BPS: Harga Sembako Turun, Deflasi 0,02% di Februari

Harga komoditas pangan turun sepanjang bulan lalu menyebabkan deflasi 0,02% pada Februari 2022.
Image title
1 Maret 2022, 11:20
deflasi
ANTARA FOTO/Jojon/hp.
Pedagang berada dilapak jualan cabainya di Pasar Mandonga, Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (28/2/2022).

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan terjadi deflasi 0,02% pada Februari 2022. Deflasi terjadi karena  sejumlah harga komoditas pangan kebutuhan pokok turun sepanjang bulan lalu yang mendorong penurunan pada indeks harga konsumen (IHK). Ini merupakan deflasi pertama sejak September 2021.

"Penyumbang deflasi utama terkait harga-harga komoditas seperti minyak goreng, telur ayam ras serta daging ayam ras." kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Setianto dalam konferensi pers secara daring, Selasa (1/3).

Inflasi secara tahunan (yoy) juga melemah dari bulan Januari sebesar 2,18% menjadi 2,06%. Adapun inflasi secara tahun kalender sebesar 0,54%.

Dari 90 kota yang di survei BPS, terdapat 53 kota yang mencatat deflasi dan sebanyak 37 mencatat inflasi. Deflasi terdalam terjadi di kota Tanjung Pandan sebesar 2,08%. Penyebab deflasi di Tanjung Pandan dikarenakan penurunan harga ikan dan minyak goreng.

Adapun inflasi tertinggi di kota Kupang sebesar 0,65%. Komoditas pendorong kenaikan inflasi tersebut antara lain karena ikan kembung, kangkung dan sawi hijau.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, deflasi terutama didorong oleh penurunan harga pada kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan andil minus 0,22%. Deflasi pada kelompok ini sebesar 0,84%. Komoditas utama penyebab deflasi pada kelompok ini yaitu penurunan harga minyak goreng sebesar 0,11%. "Pada awal Februari, Kemendag menerbitkan peraturan Permendag No 6 2022 tentang penetapan harga eceran tertinggi minyak goreng Sawit," kata Setianto.

Selain minyak goreng, juga terjadi deflasi 0,1% pada telur ayam ras. Penyebabnya karena terjadi surplus produksi telur ayam ras di tengah permintaan masih normal. Faktor serupa yang juga mendorong deflasi 0,06% pada daging ayam ras.

Advertisement

Meski demikian, sebagian besar kelompok pengeluaran masih mengalami inflasi. Sumbangan inflasi terutama dari kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,05%. Pada kelompok ini terjadi inflasi 0,25%, terutama karena kenaikan harga LPG non-subsidi. Selain itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran menyumbang inflasi 0,05%. Kelompok ini mengalami inflasi 0,53%.

Berdasarkan komponen pembentuknya, deflasi terbesar pada komponen harga bergejolak dengan andil 0,25% terhadap deflasi bulan lalu. Komponen ini mencatat deflasi 1,5% secara bulanan, terutama karena penurunan harga minyak goreng, telur ayam ras, daging ayam ras dan cabai rawit.

Komponen inti masih berhasil mencatat inflasi 0,31% dengan andil inflasi 0,2% ke IHK bulan lalu. Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada komponen inti karena kenaikan harga sewa rumah, sabun deterjen bubuk atau cair, serta upah asisten rumah tangga, mobil dan emas perhiasan.

Komponen harga diatur pemerintah juga mengalami inflasi 0,18% dengan aandil 0,03%. Penyebab inflasi pada komponen ini karena kenaikan harga bahan bakar rumah tangga, rokok kretek filter dan rokok kretek putih.

Bank Indonesia sebelumnya  memperkirakan terjadi penurunan harga atau deflasi pada Februari 2022 sebesar 0,05%. Deflasi dipicu oleh penurunan harga sejumlah komoditas seperti telur ayam ras, minyak goreng, hingga daging ayam ras.

Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman juga memperkirakan akan terjadi deflasi sebesar 0,1% pada Februari. Sementara secara tahunan, inflasi diperkirakan melemah menjadi 1,97% dibandingkan 2,18% pada bulan lalu.

"Penurunan tersebut terutama didorong oleh penurunan harga pangan akibat normalisasi harga usai libur akhir tahun dan musim panen, serta penurunan tingkat mobilitas di tengah varian Omicron yang menekan biaya jasa transportasi," kata dia.

Inflasi inti diperkirakan akan menguat menjadi 1,91% secara tahunan. Kenaikan ini seiring dengan berlanjutnya pemulihan ekonomi, dan kenaikan harga emas terkait dengan meningkatnya ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait