Alvin (16), anak SMA dari Ciamis 'bertanding' menguji pengetahuan investasi sahamnya dengan Otta (27) seorang pemain keyboard. Meski masih belia, Alvin punya pengetahuan seputar saham, analisis teknikal dan fundamental saham.

Founder dan CEO PT Tetra Digital Investindo Luke Syamlan dengan gaya santai memoderatori pertandingan virtual di antara keduanya. Pertandingan ini digelar untuk menunjukkan dari kalangan mana pun dapat mempelajari ilmu 'bermain' saham.

“Banyak orang yang bilang kalau saham itu sophisticated, hanya orang-orang yang berpendidikan tinggi yang bisa transaksi saham, butuh modal besar, dan jika tidak bisa memantau saham setiap hari lebih baik tidak usah terjun ke pasar modal,” kata Luke membuka acaranya dalam video Youtube di akun Sahamology yang diunggah Minggu (20/9).

Baik Alvin dan Otta sama-sama punya pengetahuannya mengenai pasar modal. Namun, dalam pertandingan kali ini, Otta berhasil menjawab lebih banyak dibandingkan Alvin.

Pertandingan uji pemahaman seputar saham merupakan salah satu konten video yang cocok untuk anak muda. Sahamology tak membatasi materi hanya kepada kelompok umur tertentu. Topik-topik pelatihannya yang paling sederhana seperti ‘Belajar Saham Untuk Pemula’, ‘Memahami bid and offer Saham’. Ada juga  topik yang terdengar rumit bagi orang investor pemula seperti ‘Fibonacci Retracement’ atau ‘Swing Trading Strategy’.

Sahamology dikelola PT Tetra Digital Investindo yang didirikan Luke Syamlan bersama analis pasar modal Satrio Utomo. Sahamology gencar mengadakan pelatihan pasar modal pada awal April 2020 atau tak lama setelah pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Karena pelatihan digelar bertepatan dengan PSBB, peminat kelas-kelas Sahamology pun tinggi. Dalam sebulan, mereka mampu menjaring 500 hingga 800 peserta. Sejak pertama kali pelatihan digelar pada awal April 2020, Sahamology telah menggelar 107 kelas pelatihan dengan lebih dari 5.000 peserta.

Kelas-kelas online memang cocok dengan penerapan PSBB demi meminimalisir risiko penularan virus corona. Setiap sesi pelatihan ini membatasi jumlah peserta maksimal 50 orang, tujuannya agar peserta dapat aktif berinteraksi dengan pemberi materi.

Pelatihan-pelatihan tersebut dibanderol dengan tarif yang sangat terjangkau, yakni Rp 100 ribu untuk paket termurahnya, sedangkan yang termahal pun hanya Rp 250 ribu.

Satrio menjelaskan bahwa Sahamology membidik 'segmen sedekah' yakni tarif yang dipasang hanya sebagai filter supaya peserta pelatihan yang mendaftar benar-benar memiliki niat untuk terjun ke pasar modal. “(Pelatihan) yang kami tawarkan tidak mahal tapi hanya sekedar barrier to entry. Jika pelatihannya gratis, biasanya peserta tidak serius, yang datang itu malah orang yang tidak butuh ilmu,” kata Satrio kepada Katadata.co.id, Kamis (24/9).

Minat Tinggi Masyarakat Belajar Pasar Modal

Satrio mengatakan para peserta yang mengikuti kelasnya biasanya memiliki pengetahuan yang minim tentang pasar modal. “Level pengetahuan peserta kami di pasar modal itu banyak newbie yang baca bid dan offer saja tidak bisa. Padahal itu kan basic supply dan demand,” ujarnya.

Investor pemula yang minim pengetahuan ini rawan menjadi korban penipuan. Satrio mencontohkan kasus Jouska yang mencuat beberapa waktu lalu sebagai contoh fenomena orang yang rajin cari informasi dan pelatihan pasar modal, tapi bertemu dengan pihak-pihak seperti Jouska yang ‘menelan’ mereka secara bulat-bulat.

Jouska
Jouska (Instagram Aakar Abyasa)
 




Oleh karena itu, dia mewanti-wanti investor agar selalu waspada dengan fenomena yang ia sebut sebagai ‘pom-pom’ saham di komunitas-komunitas dan pelatihan pasar modal. Lalu apa yang dimaksud dengan ‘pom-pom’ saham?

