ESDM Kesulitan Aliri Listrik ke 68 Desa di Papua Efek Masalah Keamanan

Ada 68 desa yang belum menerima aliran listrik di Papua karena masalah keamanan.
Image title
23 November 2021, 15:42
listrik, ESDM, Papua
ANTARAFOTO/Rahmad
Pekerja memanjat tiang listrik saat pengerjaan pemasangan jaringan listrik program listrik masuk wilayah desa tertinggal di Dusun Jabal Antara, Aceh Utara.

Kementerian ESDM menargetkan pemerataan akses listrik ke wilayah pelosok dengan rasio elektrifikasi mencapai 100% pada 2022. Untuk mencapai target tersebut ada beberapa hambatan dalam menghadirkan jaringan listrik ke wilayah terpencil.

Hingga saat ini, rasio elektrifikasi telah mencapai 99,40%. Tahun ini pemerintah menargetkan setidaknya 300 desa dapat menerima aliran listrik.

Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Jisman Hutajulu mengatakan untuk mencapai rasio elektrifikasi 100%, ESDM masih mengalami kesulitan. Ada 68 desa yang belum menerima aliran listrik di Papua karena masalah keamanan.

"Kami belum bisa masuk dan belum bisa survei karena survei keamanan. Kami harapkan bantuan dari TNI. Berbagai cara kami carikan supaya dapat mengalirkan listrik," ujarnya dalam INDO EBTKE CONEX 2021, Selasa (23/11).

Data Kementerian ESDM menunjukkan hanya Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang angka rasio elektrifikasinya di bawah 90%. Bahkan Provinsi Bali sudah memiliki rasio elektrifikasi 100%.

"Percepatan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan akan jadi salah satu prioritas kami sejalan dengan peningkatan mutu pelayanan," kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi dalam keterangan tertulis pekan lalu.

Guna menggenjot infrastruktur kelistrikan, pemerintah menargetkan adanya penambahan kapasitas pembangkit tenaga listrik EBT mencapai 20.923 MW hingga 2030 nanti. Salah satu pencapaian positif adanya peningkatan kapasitas pembangkit listrik berbasis energi bersih tersebut.

"Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, penambahan kapasitas pembangkit EBT sebesar 1.469 MW dengan kenaikan rata-rata sebesar 4% per tahunnya," kata Agung.

Agung memaparkan tambahan kapasitas pembangkit listrik EBT pada periode Januari hingga September 2021 sebesar 386 Megawatt (MW). Salah satu faktor pendorong pertumbuhan pembangkit EBT melalui surya maupun air.

Secara rinci tambahan 386 MW ini berasal dari PLT Air Poso Peaker 2nd Expansion sebesar 130 Mega Watt (MW), 12 unit PLT Mikrohidro 71,26 MW, 2 unit PLT Panas Bumi 55 MW, PLT Bioenergi 19,5 MW, dan PLT Surya Atap 17,88 MW.

Dengan pertumbuhan ini, pemerintah optimistis bisa mencapai target bauran EBT sebesar 23% pada 2025. Salah satu upaya yang ditempuh pemerintah adalah meningkatkan porsi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT Perusahaan Listrik Negara 2021 - 2030 yang lebih hijau, yaitu 51,6%.

 

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait