Softbank Investasi Rp 66,9 T untuk Dorong Kompetisi Merger Yahoo-Line

Merger Yahoo dan Line untuk menyaingi Google hingga Facebook.
Image title
Oleh Fahmi Ahmad Burhan
2 Maret 2021, 11:12
Softbank, Yahoo, LINE
Yahoo/Facebook
Merger Yahoo dan Line untuk bersaing dengan raksasa teknologi Amerika Serikat (AS) maupun Tiongkok.

SoftBank Corp. melalui anak usahanya Yahoo! Japan Corporation yang telah berganti nama menjadi Z Holding menggabungkan Yahoo dengan aplikasi perpesanan Line Corp pada Senin (1/3). Untuk penggabungan itu, Z Holding menyuntikkan dana sebesar 500 miliar yen atau US$ 4,7 miliar (Rp 66,9 triliun).

Presiden dan Co-CEO Z Holding Kentaro Kawabe mengatakan, penggabungan Yahoo dan Line bertujuan untuk memperluas layanan digital keduanya secara global agar bisa bersaing dengan raksasa teknologi Amerika Serikat (AS) maupun Tiongkok.

Sebab, selama ini perusahaan asal Jepang itu telah mengalami kesenjangan dengan raksasa teknologi global seperti Google, Amazon, Facebook, hingga Apple atau biasa disebut GAFA. "Pada tingkat global, kesenjangan kami dengan GAFA meningkat selama virus corona," kata Kentaro dikutip dari Nikkei Asian Review pada Senin (1/3). "Tapi di Jepang, layanan kami lebih populer." 

Di bawah struktur baru, SoftBank Corp. dan induk Line dari Korea Selatan yaitu Naver Corp. akan memegang masing-masing 50% saham. Penggabungan Yahoo dan Line menghasilkan entitas bisnis baru bernama A Holding Corp.

Entitas gabungan itu berencana akan meluncurkan layanan baru dan menciptakan sinergi dalam bisnis seperti periklanan online. Setelah merger, entitas gabungan juga akan mempekerjakan 5.000 insinyur kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) selama lima tahun.

"Kami juga ingin meluncurkan aplikasi seluler untuk cakupan global masa depan," kata Co-CEO Z Holding Takeshi Idezawa dikutip dari Kyodo News pada Senin (1/3).

Selain itu, Z Holding juga telah memulai pembicaraan internal untuk mengintegrasikan layanan pembayaran digital milik SoftBank, PayPay dan Line Pay pada 2022 nanti.

Sedangkan di Jepang, Idezawa mengatakan entitas gabungan berencana meluncurkan layanan teknologi kesehatan (healthtech) seperti pengobatan jarak jauh (telemedicine) dan pengiriman obat melalui aplikasi Line. Layanan itu rencananya akan diluncurkan Maret tahun depan.

Entitas gabungan tersebut ditargetkan bisa menghasilkan pendapatan sebesar 2 triliun yen dan laba operasional sebesar 225 miliar yen pada tahun fiskal 2023.

Entitas gabungan juga diperkirakan akan menggaet 150 juta pengguna di Jepang dan menjadikannya sebagai perusahaan teknologi terbesar di Negeri Sakura itu.

Secara global, penggabungan kedua perusahaan juga akan menghasilkan lebih dari 300 juta pengguna untuk berbagai layanan, mulai dari perpesanan, berita online, dan layanan keuangan.

Perusahaan hasil merger Yahoo Japan dan Line diperkirakan akan memiliki valuasi US$ 30 miliar atau sekitar Rp 420 triliun.

Analis di Morningstar Kazunori Ito mengatakan, apabila integrasi berbagai layanan itu berhasil maka entitas gabungan Yahoo dan Line akan menjadi ancaman bagi Google hingga Facebook. "Seberapa cepat mereka dapat menciptakan rasa persatuan dalam berbagai merek akan menjadi kuncinya," katanya.

Serial entrepreneur asal Korea Selatan, Jaewoong Lee mengatakan, merger tersebut dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan politik antara Jepang dan Korea Selatan. "Merger tersebut mungkin merupakan kerja sama ekonomi paling signifikan antara kedua negara dalam satu dekade terakhir,” ujar Lee dikutip dari Reuters, tahun lalu (18/11/2020).

Di sisi lain, rencana merger ini muncul sebagai upaya pendiri SoftBank, Masayoshi Son, untuk memulihkan reputasinya setelah investasinya di perusahaan office sharing, WeWork pada 2019, merugi hingga miliaran dolar AS.

Rencana merger tersebut juga dipicu oleh Rakuten yang mulai berekspansi ke bidang yang menjadi core business SoftBank, dengan meluncurkan layanan mobile.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Editor: Yuliawati
Video Pilihan

Artikel Terkait