Calon Bank Emtek, Modal Mini dan Laba Bersih Naik 138%

Bank Fama yang akan diakuisisi Emtek ini mengantongi laba bersih yang meroket 138,3% pada semester pertama tahun ini.
Image title
5 November 2021, 15:52
Emtek, bank Fama, digital
Grab, Katadata/Desy Setyowati
Ekosistem Grab dengan dukungan Emtek dan Salim

PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) akan mengakuisisi 9,08 miliar unit saham atau setara 93% saham PT Bank Fama International. Salah satu alasan Bank Fama menjual sahamnya untuk memenuhi Peraturan Otoritas Jasa keuangan Nomor 12 sehubungan dengan kewajiban modal inti minimum. OJK ingin seluruh bank umum punya modal inti minimum Rp 3 triliun pada 2022.

Berdasarkan laporan keuangan semester I-2021, modal inti Bank Fama baru Rp 1,02 triliun. Artinya Bank Fama perlu melakukan aksi korporasi penambahan modal untuk minimal mengejar minimum modal Rp 2 triliun akhir tahun ini.

Bank Fama ini didirikan 5 Maret 1993, berkedudukan dan berkantor pusat di Bandung, Jawa Barat. Tanggal 1 November 1993, Bank Fama mulai menjalankan operasinya sebagai bank umum dengan modal dasar Rp 25 miliar dan modal ditempatkan & disetor penuh Rp 10 miliar.

Bank Fama beberapa kali menambah dan mengubah modal dasar. Hingga pada 2 Oktober 2020, Bank Fama menerbitkan saham baru alias rights issue sebanyak 350 juta saham baru bernominal Rp 100 per saham, sehingga jumlahnya menjadi 4,15 miliar saham.

"Bank Fama meningkatkan modal disetor dari Rp 65,5 miliar menjadi Rp 415,5 miliar," kata manajemen Bank Fama dalam laporan tahunan 2020 yang dikutip Katadata.co.id, Jumat (5/11).

Peningkatan modal tersebut, mengakomodasi PT Surya Putra Mandiri Sejahtera untuk masuk sebagai pemegang saham Bank Fama. Setelah rights issue, Surya Putra Mandiri Sejahtera memiliki 1 miliar saham atau setara 24%.

Pada rights issue tersebut, pemilik lama Bank Fama tidak mengambil seluruh haknya sehingga persentase kepemilikan turun. Junus Jen Suherman sebelumnya punya 393 juta lembar saham atau setara 60%. Setelah Rights issue menjadi punya 1,89 miliar saham atau setara 46%.

Edi Susanto dan Dewi Janti masing-masing punya 131 juta saham atau setara 20%. Setelah rights issue, jumlah kepemilikan saham masing-masing menjadi 631 juta saham atau setara 15%.

Tidak berselang lama, pada 30 Desember 2020 Bank Fama kembali meningkatkan modal disetor dari Rp 415,5 miliar menjadi Rp 780,5 miliar. Dengan nominal Rp 100 per saham, artinya jumlah saham Bank Fama meningkat dari 4.155 saham menjadi 7.805 saham.

Dalam aksi korporasi kali ini, Surya Putra Mandiri Sejahtera tidak mengambil haknya sehingga persentase kepemilikannya terdilusi menjadi 13%. Sedangkan, persentase kepemilikan ketiga pemegang saham lainnya naik.

Junus Jen Suherman kali ini memiliki 4,08 miliar saham atau setara 53%. Edi Susanto dan Dewi Janti masing-masing memiliki 1,36 juta saham atau setara 17%.

Berdasarkan prospektus terbaru, modal dasar Bank Fama per 23 Agustus 2021 mencapai Rp 1,4 triliun dengan modal ditempatkan dan disetor Rp 977,36 miliar. Jumlah sahamnya mencapai 9,77 miliar yang artinya ada penambahan modal lagi yang dilakukan Bank Fama pada 2021.

Kali ini, Junus Jen Suherman memiliki 5,11 miliar saham atau setara 52,31%. Lalu, Edi Susanto dan Dewi Janti masing-masing punya 170,42 miliar atau setara 17,43%. Sementara Surya Putra Mandiri Sejahtera punya 1,25 miliar saham atau setara 12,81%.

Berdasarkan laporan keuangan semester I-2021, Bank Fama mampu mengantongi laba bersih Rp 27,99 miliar. Laba bersih Bank Fama meroket 138,3% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 11,74 miliar.

Laba bersih tersebut berasal dari beban bunga yang turun signifikan. Pada semester I-2021, Bank Fama catatkan beban bunga Rp 10,56 miliar atau turun 68,21% dibandingkan semester I-2020 mencapai Rp 33,23 miliar.

Padahal, pendapatan bunga Bank Fama dalam enam bulan pertama tahun ini Rp 53,17 miliar atau turun 7,84% dari Rp 57,69 miliar. Sehingga, pendapatan bunga bersih Bank Fama menjadi Rp 42,61 miliar atau tumbuh 74,16% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 24,46 miliar.

Advertisement

Bank Fama catatkan total kredit Rp 744,93 miliar per Juni 2021, turun dari Rp 766,67 miliar per Desember 2020. Sehingga, total aset Bank Fama Rp 1,55 triliun per Juni 2021, turun dari Rp 1,71 triliun per Desember 2020.

Di sisi lain, total dana pihak ketiga Bank Fama per Juni 2021 sejumlah Rp
499,91 miliar atau turun dari Rp 703,66 miliar per Desember 2020. Akibatnya liabilitas Bank Fama per Juni 2021 Rp 518,86 miliar sementara per Desember 2020 senilai Rp 714,29 miliar.

Berdasarkan laporan tahunan per 2020, Bank Fama berkantor pusat di Bandung, Jawa Barat. Bank ini membuka kantor cabang satu-satunya di Tanah Abang, Jakarta. Sementara, terdapat enam kantor cabang pembantu yang tersebar di daerah Bandung dan Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan.

Emtek Akuisisi Bank Fama 93%

Berdasarkan ringkasan rencana pengambilalihan, Emtek akan membeli saham Bank fama dari empat pihak, yaitu dari Junus Jen Suherman sebanyak 4.428.701.427 unit saham, dari Edi Susanto 1.704.285.876 saham, Dewi Janti 1.704.285.876 saham, dan dari PT Surya Putra Mandiri Sejahtera sebanyak 1.252.230.621 saham.

Setelah akuisisi tersebut, Emtek menjadi pemegang 9.089.503.800 lembar saham Bank Fama dengan total nilai nominal Rp 908.950.380.000 yang mewakili 93% dari total saham yang disetor di bank tersebut.

Berikutnya, 684.156.200 saham Bank Fama akan dimiliki oleh PT Nusantara Berkat Agung dengan total nilai nominal yaitu Rp 68.415.620.000. Angka tersebut mewakili 7% dari total saham yang diperoleh dari pembelian 684.156.200 lembar saham dari Junus Jen Suherman.

Alasan dan tujuan EVM sebagai pihak yang melakukan akuisisi adalah sejalan dengan rencana bisnis jangka panjang dari EMV untuk mengembangkan usahanya di Indonesia. Salah satunya meningkatkan literasi keuangan dan akses perbankan di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

"Pengambilalihan yang diusulkan mewakili investasi strategis oleh EMV dan diharapkan meningkatkan pendapatan di masa depan dan nilai dari EMV," kata Manajemen EMV dalam prospektus yang terbit Jumat (5/11). depan dan nilai dari EMV," kata Manajemen EMV dalam prospektus yang terbit Jumat (5/11).

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait