Atasi Kampanye Hitam CPO, Astra Agro Genjot Ekspor ke Timur Tengah

Laba bersih Astra Agro mencapai Rp 1,04 triliun atau naik 31,7% jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Miftah Ardhian
Oleh Miftah Ardhian
8 Agustus 2017, 16:26
Kelapa sawit
Arief Kamaludin|KATADATA
Petani memanen buah kelapa sawit di perkebunan Desa Delima Jaya di Kecamatan Kerinci, Kabupaten Siak, Riau.

PT Astra Agro Lestrari Tbk menggenjot pasar ekspor kelapa sawit ke beberapa negara Timur Tengah. Langkah ini ditempuh perusahaan sebagai antisipasi dampak dari kampanye negatif negara-negara Eropa terhadap komoditas kelapa sawit.

Selain itu, saat ini produksi nasional berlebihan dan membutuhkan diversifikasi pasar. Produksi kelapa sawit Indonesia mengalami surplus hingga 70% terhadap kebutuhan domestik.

Wakil Presiden Direktur Astra Agro Lestari Joko Supriyono menjelaskan, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan sedang agresif mencari pangsa pasar baru.

"Kami diarahkan supaya mengembangkan pasar baru agar punya semacam customer based yang lebih luas," ujar Joko saat konferensi pers, di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/8).

(Baca: Selain Karet, Kelapa Sawit Akan Dibarter Indonesia dengan Sukhoi)

Selama ini, pasar ekspor tujuan kelapa sawit meliputi India, Tiongkok, dan Eropa. Ekspor ke pasar Eropa menghadapi kendala karena kampanye negatif terhadap industri kelapa sawit Indonesia yang diserukan Parlemen Eropa. Alasannya, kelapa sawit Indonesia dinilai tidak mengedepankan prinsip good corporate governance.

Untuk mengatasi dampak dari kampanye hitam, beberapa negara di Timur Tengah sedang dijajaki seperti Pakistan, Iran, dan Bangladesh. Selain itu, perseroan juga memperluas pasar ekspor ke negara-negara Afrika.

"Kami terus berupaya untuk bisa menjadi bagian dalam upaya pemerintah memperluas pasar dan memperkuat perdagangan kelapa sawit di luar negeri," kata Joko.

Presiden Direktur Astra Agro Lestari Santosa menjelaskan, perluasan pasar ekspor untuk menjaga kinerja perusahaan. Pada semester I-2017 ini, perusahaan berkode saham AALI mencatatkan produksi Crude Palm Oil (CPO) sebesar 762 ribu ton atau naik 13,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 670 ribu ton.

(Baca: Kemendag Targetkan Ekspor ke Afrika Selatan Rp 10 Triliun)

Dengan kinerja operasional tersebut, AALI mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp 8,55 triliun atau naik 34,7% jika dibandingkan semester I-2016 sebesar Rp 6,35 triliun. Kenaikan pendapatan ini juga ditopang oleh rata-rata kenaikan harga CPO dari Rp 7.768 per kilogram (kg) menjadi Rp 8.536 per kg.

Dengan pencapaian tersebut, laba operasional perusahaan juga mengalami kenaikan sebesar 85,3% menjadi Rp 1,52 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 820 miliar. Alhasil, pada semester I-2017 ini laba bersih AALI menjadi Rp 1,04 triliun atau naik 31,7% jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 792 miliar.

Untuk semester kedua tahun ini, AALI berencana untuk memaksimalkan belanja modal. Dari total anggaran tahun ini sebesar Rp 2 triliun, belanja modal AALI baru terserap Rp 840 miliar. Sementara sisanya, sekitar Rp 1,2 triliun akan digunakan untuk berbagai proyek yang telah direncanakan.

"Jadi sisanya akan digunakan untuk menggarap 30 ribu hektar tanaman yang belum menghasilkan, produksi pupuk, dan pembangunan infrastruktur pendukung," kata Santosa.

Sampai saat ini, total luas areal tertanam perkebunan kelapa sawit milik AALI sebesar 297 hektar yang terdiri dari kebun inti sebesar 233,3 ribu hektar dan kebun plasma 63,6 ribu hektar. Dari total tersebut, baru sebanyak 267,9 ribu hektar yang sudah menghasilkan. Sementara itu, kapasitas pabrik milik AALI adalah sebesar 1.510 ton TBS per jam.

(Baca: Industri Kelapa Sawit Khawatir Dampak Dibukanya Data HGU untuk Publik)

Reporter: Miftah Ardhian
Editor: Yuliawati

Video Pilihan

Artikel Terkait