Konsumsi Masyarakat "Lockdown", Ekonomi RI Langsung Jatuh

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II diprediksi akan merosot lebih dalam hingga minus 5%.
Pingit Aria
7 Mei 2020, 09:05
Ilustrasi ekonomi
123rf

Proyeksi dan Cermin Inflasi

Kontraksi pada tiga sektor konsumsi barang sekunder ini akibat kebijakan physical distancing dan pengurangan aktivitas penduduk yang sudah berlangsung sejak pekan kedua Maret lalu. Diperkirakan kontraksinya akan makin dalam di kuartal II 2020, seiring dengan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Dampaknya akan lebih terasa pada periode April-Mei, saat ada pembatasan sosial yang semakin ketat,” kata Radhika Rao, ekonom DBS.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pun memperkirakan ekonomi pada kuartal II akan jatuh lebih dalam. “Kuartal II kami antisipasi akan lebih dalam jatuhnya karena PSBB meluas, bukan hanya di Jabodetabek," katanya dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat melalui konferensi video di Jakarta, Rabu (6/5).

(Baca: Ekonomi Kuartal I Anjlok, Jokowi: Relatif Baik Dibanding Negara Lain)

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menjelaskan, nilai konsumsi rumah tangga pada 2019 sebesar Rp 9.000 triliun. Dari angka tersebut, sebesar Rp 5.000 triliun merupakan nilai konsumsi di Jabodetabek dan Pulau Jawa.

"Kalau hanya di rumah mereka tidak mungkin akan konsumsi hingga Rp 5.000 triliun sehingga dampak di kuartal II akan berat sekali," ujarnya.

Matinya Hiburan Merakyat
Matinya Hiburan Merakyat (Adi Maulana Ibrahim|Katadata)

 

Proyeksi kejatuhan ekonomi yang lebih dalam pada kuartal kedua sebenarnya bisa dilihat dari data inflasi yang diumumkan BPS.  (BPS) mencatat, inflasi pada April 0,08% secara bulanan (month to month/mtm) dan 2,67% secara tahunan. Inflasi bulan lalu lebih rendah dibanding pada Maret 0,10% maupun April tahun lalu yang sebesar 0,44%. 

Kepala BPS Suhariyanto menyatakan, inflasi pada bulan April sebagai anomali. Sebab, menurut pola historis, menjelang Ramadan dan Lebaran inflasi umumnya meningkat. "Tahun ini berbeda. Akibat Covid-19 pola konsumsi berubah, melambat dibanding sebelumnya," kata dia.

Perlambatan inflasi disebabkan oleh beberapa faktor. Selain harga pangan yang cenderung stabil, ada tren penurunan permintaan barang dan jasa seiring melemahnya daya beli masyarakat setelah penerapan PSBB. 

Seperti diketahui, pemberlakuan PSBB berarti menghentikan sementara Sebagian besar kegiatan industri. Kegiatan usaha informal pun terdampak seiring turunnya mobilitas masyarakat.

(Baca: Corona Hambat Produksi & Distribusi Barang, Inflasi April Diramal Naik)

Merujuk data inflasi April yang muram, Direktur Eksekutif Center Of Reform on Economics Mohammad Faisal memperkirakan perekonomian Indonesia pada kuartal II  2020 terkontraksi antara -1,9% hingga -5%.

Ia menjelaskan, konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi andalan pertumbuhan ekonomi domestik diperkirakan terkontraksi -1,1% hingga -2,7%. "Konsumsi rumah tangga menjadi pemicu kontraksi ekonomi," ujar Faisal kepada Katadata.co.id, Selasa (5/5).

Dihubungi secara terpisah, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance Ariyo Irhamna juga memprediksi ekonomi domestik pada kuartal II 2020 terkontraksi hingga -2%. "Ini sangat bergantung dengan penyebaran Covid-19 dan respons kebijakan," ujar Ariyo.

(Baca: Rupiah Menguat ke 15.080 per Dolar AS Meski Ekonomi Kuartal I Anjlok)

Menurutnya, jika kasus penularan Covid-19 semakin banyak dan tak terkendali, perekonomian kuartal II akan sangat mungkin menyentuh proyeksi pertumbuhan ekonomi negatif tersebut. Hal itu berlaku pula apabila insentif dan bantuan pemerintah tak efektif.

Lebih Baik dari Negara Lain

Bagaimanapun, Presiden Joko Widodo menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia tak buruk-buruk amat dibandingkan negara lain yang juga menghadapi pandemi Covid-19. (Baca: BI Optimistis Pertumbuhan Ekonomi pada Kuartal II 2020 Sebesar 0,4%)

Jokowi mencontohkan, ekonomi Tiongkok pada kuartal I 2020 minus 6,8% dari sebelumnya sebesar 6%. Dengan demikian, total penurunan kinerja ekonomi Negeri Tembok Raksasa tersebut sebesar 12,8% secara tahunan.

Selain itu, total penurunan kinerja ekonomi Perancis mencapai 6,25%, sedangkan Hong Kong mencapai 5,9%. "Spanyol deltanya 5,88%, Italia deltanya 4,95% tumbuh negatif. Kinerja ekonomi negara kita relatif masih baik," kata Jokowi saat membuka Sidang Kabinet Paripurna melalui video conference, Rabu (6/5). 

Reporter: Agatha Olivia Victoria, Dimas Jarot Bayu
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait