Akuisisi Philip Morris atas Produsen Inhaler Asma Menuai Protes

Langkah Philip Morris membeli produsen inhaler asma ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang perusahaan.
Image title
17 September 2021, 11:47
Philip Morris, rokok, kesehatan
ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/aww.
Tembakau yang dijemur sebelum diolah menjadi rokok.

Produsen rokok Philip Morris International mengeluarkan 1,1 miliar poundsterling atau setara Rp 21,62 triliun untuk mengakuisisi perusahaan pembuat inhaler asma Vectura pada Kamis (16/9) waktu setempat. Pemegang saham perusahaan rokok asal Inggris tersebut mendukung akuisisi di tengah penolakan dari para profesional kesehatan.

Dilansir dari Reuters, pemegang saham Vecture memutuskan untuk mengambil tawaran Philip Morris untuk membeli saham Vectura senilai 165 pence per saham. Sejauh ini, Philip Morris telah mengamankan persetujuan hampir 75% saham Vectura.

Langkah Philip Morris membeli perusahaan pembuat inhaler yang sahamnya terdaftar di London merupakan bagian dari rencana jangka panjang perusahaan. Philip Morris hendak mengembangkan produk "bebas asap rokok" dan beralih menjadi perusahaan "kesehatan dan kebugaran yang lebih luas".

Aksi korporasi itu mendapat penolakan dari kelompok kesehatan seperti Asthma UK dan British Lung Foundation. Mereka mempertanyakan apakah perusahaan tembakau harus memiliki perusahaan yang menyembuhkan penyakit pernapasan yang disebabkan oleh rokok.

Chief Executive Philip Morris, Jacek Olczak berpendapat, mengakuisisi Vectura adalah bagian penting dari strateginya untuk memindahkan perusahaan keluar dari nikotin. Dia mengatakan kepada Telegraph bulan lalu, para penentang kesepakatan itu tidak tertarik pada kemajuan dan menuduh mereka menyelesaikan masalah lama dengan industri tembakau.

Olczak mengatakan pada Kamis waktu setempat, PMI akan memberikan para ilmuwan Vectura sumber daya dan keahlian untuk mencapai tujuannya menghasilkan setidaknya US$ 1 miliar pendapatan bersih dari produk beyond nicotine ini pada 2025.

Asthma UK dan British Lung Foundation bahkan telah mengirim surat yang mendesak pemerintah untuk melihat masalah konflik kepentingan yang timbul akibat akuisisi ini. Surat itu ditandatangani bersama oleh 35 badan amal, pakar kesehatan masyarakat, dan dokter.

Kepala Eksekutif Asthma UK dan British Lung Foundation Sarah Woolnough mengatakan, ada risiko yang sangat nyata bahwa kesepakatan Vectura dengan Philip Morris akan menyebabkan industri rokok memberikan pengaruh yang tidak semestinya pada kebijakan kesehatan Inggris.

"Kami meminta pemerintah untuk tetap pada komitmennya terhadap Konvensi Kerangka Kerja Organisasi Kesehatan Dunia tentang Pengendalian Tembakau untuk mencegah hal ini terjadi," ujar Woolnough dikutip dari Reuters.

Philip Morris telah menerima izin peraturan untuk kesepakatan akuisisi tersebut dan telah melakukan proses tender publik karena mengakuisisi mayoritas saham Vectura. Sehingga, penawarannya sudah tidak dapat ditarik kembali.

Perusahaan yang secara tidak langsung memiliki saham PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk ini mengatakan akan memperpanjang penawarannya hingga 30 September 2021 untuk memberikan waktu kepada pemegang saham Vectura untuk menerima proposal pembelian pada tender.

Analis bursa masih memantau langkah perubahan yang ditempuh Philip Morris. "Ketidaknyamanan itu baik, cenderung memberikan perubahan, tetapi harus diperhatikan bahwa perubahan yang dijanjikan benar-benar datang dan tidak ada jalan memutar dalam perjalanan, " kata analis keuangan AJ Bell Danni Hewson.

 

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait