Perbankan Raih Keuntungan dengan Menggandeng Fintech Pembayaran

Bank dan fintech yang berkolaborasi sama-sama merasakan manfaat memperluas layanan untuk pelanggan.
Image title
13 November 2020, 20:59
kolaborasi, bank, fintech, BNI,
dok. BNI
Kegiatan di BNI di masa pandemi.

Perbankan dan perusahaan teknologi finansial (fintech) gencar berkolaborasi di masa pandemi. Salah satunya PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) yang menggandeng fintech pembayaran Xendit.

Kolaborasi antara BNI dan Xendit membuat perusahaan dapat memperluas dan meningkatkan layanan keuangan ke lebih banyak pengguna. Senior Vice President IT Solution and Development BNI Heri Atmoko mengatakan kolaborasi dua perusahaan membuat mereka dapat menjangkau Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang jumlahnya di Indonesia mencapai 64 juta.

"Indonesia kan sangat luas, untuk menjangkau satu per satu UMKM dan satu per satu area, pasti besar sekali biayanya," ujar Heri dalam acara Fintech Media Clinic pada Jumat (13/11).

Dengan menggandeng fintech, BNI mendapatkan jembatan yang dapat menghubungkan kepada lebih banyak UMKM. Biaya penetrasi pun dapat dipangkas. "Dari sisi biaya, berkolaborasi dengan fintech lebih murah, penetrasi bisnisnya lebih mudah," kata Heri.

Meski tak menyebutkan persentase pemangkasan biaya hasil kolaborasi itu, Heri menyatakan volume biaya pemangkasan penetrasi itu cukup besar. Keuntungan lain yang didapatkan oleh BNI dari kolaborasinya dengan fintech adalah peningkatan pengguna. "Produk bank bisa digunakan melalui ekosistem lain secara masif," ujar Heri.



Fintech pun merasakan manfaat kolaborasi dengan bank membuat mereka memberikan kemudahan layanan pada pelanggannya. "Keuntungan menggunakan lapisan infrastruktur bank dapat memudahkan kami, misalkan, cara terhubung dengan ATM," kata COO & Co-Founder Xendit Tessa Wijaya.

Xendit merupakan perusahaan fintech pembayaran yang melayani integrasi pembayaran UMKM hingga platform digital lainnya, seperti e-commerce. Tessa mengatakan, perusahaan yang berdiri pada 2016 ini mengintegrasikan layanan pengguna dengan bank melalui Open API.

Menanti Standardisasi Open API

Sejak dua tahun lalu, BNI gencar menyasar potensi bisnis digital melalui kolaborasinya dengan beragam ekosistem, termasuk fintech.  Hingga kini, BNI sudah berkolaborasi dengan 300 entitas mulai dari fintech, e-commerce, dan startup di sektor lainnya.

BNI berkolaborasi dengan fintech melalui Open Application Programming Interface (API). Melalui Open API, BNI dapat mengintegrasikan berbagai layanannya ke platform teknologi lain. Saat ini, ada 70 entitas lainnya yang sedang antre untuk mengintegrasikan layanan mereka ke BNI.

Dalam proses kolaborasi Heri merasakan pentingnya ada regulasi khusus sehingga ada pemahaman yang sama dari kedua sektor dalam menginterpretasikan layanannya. Regulasi juga diperlukan guna menjaga keamanan data yang terintegrasi antara bank dan fintech.

Saat ini Bank Indonesia (BI) sedang menyiapkan standardisasi Open API untuk mendorong kolaborasi antara bank dan lembaga  nonbank seperti fintech. Open API merupakan aplikasi pemrograman yang memungkinkan perusahaan melakukan integrasi antar-sistem atau system to system.

Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Erwin Haryono mengatakan, akan ada perjanjian kerja sama, dan kode etik terstandar yang dilakukan perbankan dengan fintech ketika sudah mengadopsi standar Open API. "Kami ingin transformasi digital di Indonesia lebih terintegrasi. Open API membuat bank dan fintech bisa berkolaborasi terkait data," kata Erwin pada Juli lalu.

Tren Kolaborasi Fintech dan Bank

Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Adrian Gunadi mengatakan fintech perlu berkolaborasi dengan perbankan untuk memperluas penggunaan layanan. Perusahaan bisa memanfaatkan jaringan dan basis konsumen yang ada di perbankan.

Sementara perbankan bisa memanfaatkan kemampuan teknologi dan data yang dimiliki oleh fintech. Sektor fintech lending misalnya, sudah mempunyai pusat data atau Fintech Data Center (FDC) yang menjaring data 26 juta peminjam.

Tercatat, beberapa perusahaan fintech lending gencar berkolaborasi dengan perbankan, misalnya, Modal Rakyat berkolaborasi dengan BRI. BRI berkomitmen menyalurkan pembiayaan hingga Rp 30 miliar untuk UMKM melalui Modal Rakyat. Penyaluran pinjaman dari BRI itu akan diutamakan untuk pelaku usaha kecil dan menengah. Besaran kreditnya rerata Rp 250 juta.

Kemudian, Investree berkolaborasi dengan Bank Mandiri untuk menyalurkan pinjaman dalam rangka Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Kemitraan ini berlangsung selama Juli hingga September lalu.

Skema kerja sama itu channeling, yang artinya Investree menjadi perpanjangan tangan Bank Mandiri untuk menyalurkan pembiayaan. Badan usaha milik negara (BUMN) ini pun berhak menentukan penerima pinjamannya.

Bank Mandiri juga bisa memanfaatkan teknologi penilaian kredit (credit scoring) milik Investree. Ini dapat membantu perusahaan memetakan UMKM mana yang cocok untuk diberikan pinjaman, sekaligus mengukur risiko kreditnya.

UangTeman juga berkolaborasi dengan Bank Sampoerna. Dengan kolaborasi itu, Bank Sampoerna menjadi pemberi pinjaman (lender) institusi di platform UangTeman. Kolaborasi ini ditujukan untuk memperkuat penyaluran pembiayaan ke sektor produktif, khususnya UMKM.

Menteri Keuangan periode 2013-2014 Chatib Basri juga menyebut, fintech harus gencar berkolaborasi dengan berbagai ekosistem, termasuk perbankan agar layanannya semakin masif digunakan di daerah.

Sebab, saat ini menurutnya infrastuktur digital masih timpang yang membuat penetrasi fintech di Indonesia tidak merata.  "Satu hal kunci pemulihan ekonomi yaitu dengan teknologi, tapi ini mahal dan tidak tersedia bagi semua orang," ujar Chatib dalam acara Indonesia Fintech Summit 2020 pada Kamis(12/11).



Survei dari Katadata Insight Center (KIC) menunjukkan, bahwa 24,1% hingga 30% responden 1.155 responden menyatakan di daerahnya, belum ada jasa fintech pembayaran atau dompet digital (e-wallet). Selain itu, 90,4% lebih sering menggunakan uang tunai saat bertransaksi.

Sebanyak 42,9% tinggal di daerah urban, sementara sisanya di rural atau perdesaan. Separuh lebih dari responden berusia 23-38 tahun. Kemudian, 25,8% berumur 39-54 tahun, dan 20,7% berusia 15-22 tahun. Sedangkan sisanya baby boomer atau rentang 55-65 tahun.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Editor: Yuliawati

Video Pilihan

Artikel Terkait