Shopee Gaet 180 Ribu UMKM Lokal untuk Ekspor ke Lima Negara

Sejak pandemi Covid-19 pada tahun lalu, permintaan ekspor untuk produk UMKM lokal cukup tinggi.
Image title
1 April 2021, 17:45
shopee, impor, UMKM
shopee
Platform Shopee memudahkan UMKM ekspor ke lima negara.

Perusahaan e-commerce Shopee telah menggaet 180 ribu usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal untuk mengekspor jutaan produk lewat kanal Kreasi Kreasi Nusantara dari Lokal untuk Global. Produk UMKM itu bakal diekspor ke lima negara tujuan.

Head of Public Policy and Government Relations Shopee Radityo Triatmojo mengatakan sejak pandemi Covid-19 pada tahun lalu, permintaan ekspor untuk produk UMKM lokal cukup tinggi. Radityo mengatakan Shopee pun gencar menggaet UMKM lokal dan memperluas pasar tujuan ekspor luar negeri.

Pertumbuhan jumlah UMKM yang mengekspor produknya lewat Shopee cukup pesat.  "Hingga saat ini, sudah ada 180 ribu UMKM lokal dengan 1,5 juga produk yang dipasarkan di lima negara," kata Radityo dalam acara webinar bertajuk 'Wujudkan 500.000 Eksportir Baru Bersama Shopee dan Sekolah Ekspor', pada Kamis (1/4).

Padahal, per Agustus 2020 lalu, hanya sebanyak 20 ribu UMKM saja yang telah mengekspor produknya melalui Shopee. Sedangkan, pada 2019 saat memulai program ekspor, Shopee hanya melibatkan 10 UMKM binaan platformnya dan hanya ada ribuan produk pada pilot project program itu.

Tahun lalu juga, perusahaan menambah dua negara tujuan ekspor, yakni Thailand dan Vietnam untuk memperluas cakupan pasar UMKM ekspor. Hingga saat ini, total ada lima pasar ekspor produk UMKM lokal melalui Shopee, selain Thailand dan Vietnam, ada juga Malaysia, Singapura, dan Filipina.

Radityo mengatakan, Shopee tidak hanya memfasilitasi ekspor lewat kanal Kreasi Kreasi Nusantara dari Lokal untuk Global, tapi juga memberikan pendampingan pada UMKM binaan.

Dalam memberikan pendampingan, Shopee bekerja sama dengan berbagai kementerian dan lembaga untuk mendorong kesiapan dan kualitas mereka. "Kami memberikan pembekalan seperti cara pengemasan produk dan cara pengiriman," katanya.

E-commerce asal Singapura ini juga menyeleksi mitra terlebih dahulu untuk mengikuti program Kreasi Nusantara. Kriterianya, mitra tersebut harus memproduksi barang sendiri atau bukan reseller. Shopee juga akan mengkaji kualitas produk dan kesiapan mitra memproduksi barang. Selain itu, riwayat transaksi mitra penjual harus baik.

Shopee meluncurkan program yang bertajuk "500.000 Eksportir Baru" yang dimulai pada awal Maret 2021 dan ditargetkan rampung pada 2030. Dalam menjalankan program tersebut, perusahaan berkolaborasi dengan berbagai pihak, seperti Sekolah Ekspor dari Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) dan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM). Perusahaan juga berkolaborasi dengan Bank Indonesia (BI). Nantinya, UMKM binaan BI akan menjadi bagian dari 500 ribu eksportir itu.

Shopee juga akan membekali UMKM binaan dengan materi seperti kiat-kiat sukses ekspor secara spesifik melalui Sekolah Ekspor. "Sekolah ekspor ini dibuat untuk menjawab kebutuhan permintaan dan tugas berat berjuang sama-sama kembangkan eksportir baru," ujar Kepala Sekolah Ekspor, Handito Joewono.

Diketahui, ada 98,1% dari empat juta penjual aktif di platform Shopee yang merupakan UMKM. Selain itu, hanya 0,1% pedagang lintas negara.

Produk dari penjual lokal pun masih mendominasi di Shopee yakni 97%. Secara rinci, penjualan produk UMKM di dalam ekosistem 71,4 %, lintas negara 3%, dan sisanya pedagang besar lokal.

Namun, peneliti Center of Innovation and Digital Economy Indef Nailul Huda mengatakan bahwa produk impor yang mendominasi penjualan di platform e-commerce. “Perkiraan saya, produk lokal hanya 4-5% saja pangsa pasarnya di platform," kata dia kepada Katadata.co.id, Kamis (18/2).

Dia mempertimbangkan banyaknya pengecer atau reseller yang menjual barang impor. Mereka terhitung sebagai pedagang lokal, meski produk yang dijual merupakan impor.

Pada 2019, Kemenperin juga pernah menyatakan bahwa 90% produk yang dijual di e-commerce merupakan impor. Namun, Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) membantah hal itu dan menyebutkan bahwa impor barang per paket yang penjualnya berasal dari luar negeri hanya 0,42%.

Berdasarkan laporan JP Morgan berjudul ‘E-Commerce Payments Trend: Indonesia’ pada 2019 pun menunjukkan, hanya 7% konsumen yang membeli produk impor di e-commerce. Namun, penjualan lintasbatas berkontribusi 20%.

Barang impor yang dibeli melalui di e-commerce paling banyak dari Tiongkok, kemudian Singapura dan Jepang. Sayangnya, JP Morgan tidak memerinci nilainya.

 

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Editor: Yuliawati
Video Pilihan

Artikel Terkait