Konsumen Makin Sadar Lingkungan, Nestle Bakal Daur Ulang Kemasan 100%

Nestle berencana mengganti kemasan plastik dengan kemasan berbahan kertas di setiap produk perusahaan.
Image title
22 Oktober 2021, 13:42
produk ramah lingkungan, nestle
Katadata
Webinar Katadata & Landscape Indonesia - Road to COP26, Jumat (22/10).

Semakin banyak perusahaan yang menggunakan produk ramah lingkungan seiring perubahan kesadaran konsumen. Salah satunya Nestle yang berkomitmen dapat mendaur ulang kemasan produknya hingga 100% pada 2025.
 
Sustainable Packaging Manager Nestle Indonesia, Faiza Anindita, mengatakan perusahaan menerapkan prinsip kelanjutan salah satunya dengan mengganti kemasan plastik dengan berbahan kertas.

Biaya untuk memproduksi kemasan berbahan kertas yang ramah lingkungan bakal lebih mahal jika dibandingkan dengan kemasan plastik. Namun seiring semakin banyak perusahaan yang menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan maka biaya produksinya akan turun.

"Plastik juga dulunya pasti begitu. Tapi kalau ketika semua banyak ke arah sana nanti akan murah dan ini semakin banyak industri yang mulai bergerak ke sana," kata Faiza dalam Katadata & Landscape Indonesia - Road to COP26, Jumat (22/10).

Expert Panel Katadata Insight Center (KIC) Mulya Amri memaparkan hasil riset yang menunjukkan mulai banyak konsumen di dunia menginginkan produk ramah lingkungan. Hasil survei Katadata Insight Center (KIC) pada Agustus lalu menunjukkan bahwa 62,9% konsumen telah membeli produk berkelanjutan atau ramah lingkungan dengan alasan sebanyak 60,5% konsumen membeli karena ingin melestarikan bumi.

Adapun sebanyak 51,1% konsumen mengakui bahwa mereka memilih produk ramah lingkungan karena suka dan puas dalam menggunakan produk ramah lingkungan. Kemudian sebanyak 41,3% responden menilai bahwa dapat memberikan citra yang baik dan positif jika membeli produk berkelanjutan/ramah lingkungan.

Selanjutnya sebanyak 23,7% responden menjawab dalam membeli tidak direncanakan di supermarket. Berikutnya sebanyak 20,4% responden membeli karena merek atau perusahaan yang disukai kebetulan memiliki produk berkelanjutan/ramah lingkungan.

"Apa sih alasannya? Ternyata jawabannya bisa lebih dari satu, kebanyakan  motivasinya ingin membantu melestarikan bumi dan lingkungan kemudian puas dan suka menggunakan produk ramah lingkungan dan ingin menggambarkan citra yang baik terhadap dirinya sendiri," ujar Mulya.

Sedangkan dari 37,1% tidak pernah membeli produk berkelanjutan, sebanyak 50% lebih beralasan tidak membeli produk ramah lingkungan lantaran tidak tersedianya produk berkelanjutan.

Alasan lainnya, sebanyak 44% kurang informasi mengenai produk ramah lingkungan. Lalu, 18,7% harga produk ramah lingkungan cukup tinggi. 13,2% beralasan ribet karena harus mengecek tiap produk yang harus dibeli. dan 11,1% beralasan bahwa tidak ada bedanya dengan produk biasa.

"Kita bisa melihat alasan utama tak membeli produk berkelanjutan bukan harga tapi karena kurang informasi dan tak tersedia di tempatnya," kata Mulya.  

Survei KIC dilakukan terhadap 3.631 konsumen yang mengambil keputusan dalam pembelian produk atau berbelanja. Survei dilakukan secara online pada responden berusia berusia 17-60 tahun, pada 30 Juli - 1 Agustus 2021 yang mencakup hampir seluruh wilayah Indonesia.

Faiza menyadari bahwa tantangan yang terjadi saat ini dalam menginformasikan produk ramah lingkungan ke masyarakat adalah komunikasi. Oleh sebab itu perusahaan mempunyai strategi untuk mengkampanyekan produk ramah lingkungan ini melalui kemasan.

"Kami gaungkan bagaimana caranya memasukan cerita keberlanjutan ke dalam kemasan. Selama ini kemasan hanya terkait informasi kandungan gizi, perlu dimasukan soal isu lingkungan," ujarnya.

 

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait