Di Bawah Target APBN, Lifting Minyak Kuartal I Baru 787.800 Bph

''Penyebab lifting turun itu akibat cuaca buruk, lifting terganggu sehingga (kapal) tanker sulit merapat ke fasilitas.''
Anggita Rezki Amelia
7 April 2017, 16:13
Migas
Dok. Chevron

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat produksi siap jual (lifting) minyak hingga kuartal I tahun ini baru mencapai 787.800 barel per hari (bph). Jumlahnya masih jauh di bawah target lifting dalam Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2017 sebesar 815 ribu bph.

Sekretaris SKK Migas Budi Agustiono mengatakan, realisasi lifting minyak kuartal I ini menurun akibat faktor gangguan cuaca, khususnya di perairan laut Jawa Timur. Alhasil, kegiatan lifting di fasilitas FSO Gagak Rimang tidak bisa beroperasi secara maksimal.

Demi menghindari kepenuhan tangki atau top tank pada FSO Gagak Rimang,  produksi minyak di Blok Cepu pun dikurangi dari 200 ribu bph menjadi hanya 50 ribu bph selama satu pekan. ''Penyebab lifting turun itu akibat cuaca buruk, lifting terganggu sehingga (kapal) tanker sulit merapat ke fasilitas,'' kata Budi dalam pertemuan dengan wartawan di Cilegon, Jawa Barat, Jumat (6/4).

(Baca: Biaya Produksi 48 Kontraktor Migas Mahal, tapi Hasilnya Sedikit)

Sementara itu, capaian lifting gas pada kuartal pertama 2017 sebesar  6.503 juta kaki kubik per hari (mmscd). Jumlahnya melebihi target dalam APBN tahun ini sebesar 6.440 mmscfd.

Meski begitu, realisasi produksi minyak kuartal I tahun ini sebenarnya telah mencapai target dalam APBN 2017, yakni sebesar 815.600 bph. Jumlahnya lebih besar dari target dalam rencana program kerja dan anggaran (WP&B) 2017 yang sebesar 808.400 bph. Sementara itu realisasi produksi gas mencapai 7.740 mmscfd, lebih rendah dari target yang sebesar 7.859 mmscfd.

Budi mengungkapkan, terdapat tantangan dalam proses lifting migas bagian pemerintah dari setiap lapangan yang beroperasi. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan jumlah armada tanker Pertamina, yang memang berperan melakukan lifiing migas bagian pemerintah.

Ia mengatakan, ada beberapa tanker milik Pertamina yang perlu diperbaiki untuk menunjang optmalisasi lifting. ''Kami lagi minta mereka (Pertamina) perbaiki. Kalau minyak bisa kita stok liftingnya ke periode berikutnya, kalau gas yang susah karena masa penampungannya terbatas,'' katanya.

(Baca: Kuartal I 2017, Dana Penggantian Operasi Migas Turun 13 Persen)

Di sisi lain, investasi sektor migas selama kuartal I ini sudah mencapai 14 persen atau sekitar US$ 1,9 miliar. Perinciannya, sebesar US$ 100 juta di blok eksplorasi, dan sekitar US$ 1,8 miliar di blok eksploitasi.

Budi mengatakan, pencapaian investasi migas kuartal I tahun ini memang belum signifikan karena beberapa kegiatan utama sektor hulu migas belum berjalan secara masif. Adapun, target investasi migas tahun ini sebesar US$ 13,8 miliar.

Berdasarkan data SKK Migas,  rencana program survei seismik 2D tahun ini ditargetkan sebanyak 25 kegiatan sepanjang 10.246 kilometer (km). Namun, realisasinya hingga kuartal I ini hanya satu kegiatan yakni sepanjang 2.815 km.

Begitu pula dengan rencana program survey seismik 3D yang ditargetkan 14 kegiatan sepanjang 6.566 km persegi. Tapi, hingga kuartal pertama 2017 belum ada satupun yang terealisasi.

Sementara itu, hingga kuartal I ini baru lima sumur yang dibor dari target program pemboran eksplorasi sebanyak 134 sumur. Adapun, 19 sumur telah dibor untuk pengembangan dari target 223 sumur.

(Baca: Lifting Minyak Februari Turun Jadi 752 Ribu Barel Per Hari)

Sedangkan dari rencana program perawatan sumur sebanyak 57.512 sumur, baru terealisasi 4.350 sumur. Sementara itu, baru tercapai empat kegiatan dari rencana program penutupan sumur tahun ini sebanyak 186 kegiatan.

Budi mengatakan, SKK Migas memang memprioritaskan untuk memperbanyak kegiatan pegeboran sumur ulang dan perawatan sumur tahun ini, Sebab, rencana kerja 2017 menyesuaikan dengan anggaran biaya penggantian operasi migas (cost recovery). Tujuannya agar biaya  kegiatan migas yang dilakukan oleh kontraktor tidak membengkak dari anggaran yang disediakan.

Selain itu, kegiatan pengeboran sumur ulang dan pengembangan dilakukan untuk menjaga produksi. ''Produksi tetap kami prioritaskan bisa naik,'' kata dia.

Menurut Budi, realisasi cost recovery sepanjang kuartal I mencapai US$ 2,4 miliar. Sedangkan asumsi anggaran cost recovery dalam APBN 2017 sebesar US$ 10,5 miliar.

Dari sisi penerimaan negera, SKK Migas mencatat,  sepanjang kuartal I tahun ini jumlahnya sudah mencapai US$ 3,4 miliar, atau 32 persen dari target penerimaan negara di sektor migas sebesar US$ 10,9 Miliar. Nilainya masih rendah jika dibandingkan penerimaan bersih kontraktor sebesar  US$ 6,9 miliar, dengan target sepanjang tahun US$ 25,2 miliar.

Editor: Yura Syahrul

Video Pilihan

Artikel Terkait