Bukit Asam Kejar Realisasi Produksi Karbon Aktif pada 2023

Pada akhir tahun lalu PTBA telah menandatangani Head of Agreement (HoA) dengan Activated Carbon Technologies PTY, LTD (ACT) yang berbasis di Australia.
Image title
5 April 2021, 16:54
PTBA, karbon aktif,
www.ptba.co.id
Ilustrasi di pabrik pengolahan PTBA.

PT Bukit Asam Tbk alias PTBA menargetkan produksi karbon aktif dari bahan baku batu bara dapat terealisasi pada 2023. Upaya ini sebagai wujud komitmen PTBA dalam melakukan hilirisasi dan peningkatan nilai tambah batu bara.

Direktur Pengembangan Usaha Fuad Iskandar Zulkarnain Fachroeddin menjelaskan pada akhir tahun lalu PTBA telah menandatangani Head of Agreement (HoA) dengan Activated Carbon Technologies PTY, LTD (ACT) yang berbasis di Australia. Perusahaan tersebut telah menyatakan komitmen sebagai offtaker produk karbon-aktif secara jangka panjang.

"Rencananya pada 2023 kami akan mulai produksi," kata Fuad dalam konferensi pers secara virtual, Senin (5/4).

Pengembangan pabrik karbon aktif di Kawasan Industri Tanjung Enim (BACBIE) rencananya akan memproduksi karbon aktif sebanyak 12.000 ton per tahun dengan mengolah sebanyak 60.000 ton batu bara per tahun.

Meski demikian, Fuad tak menjawab mengenai potensi pendapatan ke depan dari proyek karbon aktif ini dari ekspor ke Australia. Hanya, saat ini perusahaan masih terus melengkapi kajian yang berhubungan dengan teknologi. "Agar investasi karbon aktif dapat berproses secara efisien," kata dia.

Seperti diketahui, produksi karbon aktif ini akan mengolah batu bara melalui proses aktivasi. Material di dalamnya akan berubah menjadi banyak pori-pori dan dapat menyerap zat lain di sekitarnya.

Karbon aktif dapat dimanfaatkan untuk proses penjernihan dan pemurnian air, pemurnian gas dan udara serta filter industri makanan. Fungsi lainnya adalah penghilang warna untuk industri gula dan penyedap rasa (MSG). “Hingga di bidang farmasi sebagai penetral limbah obat-obatan agar tidak membahayakan lingkungan,” kata mantan Direktur Utama PTBA Arviyan Arifin beberapa waktu lalu.

Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang cukup besar, yakni mencapai 417,8 gigawatt (GW). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, potensi tersebut berasal dari arus laut samudera sebesar 17.9 GW, panas bumi 23,9 GW, bioenergi 32,6 GW, angin 60,6 GW, air 75 GW, dan matahari atau surya 207,8 GW. Berikut grafik dalam Databoks:

 

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Yuliawati
Video Pilihan

Artikel Terkait