Ahli IT Dorong Pemerintah Buat Sistem Database Mitigasi Virus Corona

Di Tiongkok, beberapa perusahaan teknologi mengandalkan AI untuk analisis data virus corona.
Image title
5 Maret 2020, 05:00
virus corona, virus korona
ANTARA FOTO/Fikri Yusuf
Petugas memeriksa Health Alert Card atau Kartu Kewaspadaan Kesehatan di Terminal Kedatangan Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Senin (2/3/2020).

Ahli Informatika dan Teknologi menyarankan pemerintah mengembangkan situs atau aplikasi yang dapat mengolah database perjalanan pasien virus corona. Tujuannya untuk memitigasi penyebaran virus corona.

Peneliti Keamanan Siber Communication Information System Security Research Center (CISSReC) Pratama Persadha mengatakan sistem database seperti itu membuat masyarakat mengetahui lokasi penyebaran virus corona.

"Sehingga masyarakat dapat melakukan pencegahan dini," kata Pratama kepada Katadata.co.id, Rabu (4/3).

(Baca: Jurus Google Basmi Hoaks Corona: Gaet Kemenkes dan Algoritma Khusus)

Advertisement

Pratama mengatakan, masyarakat yang mengalami gejala virus corona dan pernah berinteraksi atau mengunjungi lokasi tempat penyebaran corona, dapat memeriksakan diri di rumah sakit.

"Sistem database pengidap corona perlu dikembangkan agar masyarakat mengetahui apakah pernah berinteraksi sepanjang masa inkubasi virus," kata dia.

Ia mengatakan, pengembangan database bukan untuk membangun rasa takut masyarakat, namun lebih pada upaya melawan virus. Database itu juga dapat dikembangkan menggunakan artificial intelligence (AI) di sebuah situs maupun aplikasi. Sehingga, pemerintah bisa mengembangkan sistem ini secara terpadu.

(Baca: 5 Cara Alibaba Antisipasi Dampak Virus Corona ke Transaksi E-Commerce)

Spesialis Keamanan Teknologi Vaksincom Alfons Tanujaya mengatakan, selain teknologi pengembangan database, yang menjadi kunci penanganan virus corona yaitu komunikasi antar instansi pemerintahan. Menurutnya, antar instansi harusnya mengesampingkan kepentingan sektornya masing-masing atau kepentingan bisnis.

Selain dengan pemanfaatan sistem database baru, menurutnya pemanfaatan teknologi yang sudah ada juga bisa dilakukan. Ia mencontohkan pemanfaatan data di Google Maps dari ponsel, akan terlihat sejarah perjalanan seseorang. "Kalau mau tahu dia bertemu siapa saja mungkin datanya bisa disilangkan dengan data provider telekomunikasi," kata Alfons kepada Katadata.co.id, Selasa (4/3).

Di Tiongkok, beberapa perusahaan teknologi mengandalkan AI untuk analisis data virus corona. Seperti dilansir BBC, raksasa e-commerce Tiongkok Alibaba mengandalkan AI untuk sistem diagnosis yang diberdayakan dan mengklaim dapat mengidentifikasi infeksi coronavirus dengan akurasi 96%.

Begitu juga dengan perusahaan internet Tiongkok Qihoo 360 yang bekerja sama dengan NoSugar Tech kenalkan platform yang memungkinkan pengguna periksa perjalanan dan data interaksi dengan seseorang yang baru terkena virus corona.

Seperti dilansir Tech In Asia, NoSugar Tech mengkompilasi dan memverifikasi data publik secara manual dari sumber-sumber seperti stasiun televisi pemerintah Tiongkok. Mereka masukan data ke dalam platform, digabungkan dengan AI Qihoo 360 dan teknologi big data untuk memastikan bahwa informasi tersebut diperbarui dan dapat diandalkan.

(Baca: Tiongkok Pakai Drone, Begini Cara E-Commerce RI Tangkal Virus Corona)

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait