Singapura Masuk Jurang Resesi, Rupiah Kembali Melemah

Memburuknya ekonomi Singapura dikhawatirkan akan berdampak terhadap perekonomian Indonesia.
Agatha Olivia Victoria
14 Juli 2020, 17:04
rupiah, jurang resesi, singapura
ANTARA FOTO/Reno Esnir/aww.
Karyawati menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Minggu (7/6/2020).

Nilai tukar rupiah pada perdagangan pasar spot Selasa (14/7) sore melemah 0,17% ke level Rp 14.450 per dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda terseret penurunan pertumbuhan ekonomi Singapura pada kuartal II tahun ini.

Tak hanya rupiah, mayoritas mata uang Asia pun ikut melemah sore ini. Mengutip Bloomberg, yen Jepang turun 0,05%, dolar Singapura 0,22%, dolar Taiwan 0,11%, won Korea Selatan 0,43%, peso Filipina 0,19%, rupee India 0,31%, yuan Tiongkok 0,28%, dan ringgit Malaysia 0,12%. Hanya dolar Hong Kong yang menguat 0,01%.

Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah berada pada posisi Rp 14.512 per dolar AS atau melemah 26 poin. Angka tersebut dipublikasikan Bank Indonesia pada pukul 10.00 WIB.

(Baca: Ekonomi Kuartal II Minus 12,6%, Singapura Masuk Jurang Resesi)

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan pemerintah Singapura pagi tadi melaporkan perekonomian mengalami kontraksi 12,6% pada kuartal II 2020. Bahkan, jika dibandingkan secara kuartalan, perekonomian Negeri Merlion terkontraksi 41,2%. "Memburuknya ekonomi Singapura akan berdampak terhadap perekonomian Indonesia," kata Ibrahim kepada Katadata.co.id, Selasa (14/7).

Negeri Merlion selama ini merupakan mitra bisnis yang sangat strategis serta penyumbang investasi terbesar di Tanah Air.  Singapura merupakan negara penanam modal terbesardi Indonesia yakni US$ 2,7 miliar pada kuartal I 2020.

Dengan demikian, Ibrahim menilai ada kemungkinan pertumbuhan ekonomi RI triwulan II akan mengalami kontraksi pula. Adapun Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya memperkirakan perekonomian Indonesia kuartal II akan terkontraksi 3,8%.

"Namun saya tetap optimistis bahwa apa yang ditakutkan oleh menteri keuangan berbanding terbalik karena fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat dan cadangan devisa kita terus mengalami peningkatan," ujarnya.

(Baca: Perang Dagang AS-Tiongkok Memanas, Rupiah Menguat ke 14.425 per US$)

Kemerosotan yang dalam pada perekonomian Singapura menunjukkan pukulan ekonomi dari semua sisi akibat pandemi. Penurunan perdagangan global menghantam industri manufaktur yang bergantung pada ekspor, sementara peretail telah melihat rekor penurunan penjualan setelah lockdown yang berlaku selama beberapa minggu pada kuartal terakhir. Pemerintah Singapura yang telah memproyeksikan kontraksi ekonomi setahun penuh pada rentang 4% hingga 7%, tidak memberikan perkiraan baru.

Dalam perdagangan Rabu besok, Ibrahim pun memperkirakan rupiah kemungkinan masih akan bergejolak tetapi ditutup menguat tipis di antara Rp 14.420-14.480 per dolar AS.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait