Telkom Poles Bisnis Menara Mitratel Sebelum IPO

Pengalihan 4.000 menara telekomunikasi Telkomsel ke Mitratel senilai Rp 4,99 triliun sudah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham lainnya, yaitu Singapore Telecom Mobile.
Image title
6 September 2021, 19:04
Telkom, Mitratel, menara telekomunikasi, IPO
ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko
Pekerja melakukan perawatan berkala menara (tower) telekomunikasi.

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk tengah mengembangkan anak usahanya PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) menjadi perusahaan menara terbesar di Indonesia. Salah satunya dengan mengalihkan aset menara dari anak PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel).

"Dalam transaksi Telkomsel dan Mitratel merupakan proses kami untuk mempersiapkan Mitratel menjadi perusahaan tower terbesar di Indonesia," kata Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom Heri Supriadi dalam paparan publik, Senin (6/9).

Heri mengatakan Telkom mengkonsolidasi aset-aset menara untuk membuka peluang bisnis di masa depan, di mana menara-menara ini bisa melayani industri telekomunikasi di Indonesia.

Heri mengatakan, transaksi pengalihan 4.000 menara telekomunikasi Telkomsel ke Mitratel senilai Rp 4,99 triliun sudah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham Telkomsel lainnya, yaitu Singapore Telecom Mobile (Singtel). Sehingga, peralihan menara ke Mitratel yang 100% dimiliki Telkom, merupakan transaksi yang wajar.

"Dengan peralihan aset menara ini, bisa dipergunakan oleh Mitratel untuk mengundang manfaat aset ini dengan tenancy yang lebih bagus," kata Heri.

Posisi menara yang diberikan Telkomsel sebagian besar berada di luar Pulau Jawa, sehingga operator telekomunikasi yang akan berekspansi ke luar Pulau Jawa memiliki kesempatan untuk mengisi menara.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Strategic Portfolio Telkom Budi Setiawan Wijaya mengatakan, tidak hanya dari segi jumlah menara dan keterjangkauan saja, Telkom akan melengkapi Mitratel dengan beberapa competitive advantage, salah satunya infrastruktur fiberisasi.

"Mitratel akan memegang beberapa portfolio fiber yang diharapkan bisa melengkapi produk yang ditawarkan Mitratel ke operator telekomunikasi yang membutuhkan," kata Budi.

Sepanjang semester I-2021, Mitratel membukukan pendapatan non-konsolidasi sebesar Rp 3,2 triliun atau tumbuh 10,9% dibanding tahun lalu dengan marjin EBITDA meningkat menjadi 76,5% dibanding 66,6% tahun lalu. Pertumbuhan tersebut membuat bisnis wholesale and international Telkom tumbuh 1,2% menjadi Rp 6,9 triliun.

Sebelum terjadi transaksi penambahan 4.000 menara dari Telkomsel, Mitratel memiliki 23 ribu menara per Juni 2021. Tenancy ratio dari menara-menara tersebut mencapai 1,57 kali. Komposisi lokasinya, sebanyak 57% ada di luar Pulau Jawa. "Memberikan opportunity tenancy yang semakin berkembang nantinya," kata Heri.



Langkah Telkom mengembangkan bisnis Mitratel ini sejalan dengan rencana pencatatan saham perdana alias initial public offering (IPO) Mitratel. Meski begitu, manajemen Telkom dalam paparan publik hari ini, tidak membacakan pertanyaan terkait rencana IPO Mitratel.

Setahun lalu, rencana IPO Mitratel disampaikan oleh Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo yang mengatakan Kementerian BUMN sebagai pemegang saham mayoritas telkom, memberikan lampu hijau rencana tersebut. Jika terwujud, ini menjadi IPO pertama anak usaha Telkom setelah pasang-surut kabar sejak lama.

IPO anak usaha Telkom tersebut merupakan bagian dari program Kementerian BUMN untuk meningkatkan atau menciptakan nilai perusahaan BUMN (value creation). Selain itu, IPO tersebut menjadi salah satu langkah menjadikan BUMN sebagai lokomotif dan transformasi ekonomi nasional.

 

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait