Dorong Pemulihan Ekonomi, BI Turunkan Bunga Acuan Jadi 4,25%

Selain suku bunga acuan, bank sentral juga menurunkan suku bunga fasilitas simpanan sebesar 25 bps menjadi 3,5%.
Agatha Olivia Victoria
18 Juni 2020, 15:48
suku bunga, bank indonesia, BI, pemulihan ekonomi
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/nz
Sejumlah pengendara melintas di kawasan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (7/5/2020). Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,25%.

Bank Indonesia atau BI memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,25%. Kebijakan tersebut bertujuan untuk mendorong pemulihan ekonomi di era pandemi corona atau Covid-19.

"Dengan berbagai assestment yang saya sampaikan, rapat dewan gubernur BI pada 17-18 Juni 2020 memutuskan untuk menurunkan BI 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 4,23%," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi video, Kamis (18/6).

Selain suku bunga acuan, bank sentral juga menurunkan suku bunga fasilitas simpanan alias deposito facility sebesar 25 bps menjadi 3,5% dan bunga pinjaman atau lending facility 25 bps menjadi 5%.

(Baca: BI Diramal Bakal Turunkan Suku Bunga Acuan 25 Basis Poin)

Ke depan, Perry menilai bahwa BI tetap membuka ruang penurunan suku bunga. Hal ini sejalan dengan rendahnya inflasi, defisit transaksi berjalan, dan stabilnya nilai tukar rupiah.

"Serta perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi lebih lanjut," ujarnya.

Sebelumnya, Ekonom Bank Permata Josua Pardede memprediksi bank sentral akan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 bps dengan mempertimbangkan beberapa indikator makroekonomi. "Hal ini guna mendukung momentum pertumbuhan sedemikian sehingga dapat mengembalikkan trajectory pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali pada kondisi sebelum Covid-19," ujar Josua kepada Katadata.co.id.

Beberapa hal yang ia yakini menjadi pertimbangan utama BI antara lain, tekanan inflasi, khususnya inflasi dari sisi permintaan yang cenderung rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa daya beli masyarakat menurun tajam.

Kedua, perkembangan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek yang cenderung stabil, ditunjukkan dari penurunan rata-rata volatilitas rupiah. Hal ini terlihat dari indikasi one-month implied volatility yang turun menjadi 13% sepanjang bulan Juni 2020, dari bulan Maret 2020 yang sempat meningkat ke kisaran 33%.

Ketiga, realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal I 2020 yang lebih rendah dari perkiraan BI dan pemerintah. Realisasi ini diyakini akan mendorong BI memanfaatkan ruang penurunan suku bunga acuan bulan ini.

(Baca: Proyeksi Suram Ekonomi Indonesia Kuartal II dan Dampak Turunannya)

Menurutnya, dampak pandemi virus corona atau Covid-19 yang cukup signifikan pada kuartal I 2020 mengindikasikan pertumbuhan ekonomi kuartal II dan kuartal III 2020 juga masih berpotensi tertekan.

Penurunan daya beli masyarakat yang terindikasi dari rendahnya inflasi dari sisi permintaan, perlu direspons dengan penurunan suku bunga. Sehingga, dapat mendukung proses pemulihan ekonomi Indonesia pascapandemi.

Kombinasi pelonggaran kebijakan moneter yang dikombinasikan dengan respon kebijakan fiskal melalui tiga paket stimulus kebijakan, diperkirakan dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Keempat, sinyal penurunan suku bunga juga terindikasi pada hasil lelang Reverse Repo Surat Utang Negara (SUN) 12 bulan pada 12 Juni 2020, yang menunjukkan suku bunga RR-SUN 12 bulan turun sekitar 6 bps.

(Baca: Bank Sentral AS Tahan Suku Bunga, Rupiah Menguat 0,39%)

Advertisement
Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait