Usai Dikritik Zelensky, Nestle Beberkan Alasan Bertahan di Rusia

Nestle mengatakan berhenti mengimpor Nespresso dan produk lainnya ke Rusia, kecuali barang-barang penting termasuk makanan bayi, sereal, nutrisi khusus dan makanan hewan terapeutik.
Yuliawati
23 Maret 2022, 15:59
Nestle, Rusia, Ukraina
Milo.co.id
Ilustrasi produk Nestle, Milo.

Perusahaan makanan asal Swis, Nestle, mendapat kritikan dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky karena memilih bertahan di Rusia. Beberapa perusahaan besar memilih meninggalkan Rusia sebagai solidaritas mengecam invansi yang dilakukan Rusia.

Zelensky mempertanyakan tindakan Nestle di tengah ancaman nuklir Rusia kepada Ukraina dan negara-negara Eropa lainnya. "Makanan enak. Hidup enak.' Ini adalah slogan Nestlé. Perusahaan Anda yang menolak meninggalkan Rusia," kata Zelensky, Sabtu, dalam pidatonya kepada rakyat Swiss.

Nestlé (NSRGF) yang merupakan pembuat makanan dan minuman terbesar di dunia dengan beragam merek seperti coklat KitKat, membela diri atas kritikan Zelensky tersebut. Mereka mengatakan telah mengurangi secara signifikan kegiatan di Rusia.

"Kami telah menghentikan semua impor dan ekspor dari Rusia, kecuali untuk produk-produk penting," kata juru bicara Nestlé dalam sebuah pernyataan kepada CNN.com, dikutip Rabu (23/3). "Kami tidak lagi melakukan investasi atau mengiklankan produk kami. Kami tidak mengambil keuntungan dari sisa aktivitas kami."

Advertisement

Perusahaan mengumumkan pada 11 Maret bahwa mereka menghentikan ekspor produknya dari Rusia kecuali untuk barang-barang penting seperti makanan bayi. Nestlé juga mengatakan berhenti mengimpor Nespresso dan produk lainnya ke Rusia, kecuali barang-barang penting termasuk makanan bayi, sereal, nutrisi khusus dan makanan hewan terapeutik.

Nestle megatakan mereka juga aktif mengirimkan bantuan untuk Ukraina. "Kami masih salah satu dari sedikit perusahaan makanan yang aktif di Ukraina dan kadang-kadang bahkan berhasil mendistribusikan makanan di Kharkiv," kota terbesar kedua di Ukraina, yang saat ini dikepung.

Nestlé saat ini mempekerjakan lebih dari 7.000 pekerja di Rusia, yang sebagian besar adalah penduduk lokal. Sebelumnya, Perdana Menteri Ukraina Denys Shmyhal mengkritik CEO Nestlé Mark Schneider atas kehadiran perusahaan yang berkelanjutan di Rusia.

"Membayar pajak untuk anggaran negara teroris berarti membunuh anak-anak dan ibu yang tak berdaya. Berharap Nestlé akan segera berubah pikiran."

 

 

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait