membuat harga CPO secara tahun berjalan naik hampir 30%. Dia berharap kemampuan mengendalikan harga CPO juga diikuti oleh komoditas lainnya.

"Barang-barang (yang harganya bisa kita kendalikan) ini bukan hanya kelapa sawit, tapi nikel di masa mendatang. Mudah-mudahan diikuti bauksit dan bahan turunannya yang akan jadi penting di masa depan," kata Lutfi.

Advertisement

Berdasarkan data Kemendag, harga CPO nasional (FoB Dumai) telah tumbuh 32,22% secara tahun berjalan dari posisi akhir 2021 senilai Rp 12.041 per liter. Di samping itu, harga CPO Malaysia di pasar internasional per Maret 2022 telah tumbuh 47,51% secara tahun berjalan menjadi Rp 22.324 per liter dari posisi akhir 2021 senilai Rp 15.133 per liter.

Lutfi mengarahkan agar Kemendag dapat memastikan barang besutan dalam negeri dapat jadi pilar perekonomian dunia. Namun demikian, harga komoditas itu tidak boleh ditentukan pasar internasional.

Oleh karena itu Lutfi mengajak pelaku industri dan pelaku pasar untuk saling bekerja sama dengan Kemendag. Hal ini dinilai penting dalam agar dapat mengatur harga komoditas tertentu di dalam dan luar negeri.

Lutfi mencontohkan salah satu pengendalian harga yang dilakukan adalah pada harga CPO dunia dan minyak goreng (migor) di dalam negeri. Menurutnya, DMO telah berhasil menaikkan harga CPO internasional, sedangkan aturan kewajiban harga domestik (DPO) dapat menjaga harga migor lokal tetap terjangkau.

Dari data Kemendag, harga CPO nasional di pasar ekspor (FoB Dumai) mulai tumbuh sejak Juni 2020. Adapun, harga CPO nasional (FoB Dumai) terakhir kali turun pada Desember 2021 di posisi Rp 12.041 per liter.

Pada 14 Februari 2022, angka itu telah naik ke titik Rp 14.750 per liter saat kebijakan kewajiban pasar domestik (DMO) pertama kali dipatuhi oleh pelaku industri CPO. Harga CPO nasional (FoB Dumai) bahkan sempat menyentuh Rp 18.250 per liter pada 1 Maret 2022 sebelum akhirnya turun tipis ke level Rp 17.651 per liter pada 8 Maret 2022.

Pertumbuhan harga CPO sejajar dengan pertumbuhan harga minyak goreng(migor) curah maupun kemasan sejak Juni 2021. Namun demikian, harga migor mulai menunjukkan pelemahan sejak Januari 2022 di titik Rp 17.752 per liter untuk migor curah dan Rp 20.406 untuk migor kemasan.

Pada Maret 2022, harga migor kemasan turun ke titik Rp 16.555 per liter. Adapun, harga migor curah telah susut ke posisi Rp 15.921 per liter atau hampir sama dengan harga CPO nasional (FoB Dumai) di level Rp 15.525 per liter.

Di sisi lain, Lutfi mengatakan akan memastikan stabilitas harga bahan pokok dan penting di dalam negeri. Selain migor, komoditas lain yang dimaksud Lutfi adalah kedelai.

Lutfi mencatat produk turunan kedelai seperti tahu dan tempe menjadi sumber protein tertinggi dalam pola makan masyarakat. Namun demikian, 90% kedelai yang dikonsumsi masih berasal dari pasar internasional.

"Dan (harga) kacang kedelai jadi luar biasa (tinggi) karena gangguan cuaca, harganya jadi record breaking tahun ini," kata Lutfi.

 

Reporter: Andi M. Arief
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait