Teknologi Digital dan Startup Dinilai Bisa Tekan Biaya Logistik

Indonesia memiliki biaya logistik termahal di Asia. Digitalisasi sektor logistik terbukti mampu mengefisienkan sistem pengiriman barang.
Image title
30 November 2021, 18:56
logistik
Shipper

Biaya logistik di Indonesia masih tinggi yang termasuk termahal di banding negara tetangga. Teknologi digital dan munculnya startup logistik berpeluang mengatasi masalah biaya logistik tersebut.

Berdasarkan data dari Frost and Sullivan, Indonesia memiliki biaya logistik termahal di Asia, yakni sebesar 24% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Biaya logistik Indonesia juga masih di atas rata-rata dunia, yakni 13%.

Staf Ahli Menteri Bidang Logistik, Multimoda, dan Keselamatan Perhubungan Cris Kuntadi mengatakan, ada tiga faktor yang menyebabkan biaya logistik Indonesia mahal. Pertama, infrastruktur yang masih belum merata.

Kedua, sistem pengiriman antar berbagai daerah yang belum seimbang. Ketiga, moda transportasi yang masih mengandalkan angkutan darat. "Ini harus diseimbangkan dengan digitalisasi," kata Cris dalam acara Regional Summit 2021 yang diselenggarakan Katadata.co.id pada Senin (29/11).

Menurutnya, digitalisasi sektor logistik mampu mengefisienkan sistem pengiriman barang berbasiskan data. "Maka, kami membuat National Logistic Ecosystem (NLE). Dalam ekosistem itu, data pengiriman sudah terangkum secara digital," kata Cris.

Wakil Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Trismawan Sanjaya juga mengatakan, digitalisasi akan memudahkan pelaku logistik dalam mengatur pengiriman barang. "Data yang sudah terangkum akan dibuat skema dan bisa terprediksi permintaan dan penawarannya," katanya. Dengan begitu, biaya logistik menjadi lebih murah.

Pelaku logistik juga bisa memanfaatkan sejumlah teknologi digital untuk mengefisienkan pengiriman barang. IoT misalnya, memungkinan adanya sensor yang ditempelkan pada benda yang dikirim.

Sehingga, di mana pun lokasi barang dia akan mentransfer sinyal posisinya mulai dari pabrik, pelabuhan, hingga negara tujuanya bisa langsung terdeteksi.

Selain IoT, ada juga AI yang berfungsi untuk menganalisis data yang terangkum oleh pelaku logistik. AI juga bisa digunakan untuk memprediksi air freight time delay. AI juga dapat memprediksi penundaan atau percepatan pada proses transit harian.

Di samping teknologi digital, munculnya startup logistik dianggap mampu mengikis biaya logistik yang mahal. Startup logistik Paxel misalnya, mengimplementasikan maha data (big data) dan algoritme untuk menentukan lokasi hub penyimpanan paket.

Ada juga Iruna, yang memperkenalkan sistem spiderloop. Perusahaan menggunakan kendaraan sebagai moving hub, sehingga titik transitnya tidak permanen.

Shipper juga menggunakan model bisnis sebagai agregator logistik. Shipper bisa menggaet berbagai pemain, mulai dari e-commerce seperti Shopee, Lazada hingga Tokopedia, penyedia jasa ekspedisi seperti JNE dan J&T, serta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

"Munculnya startup logistik mampu menghadirkan transparansi informasi dalam membuat keputusan," kata Direktur Operasional Shipper Indonesia Budi Handoko.

Kemudian, dari sisi penyimpanan atau fulfillment perusahaan rintisan itu mengandalkan analisa data. "Ini agar perusahaan logistik bisa memetakan permintaan barang-barang di daerah," katanya.

Advertisement

 

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait