Kerjasama Emisi Karbon dengan Jepang Buahkan Investasi Rp 2 Triliun

"Ini bagian dari target tingkat penurunan emisi karbon sebesar 26 persen yang dimulai 2020, lalu 29 persen pada tahun 2030," kata Darmin Nasution.
Ameidyo Daud Nasution
Oleh Ameidyo Daud Nasution
29 Agustus 2016, 16:43
Emisi karbon
Arief Kamaludin (Katadata)

Upaya pemerintah menurunkan emisi karbon telah berhasil meningkatkan investasi di dalam negeri. Kerjasama Indonesia dan Jepang di bidang perdagangan karbon dengan mekanisme kredit bersama (Join Crediting Mechanism / JCM) sejak tahun 2013 telah membuahkan investasi sebesar US$ 150 juta atau hampir Rp 2 triliun.

Dengan skema tersebut, perusahaan Jepang dan Indonesia, baik swasta maupun badan usaha milik negara (BUMN), berinvestasi dalam pengurangan emisi karbon melalui insentif dari pemerintah Jepang. Deputi Bidang Koordinasi Kerjasama Ekonomi Internasional Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Rizal Affandi Lukman mengatakan, pemerintah Jepang telah menyalurkan subsidi lebih dari US$ 37 juta kepada perusahaan Indonesia sejak tiga tahun terakhir.

Sedangkan dengan dana subsidi tersebut, perusahaan-perusahaan di Indonesia telah menanamkan investasinya dalam skema ini hingga US$ 113 juta. Jadi, total nilai investasi dalam skema JCM mencapai lebih dari US$ 150 juta. (Baca: Pemerintah Klaim Jumlah Kebakaran Hutan Turun 62 Persen)

"Ini berupa insentif bagi teknologi ranah lingkungan bagi perusahaan," kata Rizal dalam acara peringatan 3 Tahun Kerjasama Bilateral Kemitraan Pertumbuhan Rendah Karbon antara Indonesia - Jepang di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (29/8).

Hingga kini, terdapat 108 proyek yang tengah menjalani studi kelayakan untuk memanfaatkan skema JCM tersebut. Dari jumlah itu, sebanyak 28 proyek akan segera diimplementasikan. Proyek-proyek itu meliputi beragam industri, seperti industri semen, kehutanan, dan teknologi.

Rizal menjelaskan, beberapa perusahaan yang sudah menggunakan skema itu antara lain PT Semen Indonesia Tbk yang menggandeng JFE Engineering Corporation untuk menjalankan proyek pengurangan 122 ribu ton karbondioksida per tahun pada sistem generator turbinnya. "Jadi seperti industri semen juga bisa menjadi ramah lingkungan dengan penurunan karbon ini," katanya.

Ada pula proyek instalasi sistem efisiensi gas yang sangat tinggi antara Toyota Motor Manufacturing Indonesia dengan Toyota Tsusho Corporation. Proyek ini mengurangi 20.439 ton karbondioksida per tahun. (Baca: Di Paris, Jokowi Janji Turunkan Emisi 29 Persen Lewat Tiga Bidang)

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, langkah-langkah seperti itu merupakan komitmen bersama untuk menurunkan emisi karbon. Hal ini sesuai dengan perjanjian COP 21 yang diteken oleh 194 negara di Paris, Perancis, akhir tahun lalu.

"Ini bagian dari target tingkat penurunan emisi karbon sebesar 26 persen yang dimulai 2020, lalu 29 persen pada tahun 2030," kata Darmin.

Reporter: Ameidyo Daud Nasution
Editor: Yura Syahrul

Video Pilihan

Artikel Terkait