Satrio menjelaskan bahwa ‘pom-pom’ saham aktivitas di mana ada seorang trader pasar modal yang merekomendasikan suatu saham tertentu dengan maksud untuk menggoreng saham tersebut. Padahal ada maksud di belakang aksi tersebut.

“Ketika orang itu merekomendasikan beli, justru kita harus curiga jangan-jangan dia sedang berusaha menjual sahamnya dengan harga tinggi, dan sebaliknya, jika ada pihak yang merekomendasikan jual saham tertentu, dia sedang menumpuk saham tersebut dengan harga murah,” kata dia.

Ini hanyalah sebagian kecil dari materi yang diajarkan tim Sahamology terkait praktek bandar di pasar modal.

Sama seperti Satrio, praktisi keuangan dan investasi, Ryan Filbert juga berusaha menangkap potensi pasar dari tingginya gairah investasi di masyarakat. Meski demikian, Ryan menyatakan tidak menargetkan segmen tertentu. Walaupun dia mengakui bahwa sebaran investor di kelompok usia 18-35 memang jumlahnya paling banyak.

“Kami lebih ke umum, tidak khusus targetkan anak-anak muda. Karena mereka bisa mengakses lewat kanal YouTube. Setiap minggu tim kami selalu membuat konten di YouTube,” ujar Ryan kepada Katadata.co.id.

Artinya, ada berbagai cara untuk belajar tentang dunia pasar modal. Salah satunya juga bisa melalu pendidikan formal, seperti mengambil kuliah jurusan ekonomi yang ada kaitannya dengan pasar modal. Meski demikian dia meyakini pendidikan formal tidak pernah mengajarkan cara trading saham, atau ilmu analisa teknikal maupun fundamental.

“Yang ada ilmu membaca laporan keuangan, tapi tidak ada ilmu yang menjustifikasi perusahaan sehat atau tidak. Intinya ilmu pada perkuliahan sangat minim untuk mencapai keputusan jual dan beli saham,” kata Ryan.

Pandemi juga membuat pelatihan trading Ryan melalui kelas online Saving saham kebanjiran peserta, terutama pada periode Mei dan Juni. Ryan menyebut kelas pelatihan Saving Saham yang paling banyak dipilih konsumennya sejak 2017.

Dengan harga paket pelatihan yang mulai dari harga ratusan ribu rupiah hingga jutaan, Saving Saham jelas membidik segmen pasar yang berbeda dibandingkan Sahamology. “Kelas ada cukup banyak, ada kelas analisa teknikal, kelas analisa fundamental, ada kelas perencanaan aset, ada kelas online reksadana, banyak pilihannya,” kata dia.


Selain kelas yang berbayar, ada juga wadah edukasi pasar modal gratis, misalnya klub pasar modal di Universitas Padjajaran. Klub yang bernama Financial Market Community (FMC) berada di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) sejak berdirinya Pojok Bursa Efek Indonesia (Pojok BEI) di lingkungan Unpad pada 1996.

Menurut ketua FMC FEB Unpad, Justine Naima Cosslett, FMC ini merupakan wadah bagi mahasiswa untuk belajar tentang seluk beluk pasar modal. “Banyak mahasiswa yang antusias dengan pasar modal sampai akhirnya memutuskan bergabung dengan FMC,” kata Justine.

Bahkan tak sedikit mahasiswa di komunitas ini yang akhirnya menjadi investor di pasar modal setelah bergabung. Termasuk Justine yang memutuskan untuk berinvestasi saham tak lama setelah bergabung dengan FMC.

Menariknya, FMC ini memiliki tim risetnya sendiri untuk menganalisis saham-saham yang akan direkomendasikan kepada anggotanya. Seperti pekan lalu, Justine mengatakan bahwa tim riset FMC yang telah dibekali dengan pelatihan dan workshop seputar pasar modal dan merekomendasikan beberapa saham.

“Saat ini memang sudah banyak sekali program kerjanya, tapi kami masih fokus di pasar modal. Belum berani untuk coba ke investasi lain di luar itu,” ujarnya.

Penyumbang bahan: Muhamad Arfan

Editor: Yuliawati