Harga Minyak Meroket US$ 113 per Barel Usai Cina Akhiri Lockdown

Kabar pemerintah Cina yang mulai melonggarkan melonggarkan lockdown membuat harga minyak melonjak.
Image title
17 Mei 2022, 12:56
minyak, cina
ANTARA FOTO/REUTERS/Yoruk Isik/HP/dj
Kapal tanker minyak berbendara Rusia, Pegas, terlihat di pelabuhan di Marmara Ereglisi, bagian barat Turki, 16 Januari 2022.

Harga minyak mentah dunia melonjak mencapai US$ 113 per barel seiring  rencana berakhirnya lockdown atau karantina di Cina. Mengutip laporan harian Bloomberg, harga minyak mentah jenis Brent pada Selasa (17/5) siang berada di level US$ 113,9 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI diperdagangkan pada US$ 113,75 per barel.

Pihak berwenang di Shanghai pada hari Senin (16/5) kemarin mengatakan kebijakan lockdown akan berkurang secara bertahap seiring turunnya kasus Covid-19.  Lockdown yang diterapkan hampir selama enam minggu ini mengguncang ekonomi Cina dan mengganggu rantai pasokan minyak global.

Pada 1 Juni, Shanghai dijadwalkan untuk mengakhiri kebijakan lockdown dengan pelonggaran bertahap yang dimulai sejak 21 Mei. Wakil Walikota Shanghai, Zong Ming, mengatakan pihaknya akan mulai melakukan percobaan untuk mengakhiri kebijakan lockdown selama 1 bulan, sembari memantau  infeksi Covid-19.

"Kami akan sepenuhnya menerapkan pencegahan dan pengendalian epidemi, menormalkan manajemen, dan sepenuhnya memulihkan produksi dan kehidupan normal di kota Shanghai,” kata Zong Ming sebagaimana diberitakan oleh The Guardian pada Senin (16/5).

Advertisement

Lockdown di Cina membuat harga minyak turun dan data ekonomi Cina melemah. Pada Senin, Cina menerbitkan data ekonomi resmi, menunjukkan perlambatan yang signifikan, dengan output industri turun hampir 3% tahun-ke-tahun (YOY) di bulan April, dan penjualan ritel turun sekitar 11%.

Volume pelabuhan Shanghai juga turun 40%. Semua ini menyebabkan penurunan permintaan minyak yang keluar dari Cina.

Dikutip dari oilprice.com pada Senin (16/5), menunjukkan data baru dari Inisiatif Data Organisasi Gabungan (JODI) yang berbasis di Arab Saudi, permintaan minyak global melampaui tingkat pra-pandemi pada Maret, sebesar 101%, meskipun ada penurunan permintaan Cina.

Namun, laporan tersebut mencatat bahwa produksi minyak mentah berada pada 97% dari capaian sebelum pandemi Covid-19. Data ini didasarkan pada pengajuan yang menyumbang 70% dari permintaan minyak global dan 55% dari produksi minyak mentah global.

 

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait