Riset: Konsumen RI Tinggalkan E-Commerce Bila Transaksi Bermasalah

Potensi pertumbuhan e-commerce di Asia Tenggara, termasuk Indonesia sangat besar.
Image title
10 September 2021, 11:44
e-commerce, belanja online,
ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/hp
Warga menggunakan perangkat elektronik untuk berbelanja daring di salah satu situs belanja daring di Bogor, Jawa Barat, Senin (26/4/2021).

Platform Vesta merilis hasil survei terkait kenyamanan masyarakat di Asia Tenggara, termasuk Indonesia dalam berbelanja online. Survei menunjukkan responden akan berhenti berbelanja online di sebuah e-commerce bila menemui kerumitan transaksi.

Vespa yang merupakan platform jaminan transaksi end-to-end untuk pembelian online, membuat survei bertajuk “Vesta Online Payment Sentiments”. Survei melibatkan 4,300 responden di Singapura, Indonesia, dan Filipina.  

Hasil survei menunjukkan sebanyak 57% pembeli online di Indonesia, Singapura, dan Filipina menyatakan akan berhenti berbelanja di situs e-commerce apabila mereka mengalami masalah saat melakukan transaksi.

Sedangkan, sebanyak 47% responden mengaku telah mengalami masalah transaksi itu dalam kurun 12 bulan terakhir. Ada 54% dari mereka yang telah mengalami masalah transaksi mengaku akan memperingatkan keluarga atau teman-teman mereka.

Responden mengatakan, masalah transaksi yang dialaminya banyak terkait dengan metode pembayaran yang rumit. Sebanyak 33% responden mengaku, proses verifikasi dan otentikasi pada metode pembayaran menjadi masalah utama yang dihadapi. Kemudian, 22% responden mengaku bermasalah dengan penolakan pembayaran tanpa alasan yang valid.

General Manager Vesta Asia Pasifik Shabab Muhaddes mengatakan, ketidakpuasan masyarakat terhadap layanan pembayaran di e-commerce akan merugikan penjual. Selain itu, survei juga memberikan gambaran atas kebutuhan masyarakat dalam berbelanja online saat ini.

"Masyarakat membutuhkan solusi canggih yang mampu memberikan pengalaman pembayaran frictionless, sekaligus melindungi pelanggan dan pedagang dari penipuan," kata Shabab dalam siaran pers, Kamis (9/9).

Shabab mengatakan, keluhan konsumen patut disayangkan. Sebab, potensi pertumbuhan e-commerce di Asia Tenggara, termasuk Indonesia sangat besar.

Pasar e-commerce Indonesia diperkirakan akan tumbuh menjadi US$ 83 miliar pada 2025. Perusahaan venture building berbasis di Singapura, Momentum Works juga mencatat bahwa nilai transaksi bruto atau gross merchandise value (GMV) e-commerce di Indonesia tumbuh 91% pada tahun lalu. GMV e-commerce di Indonesia pada 2020 mencapai US$ 40,1 miliar atau Rp 573 triliun.

Vesta Indonesia Country Director Oemar Ahmad mengatakan, Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk pertumbuhan ekonomi digital yang signifikan. "Walaupun banyak konsumen telah menunjukkan minat untuk menggunakan pembayaran digital, tapi masih ada sebagian konsumen yang merasa enggan," kata Ahmad.

Advertisement

 

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait