Masyarakat Anggap Ekonomi Membaik, Chatib: Efek Wacana Normal Baru

Pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot signifikan pada Maret 2020 ketika pemerintah menerapkan PSBB.
Dimas Jarot Bayu
Oleh Dimas Jarot Bayu
25 Juni 2020, 20:55
Chatib Basri, covid-19, pemulihan ekonomi,
Donang Wahyu | KATADATA
Chatib Basri menyebut ekonomi tahun depan belum akan membaik.

Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan 45% masyarakat Indonesia meyakini bahwa kondisi ekonomi rumah tangga mereka akan membaik ketika pandemi virus corona atau Covid-19 berakhir. Adapun, 34,4% masyarakat Indonesia meyakini keadaan ekonomi nasional akan lebih baik pada tahun depan.

Ekonom sekaligus mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menilai optimisme masyarakat tersebut muncul seiring berkembangnya wacana tatanan normal baru. "Persepsi orang jika new normal diterapkan, ekonomi akan pulih," kata Chatib dalam diskusi virtual, Kamis (23/6).

Menurut Chatib, masyarakat selama ini kesulitan untuk bekerja lantaran adanya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di berbagai daerah Indonesia. Sementara, mereka tak memiliki penghasilan ketika diminta untuk tinggal di rumah selama PSBB.

(Baca: Survei SMRC: 64% Masyarakat Indonesia Setuju Pemberlakuan Normal Baru)

Hal tersebut, lanjut Chatib, juga tergambar dari hasil survei SMRC yang menyatakan bahwa pendapatan dari 76% masyarakat Indonesia mengalami penurunan ketika pandemi corona terjadi. Selain itu, kondisi tersebut dapat dilihat dari melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I/2020 menjadi sebesar 2,97%.

Chatib menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot signifikan pada Maret 2020 ketika pemerintah menerapkan PSBB. "Saya tidak akan terkejut bahwa situasi ekonomi menjadi lebih buruk sejak Maret hingga Juni," kata Chatib.

Dengan adanya wacana normal baru, Chatib menilai masyarakat berpikir akan bisa bekerja kembali. Hal itu pun dianggap akan mampu memperbaiki kondisi ekonomi mereka yang terdampak pandemi corona.

Walau demikian, dia tak meyakini jika ekonomi akan membaik pada 2021. Justru, dia menilai masalah baru akan muncul di tahun depan.

(Baca: Dirjen Pajak Loloskan 93% Permohonan Insentif Covid-19)

Sebab, dia memperkirakan banyak UMKM yang belum dapat membayar utang kreditnya pada tahun depan, meski telah dibantu dengan restrukturasi dan penurunan bunga oleh perbankan. Ini karena UMKM akan kesulitan menjual produk mereka di tengah lesunya permintaan pasar."Dalam kondisi ini enggak bisa dukungannya dari penurunan bunga," kata Chatib.

Atas dasar itu, Chatib meminta agar pemerintah dapat mendorong permintaan pasar saat ini. Hal itu dapat dilakukan dengan memperluas lagi bantuan langsung tunai (BLT).

Menurut Chatib, BLT saat ini hanya diberikan pada kelompok miskin. Padahal, masyarakat yang tak bisa bekerja karena adanya PSBB bukan hanya pada kelompok tersebut. "Meningkatkan permintaan itu enggak bisa dengan kebijakan moneter, harus fiskal lewat BLT," kata dia.

(Baca: IMF Pangkas Besar-besaran Ramalan Ekonomi RI Jadi Kontraksi 0,3%)

Reporter: Dimas Jarot Bayu
Editor: Yuliawati

Video Pilihan

Artikel Terkait