IBC Gagal Akuisisi StreetScooter, Ini Rencana Kembangkan Mobil Listrik

IBC menyiapkan rencana pengembangan mobil listrik dalam negeri setelah gagal mengakuisisi pabrikan asal Jerman, StreetScooter.
Image title
10 Januari 2022, 17:06
Pabrik mobil listrik StreetScooter di Jerman.
Katadata/Instagram
Pabrik mobil listrik StreetScooter di Jerman.

Pemerintah, melalui Indonesia Battery Corporation alias IBC, gagal mengakuisisi pabrikan mobil listrik asal Jerman yakni StreetScooter. Gagalnya rencana ini membuat IBC melirik perusahaan mobil listrik di dalam negeri.

Direktur Kelembagaan Mind Id (Inalum) Dany Amrul Ichdan mengatakan aksi korporasi IBC untuk mengakuisisi StreetScooter melalui konsorsium Odin Automotive tak berlanjut. Aksi korporasi ini batal memenuhi persyaratan sesuai jadwal yang ditargetkan oleh pihak Deutsche Post DHL sebagai pemilik StreetScooter.

Corporate Secretary IBC Muhammad Sabik mengatakan akuisisi batal sejak akhir November 2021 lalu. "Ya, sesuai statement Pak Danny Amrul Ichdan (yang juga menjabat) Komisaris IBC," kata dia kepada Katadata.co.id, Senin (10/1).

Gagalnya rencana itu membuat IBC membuka peluang kerja sama dengan para perusahaan dalam negeri dalam mengembangkan ekosistem mobil listrik (electric vehicle). Namun, Sabik belum membeberkan detail rencana tersebut.

"Dalam rangka membangun ekosistem mobil listrik dan hilirisasi baterai di Indonesia, saat ini IBC tengah membuka komunikasi kepada berbagai EV player yang ada di Indonesia," ujarnya.

Dalam dokumen yang diterima Katadata.co.id, IBC yang merupakan holding baterai yang terdiri atas badan usaha milik negara (BUMN) Pertamina, PLN, MIND ID, dan Aneka Tambang (Antam) tersebut sempat berencana mengakuisisi Streetscooter. IBC berencana memiliki porsi kepemilikan mayoritas, lebih dari 60%, dan memegang kendali perusahaan.

Perusahaan telah melakukan kajian pada Juni hingga September 2021 dengan konsultan BNP Paribas, McKinsey, PwC, Ricardo, KYC, Shearman & Sterling, dan MDC. Hasil uji kelayakan para konsultan menunjukkan investasi itu tidak ada major red flag (tidak wajar) pada aspek finansial, pajak, dan hukum. Seluruh risiko telah disusun mitigasinya yang akan terefleksi pada dokumen perjanjian.

Namun, rencana ini menimbulkan perdebatan di kalangan pemerintah. Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama menilai rencana tersebut tidak memiliki basis valuasi yang kuat untuk direalisasikan. Pertamina, yang memiliki 25% saham di IBC, telah mengajukan proposal akuisisi itu kepada Dewan Komisaris.

“Narasinya apa harus beli mobil listrik di Jerman, supaya bisa masuk ke pasar Amerika, Cina? Itu yang saya bilang hati-hati,” kata pria yang akrab disapa Ahok tersebut dalam kanal Youtube-nya, beberapa waktu lalu.

Keinginan untuk memperluas pasar di dua negara tersebut, menurut dia, tidak masuk akal. Mengingat Tesla sudah menguasai konsumen kendaraan listrik di Negeri Abang Sam. Lalu, Wuling Motors mendominasi di Negeri Panda.

Ahok justru mendorong potensi dalam negeri. Selama ini pengembangan kendaraan listrik domestik sudah dikerjakan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). “Kalau Anda masih kurang mengerti, kenapa enggak mengajak Wuling, seperti Hyundai menjadi Bimantara,” ucapnya.

Sebaliknya, Menteri Investasi dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menilai akuisisi tersebut sebagai bagian dari pengembangan ekosistem kendaraan listrik yang  menjadi prioritas pemerintah.

Bahlil meminta pihak yang tidak mendukung proyek tersebut untuk mundur atau minggir. Bahlil tidak menjelaskan dengan pasti siapa oknum tersebut. Dia hanya mengatakan oknum tersebut berasal dari berbagai kalangan seperti pengusaha, pejabat, hingga BUMN.

"Yang tidak setuju dengan pikiran besar transformasi ekonomi ini, saya harap agar minggir. Kita mau maju terus sebagai negara. Jangan halangi konsep negara,"ujar Bahlil.

Advertisement

 

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait