GoTo Financial, Strategi Gojek-Tokopedia Kejar Induk Shopee dan Grab

GoTo Finacial ini diperkirakan akan menjadi motor pertumbuhan bisnis GoTo agar bisa menyaingi raksasa teknologi asal Singapura, Sea Group dan Grab.
Image title
18 Mei 2021, 18:55
GoTo, Gojek, Tokopedia,
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Gopay akan menjadi fintech pembayaran utama dalam ekosistem GoTo Financial.

GoTo, perusahaan hasil merger antara layanan on-demand Gojek dan perusahaan e-commerce Tokopedia akan memfokuskan pada lini bisnis layanan keuangan. GoTo Finacial ini diperkirakan akan menjadi motor pertumbuhan bisnis GoTo agar bisa menyaingi raksasa teknologi asal Singapura, Sea Group (induk Shopee) dan Grab.

Berdasarkan situs resminya, GoTo Financial terdiri dari GoPay, Paylater, GoSure, GoInvestasi, GoStore, Moka, Selly, Midtrans dan Gobiz Plus. GoTo Financial juga sudah bermitra dengan lebih dari 20 bank dan institusi keuangan lainnya.

GoTo akan fokus pada lini bisnis keuangan karena potensinya yang besar. GoTo Financial ini juga akan mendukung lini bisnis GoTo lainnya pada layanan e-commerce, pengiriman barang dan makanan dan transportasi.

Bahkan, GoTo menunjuk langsung CEO mereka Andre Soelistyo sebagai penanggung jawab GoTo Financial. Andre mengatakan, GoTo Financial dibuat agar bisa menyasar sekitar 140 juta masyarakat yang memiliki keterbatasan dalam mengakses sistem keuangan di Indonesia (underserved). "Mendorong inklusi keuangan di Indonesia dan Asia Tenggara," kata Andre dalam siaran pers, Senin (17/5).

GoTo Financial akan menaungi GoPay, layanan teknologi finansial (fintech) pembayaran pada ekosistem Gojek. Tahun lalu, GoPay mencatatkan peningkatan transaksi hingga 2,7 kali lipat dibandingkan 2019. Transaksi mereka didorong oleh pembelanjaan dari e-commerce, games, dan transaksi dalam berbagai aplikasi.



Selain itu, ada layanan bayar nanti atau Paylater yang sudah ada di ekosistem Gojek sejak 2019. Layanan paylater ini menjadi alternatif pembayaran selain GoPay dan LinkAja. Pengguna paylater Gojek mencapai 49,9% pada 2019.

Ada juga layanan asuransi GoSure yang diluncurkan sejak Oktober 2019 lalu. Lalu ada juga layanan GoStore yang diluncurkan tahun lalu. GoStore merupakan etalase digital yang memungkinkan pedagang membuat toko online sendiri.

GoTo Financial juga mempunyai layanan GoInvestasi. Layanan ini diluncurkan Gojek tahun lalu. Pengguna dapat membeli emas minimal 0,01 gram atau setara Rp 8.000.

Ada juga aplikasi kasir digital Moka. Lalu, ada aplikasi keyboard dan dashboard Selly, platform jasa proses pembayaran online Midtrans, serta layanan untuk digitalisasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) GoBiz Plus.

Advertisement
GoTo, hasil merger Gojek dan Tokopedia.
GoTo, entitas baru yang dibentuk setelah merger Gojek dan Tokopedia. (Youtube/Gojek Indonesia)




Peneliti Center of Innovation and Digital Economy Indef Nailul Huda memperkirakan GoTo Financial berpotensi akan menjadi motor pertumbuhan GoTo. "Paling tidak, GoTo Financial bisa bantu bersaing dengan Sea Group," ujarnya kepada Katadata.co.id, Selasa (18/5).

Bisnis layanan GoTo Financial juga didukung langkah Gojek yang berinvestasi pada bank digital. Februari lalu, Gojek tercatat berinvestasi pada Bank Jago sebesar Rp 1,32 triliun lewat pembelian saham baru alias rights issue. Sebelumnya, decacorn ini juga telah menyuntikkan Rp 2,25 triliun ke bank digital tersebut.

Chief of Corporate Affairs Gojek Group Nila Marita menyampaikan, partisipasi tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. “Ini juga mencerminkan komitmen kuat kami untuk bekerja sama dengan Bank Jago dalam mempercepat inklusi keuangan di Indonesia,” ujarnya kepada Katadata.co.id, Februari lalu (26/2).

Pesaing GoTo, Sea Group juga resmi masuk ke bisnis bank digital Indonesia lewat SeaBank. Sea Group juga memiliki platform fintech pembayaran pesaing GoPay, yakni ShopeePay.

Berdasarkan riset dari NeuroSensum, ShopeePay mendominasi pasar dompet digital Indonesia pada awal 2021. ShopeePay mendapatkan penetrasi pasar tertinggi sebesar 68%. Kemudian, OVO 62%, DANA 54%, GoPay 53%, dan LinkAja 23%.



Lalu Grab juga gencar menggarap sektor keuangan di Tanah Air dan disebut-sebut tertarik merambah layanan digital Bank Capital.

Di Singapura, konsorsium Grab dan Singapore Telecommunications Limited juga memperoleh lisensi bank digital penuh atau digital full bank (DFB) dari otoritas moneter Singapura alias Monetary Authority of Singapore (MAS) pada akhir tahun lalu.

Grab pun memperkuat lini bisnis keuangannya, Grab Financial Group (GFG). GFG meraih pendanaan seri A US$ 300 juta atau sekitar Rp 4,2 triliun.

Investasi itu dipimpin oleh Hanwha Asset Management Korea Selatan. Investor lain yang terlibat dalam putaran pendanaan yakni K3 Ventures, GGV Capital, Arbor Ventures, dan Flourish Ventures.

 

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait