Bukit Asam Olah 6 Juta Ton Batu Bara Jadi DME untuk Kurangi Impor Gas

Bukit Asam mengolah 6 juta ton batu bara yang dapat menghasilkan DME sebesar 1,4 juta ton.
Muhamad Fajar Riyandanu
13 September 2022, 16:26
Bukit Asam, batu bara
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/wsj.
Pekerja melintas di dekat kapal tongkang pengangkut batubara di kawasan Dermaga Batu bara Kertapati milik PT Bukit Asam Tbk di Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (4/1/2022).

Perusahaan pertambangan nasional PT Bukit Asam Tbk (PTBA) ekspansi bisnis dengan mengembangkan industri gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether atau DME di Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Proyek senilai US$ 2,3 miliar atau sekitar Rp 34,04 triliun bekerja sama dengan Pertamina dan perusahaan bidang pengolahan gas dan kimia asal Amerika Serikat (AS), Air Products and Chemicals Inc atau APCI.

Direktur Pengembangan Usaha PTBA, Rafly Yandra, mengatakan proyek ini dapat meningkatkan ketahanan energi nasional dengan menggantikan porsi gas impor.

Proyek dengan luas 164 hektare ini groundbreaking pada 4 Januari lalu yang dihadiri Presiden Jokowi. "Proyek ini akan menyerap 1.000 tenaga kerja selama operasional pabrik," kata Rafly dalam konferensi pers Public Expose pada Selasa (13/9).

Proyek tersebut akan menghabiskan 6 juta ton batu bara berkalori rendah 4.200 per tahun untuk diolah menjadi DME. Adapun pengolahan 6 juta ton batu bara dapat menghasilkan DME sebesar 1,4 juta ton. Selain itu, pabrik tersebut juga akan memproduksi Methanol sebanyak 2,1 juta ton per tahun dan Syngas atau gas sintetis sebesar 4,5 juta kN/m3 per tahun.

Advertisement

Gas sintetis adalah campuran bahan bakar gas yang terdiri dari hidrogen, karbon monoksida, dan karbon dioksida. Gas alam sintetis ini umumnya digunakan untuk memproduksi amonia atau metanol yang dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kimia seperti pupuk dan petrokimia, listrik dan gas kota.

Sebelumnya diberitakan, Presiden Joko Widodo minta jajarannya untuk memastikan proyek tersebut dapat rampung 30 bulan sesuai dengan waktu yang dijanjikan. "Untuk memastikan ini selesai sesuai yang disampaikan Air Product dan Kementerian investasi 30 bulan, jangan ada mundur-mundur lagi yang kita harapkan nanti setelah di sini selesai dimulai lagi di tempat lain," kata Presiden Joko Widodo dalam Groundbreaking Proyek Hilirisasi Batu Bara Menjadi Dimetil Eter di Kabupaten Muara Enim pada Senin (24/1).

Apabila sudah berproduksi, proyek tersebut diharapkan bisa mengurangi beban subsidi LPG dari APBN hingga triliunan rupiah. "Nanti bisa berproduksi, bisa kurangi subsidi APBN kurang lebih Rp 7 triliun," kata Presiden.

Menurutnya, Indonesia telah mengimpor LPG dalam jumlah besar, yaitu Rp 80 triliun dari total kebutuhan Rp 100 triliun. Selain itu, pemerintah masih harus menyalurkan subsidi LPG sebesar Rp 70 triliun. Padahal, Indonesia memiliki pasokan batu bara dalam jumlah besar yang bisa diolah menjadi DME untuk menggantikan LPG.

 

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait