Saat Kredit Lesu, Korporasi Bisa Raup Dana Rp 258 T dari Pasar Modal

OJK menilai selain perbankan yang menyalurkan kredit, pasar modal juga menjalankan fungsi intermediasi industri keuangan untuk pemulihan ekonomi.
Image title
8 September 2021, 17:44
OJK, kredit, pasar modal,
ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/hp.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penghimpunan dana di pasar modal sejak awal tahun hingga 7 September 2021 mencapai Rp 257,88 triliun. Nilai tersebut naik hampir 120% dari awal Agustus lalu sebanyak Rp 117,94 triliun.

"Ini melebihi pertumbuhan di perbankan," kata Ketua Dewan Komisaris OJK Wimboh Santoso dalam diskuis dengan media secara virtual, Rabu (8/9).

Selain itu, terdapat proses penawaran umum (pipeline) hingga akhir tahun dengan nilai Rp 46,76 triliun. Wimboh menilai fungsi intermediasi industri keuangan untuk pemulihan ekonomi seharusnya tidak hanya dilihat hanya pada sektor perbankan melainkan juga pasar modal.

"Sehingga meski pertumbuhan kredit perbankan rendah tapi disubstitusi pembiayaan itu dari pasar modal," kata Wimboh.

Pelaku usaha kecil menengah (UKM) juga bisa ikut serta menarik pembiayaan dari pasar modal melalui skema securities crowdfunding yang disediakan OJK. Otoritas juga mengizinkan pengumpulan dana UKM melalui skema ini hingga Rp 20 miliar.

Di samping aksesnya yang mudah melalui digital, skema pembiayaan ini juga lebih fleksibel dibandingkan perbankan. Pelaku UKM bisa langsung melakukan penarikan dana selama memiliki kontrak atau surat kerjasama untuk proyek tertentu termasuk dengan pemerintah seperti halnya penerbitan surat utang.

Wimboh menyebut berbagai sektor usaha potensial untuk memperoleh pembiayaaan di pasar modal. Teurtama adalah sektor-sektor yg tengah booming, seperti digital startup, sektor lain seperit industri pengolahan juga pertanian.

OJK mencatat realisasi kredit perbankan pada Juli 2021 tumbuh 0,50% secara tahunan, lebih lambat dari pertumbuhan 0,59% bulan sebelumnya. Pertumbuhan terutama terjadi pada kredit konsumsi sebesar 2,4% dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sebesar 1,93%. Sementara itu, kredit korporasi masih terkontraksi 2,2%.

Kendati demikian, Wimboh optimistis kredit bisa tumbuh di kisaran 4% hingga 4,5% hingga akhir tahun. "Ini adalah target yang cukup konservatif, kalau nanti vaksin cepat dan mobilitas membaik serta tidak ada lagi varian baru, ini bisa lebih optimis," ujar Wimboh.



Sekalipun kredit UMKM terus mencatatkan pertumbuhan, survei Bank Indonesia (BI) mencatat masih banyak UMKM yang belum menerima kredit. "Survei BI menunjukan, baru 30,5% pelaku yang menerima kredit," ujar Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia Juda Agung dalam diskusi virtual dengan media, Jumat (3/9).

Nilai penyaluran kredit ke UMKM bulan Juli sudah mencapai Rp 1.135 triliun atau 20,51% dari total kredit. Namun, penyaluran kredit ini masih berada di bawah permintaan UMKM yang diperkirakan mencapai Rp 1.600 triliun.

Juda mengatakan, masih terdapat 69,5% pelaku UMKM yang belum menerima kredit. Sebanyak 43,1% di antaranya membutuhkan kredit, sedangkan 26,4% tidak membutuhkan kredit. BI juga menghitung, potensi permintaan dari 43,1% UMKM yang membutuhkan kredit mencapai Rp 1.605 triliun. Potensi permintaan ini terdiri dari  usaha menengah mencapai Rp 740 triliun, usaha kecil Rp 534 triliun, dan usaha mikro Rp 331 triliun.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait