Indonesia Butuh Investasi Panas Bumi Rp 400 T untuk Capai Target 2035

ESDM menghitung perkiraannya investasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) untuk 1 MW dibutuhkan US$ 4 juta.
Image title
4 Oktober 2021, 15:53
panas bumi, investasi
ANTARA FOTO/Adeng Bustomi
Pekerja mengisolasi "upstream" dan "downstream control valve rock muffler" pada pemeliharaan Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP) di Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (25/2/2020).

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) pada 2035 mencapai 9.300 megawatt (MW). Saat ini kapasitas terpasang PLTP baru mencapai 2.175 MW.

Direktur Panas Bumi Kementerian ESDM, Harris, mengatakan selisih kapasitas terpasang PLTP akan dipenuhi dalam empat belas tahun ke depan. Untuk memenuhi target tersebut dibutuhkan biaya sebesar US$ 28,5 miliar atau Rp 404,7 triliun.

Perkiraannya investasi PLTP untuk 1 MW dibutuhkan US$ 4 juta. "Dengan target kapasitas tambahan hingga 2035 sebesar 7.125 MW, dibutuhkan sekitar US$ 28,5 miliar," kata Harris kepada Katadata.co.id, Senin (4/10).

Dalam draf Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik 2021-2030 tambahan kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi sebesar 2.620 megawatt (MW). Dengan demikian kapasitas terpasang PLTP pada 2030 akan mencapai 4.795 MW.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Rida Mulyana sebelumnya mengatakan pembangkit listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) akan terus mengalami peningkatan dalam kurun waktu sepuluh tahun mendatang. Ini seiring rencana Pemerintah melakukan penambahan kapasitas pembangkit listrik sekitar 40.000 Megawatt (MW).

Penambahan ini sebagai bagian dari antisipasi atas meningkatnya demand sesuai hasil prognosis Kementerian ESDM. "Kami pastikan dari tambahan 40 ribu MW selama 10 tahun ke depan, hampir 52 persen berbasis EBT," katanya.

Rida mencatat, kapasitas pembangkit listrik hingga Juni 2021 mencapai 73.341 MW, di mana pembangkit berbasis fosil seperti PLTU masih berperan penting sebagai penopang produksi listrik.

"Secara generation cost, PLTU memang masih murah. Jadi biar tarif listriknya tidak mahal ke rakyat sehingga meningkatkan daya beli masyarakat dan membuat industri makin kompetitif," kata Rida.

Pada komposisi tersebut, PLTU masih mendominasi sebesar 47% atau sekitar 34.856 MW, disusul PLTG/GU/MG sebesar 28% atau 20.938 MW, PLTA/M/MH 6.255 MW atau 9%, PLTD 4.932 MW atau 7%, PLTP 2.174 MW atau 3%, dan PLTU M/G 2.060 MW atau 3%, dan PLT EBT lainnya 2.215 MW atau 3%.

"Ini tidak bisa dipertahankan terus menerus. Meskipun kita punya banyak batu bara. Lambat laun akan habis," kata Rida.

Adapun selama kurun 2020-2024, Kementerian ESDM berencana melakukan eksplorasi panas bumi di 20 wilayah dengan kapasitas 683 MW.  Berikut grafik wilayah panas bumi yang dikembangkan hingga tiga tahun ke depan;

 

 

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait