Perusahaan dengan Prinsip Berkelanjutan Akan Bertahan Hadapi Pandemi

Perusahaan dengan prinsip berkelanjutan diperkirakan memiliki potensi mendapatkan keuntungan dalam jangka panjang.
Dimas Jarot Bayu
16 Juli 2020, 15:45
pandemi corona, pembangunan berkelanjutan, bank dbs
Adi Maulana Ibrahim|Katadata
Gita Syaharani, Executive Director Lingkar Temu Kabupaten Lestari saat berdiskusi dalam webinar Katadata - DBS bertajuk Asian Insights Conference 2020: Navigating A Brave New World, Kamis (16/7).

Perusahaan yang menerapkan prinsip berkelanjutan diperkirakan akan memiliki ketahanan yang lebih baik di masa pandemi virus corona. Tren investasi pun diperkirakan akan menyasar perusahaan yang memegang prinsip berkelanjutan.

"Perusahaan yang menjaga sustainability, secara figuratif dan secara fisik itu itu punya daya tahan lebih baik," kata CEO Landscape Indonesia Agus Sari dalam webinar Katadata - DBS bertajuk Asian Insights Conference 2020: Navigating A Brave New World, Kamis (16/7).

Ketua Pengurus Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH) Fitrian Ardiansyah mengatakan perusahaan dengan prinsip berkelanjutan juga dapat meningkatkan produktivitas sehingga berpotensi mendapatkan untung besar dalam jangka panjang.

(Baca: Perempuan Penambang Emas Hadapi Bahaya Kesehatan dan Termarjinalkan)

Selain itu, perusahaan tersebut juga akan mengeluarkan biaya yang lebih sedikit dalam upaya menanggulangi bencana dan konflik sosial karena selalu mempertimbangkan aspek lingkungan hidup dalam operasionalnya. "Keuntungan bertambah karena produktif, lalu cost berkurang. Ini sesuatu yang menarik dan skalanya bisa makin besar sekarang," kata Fitrian.



Produk dari perusahaan yang menerapkan prinsip berkelanjutan pun cenderung akan menjadi pilihan masyarakat. Menurut Executive Director Lingkar Temu Kabupaten Lestari Gita Syahrani, nilai tambah produk lokal yang ramah lingkungan tersebut khususnya berada di sektor fesyen, kecantikan, herbal, serta makanan dan minuman.

Potensi itu semakin terbuka dengan berkembangnya pasar e-commerce di Indonesia yang transaksinya mencapai Rp 17 trilun per bulan selama pandemi. Hanya saja, Gita menilai produk lokal yang dipasarkan di e-commerce baru sekitar 20%. Karenanya, dia menilai pemasaran produk lokal yang ramah lingkungan di e-commerce ini perlu didorong.

(Baca: Pemerintah Siapkan Aturan Perkebunan Sawit dalam Kawasan Hutan)

Advertisement
Reporter: Dimas Jarot Bayu
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait