Jokowi Disebut Mulai Panik karena Harga Pupuk Meroket dan Butuh Rp13 T

Ruang gerak Kementan untuk memenuhi kebutuhan pupuk bersubsidi terbatas karena anggarannya dipotong untuk mendukung penanganan Covid-19 di dalam negeri.
Image title
22 Maret 2022, 20:40
pupuk, pangan
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (kiri) didampingi Direktur Utama PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Tri Wahyudi (kanan) dan pejabat lainnya saat meninjau gudang penyimpanan pupuk milik PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (28/5/2021).

Harga pupuk diperkirakan bakal melonjak pada kuartal II-2022. Kenaikan harga pupuk ini membuat pemerintah kesulitan memenuhi target kebutuhan pupuk bersubsidi karena keterbatasan anggaran pemerintah.

Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat volume pupuk bersubsidi yang bisa ditopang pemerintah tidak lebih dari 9 juta ton atau senilai Rp 25,27 triliun. Adapun Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) pupuk bersubsidi tahun ini adalah 24,3 juta ton.

"Saya sudah bicara dengan Presiden. Saya katakan ini (kebutuhan pupuk nasional) tidak bisa (dari anggaran negara), saya kekurangan Rp 13 triliun. Presiden juga panik banget," kata Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR, Selasa (22/3).

Untuk mengatasi persoalan ini, Yasin mengarahkan petani menggunakan kredit usaha rakyat (KUR) untuk membeli pupuk. Ruang gerak Kementan terbatas karena anggarannya dipotong untuk mendukung penanganan Covid-19 di dalam negeri.

Advertisement

Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI) menyatakan ketersediaan pupuk di dalam negeri pada semester I-2022 masih tinggi. APPI mencatat stok pupuk bersubsidi per 7 Januari 2022 mencapai 130% dari ketentuan stok minimum.

Secara rinci, total volume pupuk urea pada gudang di setiap kabupaten/kota mencapai 338,12 ribu ton, dan pupuk NPK mencapai 213,78 ribu ton. Secara total, ada 722,45 ribu ton pupuk di dalam negeri.

Sekretaris Jenderal APPI Achmad Tossin Sutawikara mengatakan harga pupuk pada kuartal I-2022 masih normal. Namun, harga pupuk akan naik 20%-30% sejak April 2022.

Penyebabnya bahan baku pupuk selama ini dipasok dari pasar impor, terdiri dari urea (N), rock phosphate (P), dan potassium klorida (KCl).

Harga urea di pasar global telah naik mencapai 75% dari kondisi normal. Kebutuhan pupuk urea nasional dapat dipasok dari PT Pupuk Indonesia.

Produsen pupuk di dalam negeri masih bergantung kepada tiga negara untuk mendapatkan P dan K, yakni Belarusia, Jerman, dan Kanada. Tossin menyebutkan harga dari Belarusia melonjak karena ancaman keamanan dari perang Rusia-Ukraina.

Sementara itu harga dari Jerman dan Kanada naik karena tingginya biaya transportasi akibat kelangkaan kontainer. "Harga memang pasti naik, tapi yang dikhawatirkan terjadinya (penurunan) ketersediaan," kata Tossin.

Oleh karena itu, Tossin mengatakan pabrikan pupuk saat ini sedang menjajaki beberapa negara pemasok P dan K lain untuk menggantikan pasokan dari ketiga negara tersebut. Sejauh ini, negara yang sedang dijajaki adalah Selandia Baru dan Laos.

Akan tetapi, Tossin menyebutkan P dan K dari kedua negara tersebut tidak sesuai dengan kualitas yang dibutuhkan pabrikan pupuk domestik.

Di sisi lain, Tossin juga menyiapkan pabrikan pupuk untuk menghadapi skenario terburuk, yakni peningkatan permintaan pupuk dari Cina. Tossin mencatat pabrikan urea di Negeri Panda cukup banyak, tapi kebutuhan pupuk di sana lebih banyak dari produksinya.

"Tiba-tiba dia (Cina) minta (pupuk) di atas harga pasar (pada thaun ini). Kalau harga Cina sudah tinggi, (konsumen bahan baku pupuk) yang lain kalau mau (pesan) harus dengan harga mereka (Cina)," kata Tossin.

Adapun Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Achmad Bakir Pasaman mendata ketersediaan pupuk di dalam negeri masih lebih dari ketentuan minimum. Secara rinci, stok pupuk urea mencapai 179% dari ketentuan minimum, sedangkan pupuk NPK sekitar 150%.

Di samping itu, ketersediaan pupuk non subsidi juga berada di atas 100%, seperti SP36 (177%), ZA (108%) dan organik (110%). Namun, Achmad mengatakan pihaknya harus mengurangi kapasitas produksinya untuk mengatasi tingginya harga bahan baku di pasar internasional.

"Sebenarnya kemampuan (produksi) kami 2,5 juta ton. Kami terpaksa mengkonversikan pabrik NPK jadi (pabrik) bahan baku NPK, sehingga produksi turun (menjadi) 2,4-2,6 juta ton," kata Achmad.

Adapun, Achmad menargetkan untuk dapat mengendalikan harga pupuk non subsidi pada tahun ini. Strategi yang dilakukan adalah mendirikan seribu kios di dekat lahan pertanian.

Reporter: Andi M. Arief
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait