Tarif Angkutan Naik Pasca Lebaran Picu Inflasi Awal Juli 0,32%

Gubernur BI Agus DW. Martowardojo mengatakan, meski inflasi mencapai 0,32 persen dibandingkan periode sama bulan sebelumnya, namun secara tahunan dikisaran 3,98 persen.
Desy Setyowati
7 Juli 2017, 19:19
Geliat Mudik
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Pemudik sepeda motor menunggu "Roll on-Roll off" (RoRo) untuk menyeberangi Selat Sunda di Pelabuhan Merak, Banten, Jumat (23/6).

Bank Indonesia (BI) mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada pekan pertama Juli 2017 berada pada posisi 0,32 persen. Inflasi dipicu oleh harga angkutan yang masih tinggi pascaperayaan Hari Raya Idul Fitri.

Gubernur BI Agus DW. Martowardojo mengatakan, meski inflasi mencapai 0,32 persen dibandingkan periode sama bulan sebelumnya, namun secara tahunan dikisaran 3,98 persen atau masih di kisaran target BI yakni 3-5 persen.

"Minggu pertama Juli, inflasi 0,32 persen month to month. Secara umum, sumber inflasi masih sama yaitu angkutan umum, angkutan antar kota, dan beberapa komoditi pangan," kata Agus di Kompleks BI, Jakarta, Jumat (7/7).

(Baca: BPS: Inflasi Ramadan dan Lebaran 2017 Terendah Tiga Tahun Terakhir)

Agus mengatakan setelah berakhirnya efek Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, dia yakin tarif angkutan ataupun pangan akan membaik. "Sesudah lewat lebaran itu (tarif) angkutan umum dan angkutan antar kota akan terkoreksi kembali. Kami harap inflasi jauh terkendali," tutur dia.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada Juni 2017 sebesar 0,69 persen di bandingkan periode sama tahun sebelumnya. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, kelompok pengeluaran yang menyumbang andil besar terhadap inflasi Juni 2017, yakni dari sektor perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar. Sektor tersebut mengalami peningkatan sebesar 0,39 persen dan memberi andil 0,18 persen terhadap inflasi Juni 2017.

Suhariyanto mengatakan, besarnya sumbangan inflasi tersebut akibat adanya penyesuaian tarif dasar listrik untuk rumah tangga pelanggan 900 VA.

Kelompok pengeluaran yang juga ikut menyumbang besar dalam terjadinya inflasi Juni 2017, yakni transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan. Suhariyanto mengatakan, sektor ini menyumbang andil sebesar 0,23 persen terhadap inflasi Juni 2017. Inflasi untuk sektor ini sendiri sebesar 1,27 persen.

Suhariyanto mengatakan, andil signifikan terjadi akibat adanya kenaikan tarif angkutan udara (0,12 persen) dan angkutan antar kota (0,08 persen). Adapun, peningkatan tarif kereta api hanya menyumbang 0,01 persen. "Kami tahu saat lebaran cari tiket susah, harga naik, tapi semua butuh ya harus beli," tutur dia.

(Baca: Tanpa Harga BBM Naik, BI Prediksi Inflasi Tahun Ini Tembus 4,36%)

Meski begitu, secara umum inflasi Juni 2017 lebih rendah dibandingkan selama Ramadhan dan Idul Fitri pada tiga tahun terakhir. Pada 2014 dan 2015, inflasi saat lebaran yang jatuh pada Juli sebesar 0,93 persen. Sementara pada 2016, inflasi saat lebaran pada Juli mencapai 0,69 persen.

"Jadi secara umum, inflasi pada pada lebaran 2017 jauh lebih terkendali dibandingkan tiga tahun sebelumnya," kata Suhariyanto.

Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait