Efisiensi di Balik Merger Perusahaan Prajogo Pangestu Senilai Rp 52 T

Chandra Asri akan mengembangkan bisnis petrokimianya melalui rencana pembangunan kompleks petrokimia terintegrasi yang kedua.
Image title
Oleh Ihya Ulum Aldin
15 Oktober 2020, 08:00
Chandra Asri, Prayogo Pangestu, merger
katadata/Arief Kamaludin
Ilustrasi, aktivitas instalasi Pabrik PT Chandra Asri Petrochemical di Cilegon, Banten, Rabu, (26/11/2018).

PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) bakal menggabungkan usaha alias merger dengan anak usahanya sendiri yaitu PT Styrindo Mono Indonesia (SMI). Rencana merger dua perusahaan milik Prajogo Pangestu efektif dijalankan mulai 1 Januari 2021.

Berdasarkan prospektus yang disampaikan perusahaan melalui keterbukaan informasi, Rabu (14/10), total aset kedua perusahaan jika digabung mencapai US$ 3,61 miliar atau sekitar Rp 52,48 triliun dengan asumsi kurs Rp 14.500 per US$.

Total aset Chandra Asri per Juni 2020 mencapai US$ 3,29 miliar atau setara dengan Rp 47,73 triliun. Sedangkan total aset SMI per Juni 2020 senilai US$ 327,79 juta atau setara dengan Rp 4,75 triliun.

Kedua perusahaan bergabung dengan tujuan menciptakan perusahaan petrokimia yang lebih terintegrasi di Indonesia. Perusahaan itu diharapkan memiliki kegiatan usahanya meliputi sebagian besar aspek rantai produksi petrokimia.

Kombinasi ini dinilai bisa menciptakan perusahaan yang lebih kuat dan lebih mampu bersaing dengan pemain petrokimia utama regional yang sebagian besar telah terintegrasi. "Hal ini diperlukan terutama dalam menghadapi siklus industri petrokimia," kata manajemen Chandra Asri seperti dikutip dari prospektus.

Efisiensi Bisnis

Direksi dan Dewan Komisaris dari Chandra Asri mempertimbangkan beberapa hal lain terkait merger tersebut. Menurut manajemen, keberadaan SMI selaku badan hukum yang terpisah menimbulkan berbagai transaksi antar perusahaan seperti penagihan biaya antar perusahaan (intercompany charges) dan penempatan karyawan. "Transaksi-transaksi tersebut menimbulkan beban administrasi tambahan," kata manajemen Chandra Asri.

Penggabungan kedua perusahaan ini juga akan mengintegrasikan proses produksi secara keseluruhan, pemetaan produk yang lebih baik, serta meningkatkan sinergi pengadaan dan akuntansi. Sehingga akan meningkatkan kinerja operasional dan mampu menciptakan perusahaan yang lebih sinergis, kuat dan lebih efisien.

Penggabungan akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan usaha sehari-hari dari Chandra Asri. Oleh karena itu, penggabungan ini akan menguntungkan seluruh pemangku kepentingan termasuk pemegang saham publik dari Chandra Asri.

Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menilai rencana merger ini akan memperkuat struktur permodalan sekaligus efesiensi biaya. SMI, anak perusahaan yang bakal dimerger juga dianggap memiliki keunggulan tersendiri yang sangat bagus ke depannya.

"Prospek kinerja perusahaan akan lebih baik, secara valuasi akan trlihat lebih murah dengan adanya penggabungan dua aset," kata Sukarno saat dihubungi.

Analis PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Niken Indriarsih menilai rencana merger Chandra Asri memiliki tujuan yang sama seperti dengan yang pernah dilakukan perusahaan pada 2019. Yaitu untuk membuat proses operasional serta pengambilan keputusan menjadi lebih efisien.

Bangun Kompleks Petrokimia Kedua

Lewat merger ini Chandra Asri akan mengintegrasi proses produksi styrene monomer dari SMI untuk meningkatkan sinergi kegiatan operasional antara dua perusahaan. Kemudian Chandra Asri bisa membuat portofolio produk yang semakin luas.

Menurut manajemen Chandra Asri, potensi pasar domestik sangat luas namun tidak diimbangi oleh pasokan dalam negeri yang memadai, akibatnya impor produk petrokimia masih mendominasi. Dengan latar belakang tersebut mendorong Chandra Asri untuk semakin mengembangkan eksistensi bisnis petrokimianya melalui rencana pembangunan kompleks petrokimia terintegrasi yang kedua.

Namun, keputusan dan pelaksanaan proyek ini tentunya akan berlandaskan pada pendekatan stage-gate yang telah diimplementasikan secara konsisten di Chandra Asri untuk memastikan penggunaan modal secara hati-hati dan efektif untuk melindungi dan meningkatkan nilai pemegang saham secara jangka panjang.

Analis Pefindo Niken mengatakan segmen yang masih akan menjadi penopang pertumbuhan bisnis paling besar adalah segmen polyolefin yang diproduksi Chandra Asri,. Per Juni 2020, segment Styrene Monomer memiliki kontribusi sebesar 12.2%, masih lebih kecil apabila dengan segment polyolefin Perusahaan yang memiliki kontribusi sebesar 66.3%.



Di dalam rencana penggabungan, SMI akan menggabungkan diri dengan Chandra Asri, yang artinya Chandra Asri akan menjadi perusahaan penerima penggabungan. Setelah penggabungan menjadi efektif yang ditargetkan pada awal januari 2021, Chandra Asri akan tetap menjadi perusahaan terbuka yang tercatat di BEI.

Namun, sebelum penggabungan dapat menjadi efektif, ada beberapa ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi, seperti memperoleh seluruh persetujuan yang diperlukan dari masing-masing pemegang sahamnya. Seluruh kewajiban berdasarkan anggaran dasar masing-masing Chandra Asri dan SMI, Undang-Undang Pasar Modal, serta UU PT terkait dengan penggabungan wajib dipenuhi.

Syarat lainnya, tidak terdapat kreditur Chandra Asri dan SMI yang tidak menyetujui rencana penggabungan atau kewajiban terhadap para kreditur yang tidak menyetujui rencana ini. Terakhir, diperolehnya pernyataan efektif penggabungan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Adapun, setelah terjadinya merger, komposisi kepemilikan saham di Chandra Asri tidak berubah dengan asumsi tidak ada pemegang saham Chandra Asri setuju dan tidak menjual saham yang dimilikinya. Alasannya, pada saat dilaksanakannya penggabungan, Chandra Asri telah memiliki 100% saham dalam SMI.

"Maka tidak terdapat pemegang saham SMI yang menjadi pemegang saham di Chandra Asri setelah tanggal efektif penggabungan," seperti dikutip dari prospektus tersebut.

Komposisi pemegang saham Chandra Asri yaitu PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebesar 41,88%. Lalu SCG Chemicals Company Limited memiliki 30,57%. Begitu juga dengan Prajogo Pangestu tetap memiliki saham Chandra Asri sebesar 15,07%. Lalu, Marigold Resources Pte. Ltd. memiliki 4,75%. Terakhir, masyarakat umum memiliki total 7,73% saham Chandra Asri.

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Yuliawati

Video Pilihan

Artikel Terkait