Penjamin Emisi Ungkap 4 Kunci IPO Bukalapak Sukses Raup Dana Rp 21 T

Sebelum IPO Bukalapak, penjamin emisi perlu menunjukkan bukti kecukupan dana hingga Rp 9 triliun.
Image title
16 September 2021, 19:33
Bukalapak, IPO, GoTo
Google Play Store
Tampilan platform Bukalapak.

Setelah PT Bukalapak.com mencatatkan penawaran saham perdana ke publik (IPO) pada 6 Agustus lalu, sederet unicorn dan decacorn siap menyusul. Ada empat persiapan sehingga Bukalapak berhasil menghimpun dana segar sekitar Rp 21,9 triliun, yang merupakan penggalangan hasil IPO terbesar sepanjang sejarah bursa.

Mandiri Sekuritas yang terlibat dalam proses IPO Bukalapak membeberkan persiapan yang telah dijalani. Pertama, persiapan kecukupan modal. "Kekuatan finansial itu penting, sebab Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan meminta bukti kecukupan dana sebelum melantai di bursa," kata Kepala Divisi Investment Banking Capital Market 2 Mandiri Sekuritas Primonanto Budi Atmojo dalam konferensi pers virtual pada Kamis (16/9).

Budi mengatakan, dana yang dipersiapkan cukup besar dalam proses IPO Bukalapak. "Sebelum melantai di bursa, kami perlu miliki bukti kecukupan dana Rp 9 triliun," katanya.

Persiapan kedua, akses terhadap investor baik dalam dan luar negeri. "Kami di Asia Tenggara cukup bisa jangkau investor. Tapi ketika akses Amerika Serikat (AS) dan Eropa kesusahan," katanya.

Alhasil, perusahaan pun menjalankan skema kerja sama dengan perusahaan asing yang memiliki akses kepada investor di AS dan Eropa.

Ketiga, kerja sama dengan regulator, seperti Bursa Efek Indonesia (BEI) dan OJK. Sebab, menurutnya regulator tersebut akan membantu perusahaan dalam melakukan proses registrasi dan proses klarifikasi.

Unicorn dan decacorn menurutnya perlu mengikuti berbagai perkembangan regulasi yang ada. Misalnya, saat ini OJK sedang menyiapkan aturan baru struktur permodalan saham kelas ganda (dual class share) dengan saham hak suara multipel atau multiple voting shares (MVS) saat IPO.

Dengan aturan MVS, rencana decacorn GoTo untuk IPO tahun ini pun berpotensi tertunda menjadi tahun depan. "Keuntungan Bukalapak adalah, sejak awal perusahaan menerapkan one share one vote, tanpa menunggu aturan MVS," kata Budi.

Terakhir, memahami peta persaingan. "Ini bisa menjadi tantangan dan perlu adanya bimbingan dari regulator agar startup IPO mampu bersaing," kata Bendahara Asosiasi Modal Ventura Seluruh Indonesia (Amvesindo) Edward Ismawan Chamdani.

Menyusul Bukalapak, sejumlah unicorn dan decacorn pun bersiap IPO, GoTo misalnya. CEO GoTo Andre Soelistyo menargetkan pencatatan saham perdana di BEI bisa berlangsung sebelum akhir 2021.

Grup usaha hasil peleburan perusahaan teknologi Gojek dan e-commerce Tokopedia itu juga berencana mendaftarkan sahamnya di bursa AS dengan valuasi potensial sekitar US$40 miliar.

Unicorn Traveloka juga berencana IPO, tapi menyasar bursa AS. CEO Traveloka Ferry Unardi menyampaikan, perusahaan ingin cepat berkembang. Oleh karena itu, unicorn ini mengkaji IPO tahun ini.

Pada tahap awal, Traveloka akan IPO di Wall Street, AS. Namun, Ferry tidak memerinci bursa saham AS yang akan dipilih yakni New York Stock Exchange (NYSE) atau Nasdaq.

Traveloka juga sudah menggaet JPMorgan Chase & Co untuk proses IPO. Setelah AS, unicorn itu barulah melirik penawaran saham perdana di BEI.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait