Ahli IT Ungkap Hoaks Social Spy WhatsApp Bisa untuk Sadap WhatsApp

Whatsapp memang dapat di sadap, tetapi isinya terenkripsi dan hanya perangkat yang saling berkomunikasi memiliki kunci dekripsinya.
Lenny Septiani
30 September 2022, 12:00
whatsapp
pixabay.com/LoboStudioHamburg
Ikon wahtsapp.

 

Beredar kabar Social Spy WhatsApp sebagai perangkat yang dapat menyadap WhatsApp milik orang lain. Ahli IT menyebut kabar tersebut hoaks dan hanya untuk mencari keuntungan iklan.

Spesialis Keamanan Teknologi Vaksincom Alfons Tanujaya mengatakan bahwa Social Spy Whatsapp merupakan disinformasi terorganisir demi iklan. “Social Spy menyebarkan disinformasi bisa menyadap WA milik orang lain,” katanya dalam unggahannya di Youtube, Jum’at (30/9).

Social Spy diklaim hanya memasukan nomor WhatsApp kemudian tersedia bocoran aktivitas milik target.

Advertisement

Alfons menyatakan hoaks tersebut disebarkan secara terorganisir memanfaatkan domain .id, bahkan domain .co.id dan .or.id. Hoaks juga menyebar melalui domain portal desa, portal berita sampai domain rumah sakit.

“Memang menjadi keinginan banyak orang dan bahkan lembaga negara yang ingin menyadap Whatsapp,” kata Alfons dalam keterangan resmi.

Alfons menjelaskan bahwa komunikasi Whatsapp dapat di sadap, tetapi isinya terenkripsi dan hanya perangkat yang saling berkomunikasi memiliki kunci dekripsinya. “Dan kunci dekripsi tersebut sangat sulit untuk dipecahkan dan sampai saat ini tidak ada aplikasi pihak ketiga yang dapat memecahkan enkripsi Whatsapp,” ujarnya.

Metode enkripsi yang sama juga digunakan oleh industri perbankan dalam melindungi internet banking dan layanan aplikasi penting lainnya seperti email, messaging dan media sosial dalam melindungi data penggunanya.

Alfons menyampaikan harapannya untuk masyarakat agar berhati-hati menyerap informasi dan melakukan kros silang sebelum mempercayai atau menyebarkan informasi.

Menurutnya, disinformasi adalah informasi yang tidak benar dan direkayasa sedemikian rupa oleh pihak-pihak yang berniat membohongi masyarakat. “Berpotensi menimbulkan chaos," kata dia.

Dia menduga tujuan menyebarkan disinformasi untuk mempengaruhi opini publik dan lantas mendapat keuntungan tertentu. “Penyebar menggali keuntungan dari jutaan klik iklan dan survei.”

 

Reporter: Lenny Septiani
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait