Penerapan Teknologi Industri 4.0 Tak Perlu 100%

Sritex ke depannya tidak hanya fokus pada hasil akhir produk, tapi juga memperhatikan pasokan bahan baku.
Yuliawati
8 April 2018, 10:00
CEO PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) Iwan Setiawan Lukminto
Katadata
CEO PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) Iwan Setiawan Lukminto

 

Sejak kapan Sritex mengembangkan lembaga riset? Berapa biaya yang dikeluarkan untuk riset?

Biaya riset kami hanya 1% dari cost of goods sold (COGS), karena memang terus kontinyu mengembangkan riset. Sejak tahun 1990an, saat perusahaan masih dikelola bapak (pendiri Sritex almarhum Muhamad Lukminto), Sritex sudah memiliki divisi riset. Tim riset saat ini sekitar 10 orang dengan kepala riset asal India. Kami juga kerja sama riset dengan lembaga lain. April tahun lalu kami juga meresmikan innovation centre di Solo.

Advertisement

Riset di pabrik tekstil itu tidak seperti membuat mobil, karena mesin-mesin (yang sudah ada) bisa digunakan. Misalnya membuat kaos tertentu, konstruksinya diubah sedikit. Sehingga tidak terlalu berpengaruh pada biaya (produksi). Sedikit plug and play.

Mengapa Sritex memperbesar produksi seragam daripada pakaian umum?

Awalnya Sritex memproduksi pakaian umum, namun kemudian mencari mana yang lebih sustain, istilahnya yang bisa memberikan solusi untuk suatu organisasi. Pakaian seragam itu harus memberi solusi pada organisasi seperti keseragamannya harus bagus, size harus benar, kualitas harus bagus. Jadi, kami mencari yang sustain. Saat ini komposisi pakaian seragam 65% dari total produksi garmen 2017. Ordernya sedang banyak.

(Sejak 1993 Sritex membuat kesepakatan dengan North Atlantic Treaty Organization (NATO) untuk menyuplai pakaian seragam militer. Saai ini telah memasok ke sekitar 35 negara)

Apakah ada kiat khusus mempertahankan berbisnis seragam dengan kalangan militer?

Sebenarnya kiat khususnya adalah kualitas, semuanya kembali ke kualitas. Kalau dengan militer, kami harus merasakan bagaimana kesusahan mereka. Misalnya, pada waktu tentara di bawah terik matahari, saat merayap di hutan bagaimana, itu kami mencari tahu apa yang mereka rasakan.

Posisi keringat di mana saja (Iwan sembari menunjukkan ketiak, punggung dan leher) itu semua kami pelajari dulu, riset, sebelum memproduksi. Sehingga kami bisa memberi solusi yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Kami juga punya pengalaman dengan tentara internasional. Tim riset kami lengkap.

Yang menarik pakaian militer di Eropa, mereka kan memiliki empat musim sehingga banyak tipenya tergantung musim. Kami belajar dan berinovasi lewat berbagai order yang masuk. Permintaan mereka sebagai literatur ke depan untuk mengembangkan inovasi. Seperti pakaian yang antiinfra merah, antiair, antinyamuk, jadi kami tahu bagaimana mengembangkan produk berkualitas.

Dalam tekstil, tingkatan paling sulit itu memproduksi pakaian militer karena serba high spec. Nah kami punya pengalaman itu, jadi tidak sulit ketika memproduksi yang lain.

Sritex
Pabrik Sritex (sritex.co.id)

 

Apakah ada perbedaan kualitas antara produk ekspor dan lokal?

Tidak dibedakan. Sudah ada standar internasional. Kami tidak memberikan kebijakan berbeda di dalam pabrik. Kalau berbeda, mindset pekerjanya nanti akan rusak. Untuk konsumen, semuanya harus bagus. Harga pun sama menggunakan market price.

Berapa besar pasar ekspor saat ini? Apakah ada pasar baru yang dijajaki?

Pasar ekspor saat ini sekitar 53%-54% dari total penjualan. Bila dibagi secara geografis, Asia yang paling besar kemudian Eropa dan Amerika. Pasar ke Asia itu hampir 60% dari total ekspor. Negaranya seperti Tiongkok, Korea Selatan, Jepang dan Malaysia.

Kami akan menambah penetrasi ke Amerika Selatan seperti Peru, Brasil, Argentina, Kolombia. ini yang kami gali karena di kawasan itu penggunaan tekstil cukup besar. Kami ekspor benang dengan respon yang bagus. Dua perusahaan yang baru kami akuisisi itu memiliki pasar ekspor yang kuat di sana, dan kami bonceng market mereka dengan produk lain dari Sritex.

Terkait kebijakan perang dagang Trump, apakah akan mengganggu ekspor ke tekstil ke Amerika?

Kalau saya lihat, AS itu tidak melihat tekstil khususnya dari Indonesia, sebagai ancaman buat mereka. Justru sekarang Indonesia memperbaiki hubungan bilateral dengan AS. AS akan menjajaki untuk menjual kapas ke kami sehingga kami bisa meningkatkan ekspor serat katun. Itu salah satu program dari Kementerian Perindustrian. Kami impor kapas dari AS lalu produk olahannya dikirim lagi ke AS. Kami ekspor produk dengan nilai tambah.

Persaingan dengan negara lain seperti apa, yang paling agresif untuk sektor tekstil mungkin Tiongkok?
Kalau persaingan dengan Tiongkok memang volume mereka besar. Indonesia dan Tiongkok dari sisi skala ekonomi jauh sekali. Mereka penduduknya 1,2 miliar jiwa, kita hanya 250 juta jiwa. Itu berarti penduduk kita hanya 20% dari Tiongkok dan mereka memiliki industri yang besar-besar. Tiongkok punya kesulitan sendiri, Indonesia juga punya kesulitan sendiri. Sekarang membuat tekstil di sana tidak murah. Semakin mahal.

Kami punya displacement order dari Tiongkok pun luar biasa. Jadi, saya rasa Tiongkok bisa untuk salah satu sourcing partner juga. Yang berikutnya negara-negara di ASEAN ini melakukan kegiatan di garmen banyak juga tetapi nilai persaingannya antara Indonesia-Vietnam akan par alias saling mengisi. Kenapa par, karena masing-masing negara memiliki inflasi dan taraf hidupnya naik sehingga upah minimum karyawan tidak seolah-olah murah. Belum tentu, kita harus melihat industri ini supply chainnya bagaimana.

Jadi, kalau saya rasa ASEAN akan par persaingannya, tidak terlalu berdarah-darah. Sekarang para pembeli itu selalu memberi order ke negara-negara ASEAN. Mereka mendiversifikasi negara tempat mereka impor tekstil atau garmen. Mereka tidak mau tergantung juga pada Tiongkok, ini tren yang terjadi saat ini.

Mengapa Sritex tertarik berinvestasi di Hutan Tanaman Industri, bagaimana perkembangannya?

Masih dalam proses riset. Investasi HTI akan di luar Sritex karena industri yang berbeda, dan tetap  fokus produksi tekstil dan garmen. HTI akan mendukung industri pabrikan pulp kemudian serat rayon.

Saat ini kami masih menggunakan bahan baku impor, untuk serat rayon itu komposisinya 50%, polyester 40% dan katun 100% dari Amerika, Australia dan Brasil. Dengan impor, dolar menjadi hilang. 

Dengan membangun HTI kami rencananya dapat mengurangi ketergantungan impor serat rayon. Sritex ke depannya tidak hanya fokus pada hasil akhir produk, tapi juga memperhatikan pasokan bahan baku. Kami memikirkan ini, siapa yang kuat di sini (akses ke bahan baku) akan menjadi (perusahaan) besar. Apabila ini terealisasi, kami akan menjadi pionir, satu-satu perusahaan tekstil yang punya HTI.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait