Konsorsium Bank Asing dan BUMN Danai Proyek Train 3 Tangguh

?Selama ini kami melihat ada aturan dari BI, kemudian dari Kemenko Perekonomian, kemudian kami juga jelaskan pendanaan ini menjadi perhatian KPK.?
Anggita Rezki Amelia
20 Juli 2016, 15:56
Tangguh LNG
Arief Kamaludin|KATADATA

BP Indonesia segera merampungkan skema pembiayaan untuk proyek pembangunan kilang pengolahan (Train 3) Tangguh. Megaproyek dengan nilai investasi US$ 8 miliar atau sekitar Rp 105,6 triliun itu akan didanai oleh lembaga keuangan asing dan bank-bank BUMN.

Kepala Humas Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Taslim Z. Yunus mengatakan, rencananya BP akan meneken perjanjian pendanaan Proyek Train 3 Tangguh dengan sejumlah bank pada Kamis (21/7) besok. Dari nilai proyek sebesar US$ 8 miliar, sebanyak US$ 3,8 miliar atau 48 persen dari total nilai proyek tersebut didanai dari pinjaman bank.

Menurut dia, pemberi pinjaman merupakan konsorsium bank asing dan bank BUMN. Ada beberapa bank asing dari berbagai negara yang berkomitmen memberikan pinjaman. “Ada banyak, tapi yang terbesar JBIC (Japan Bank For International Corporation) dan ADB (Asian Development Bank),” kata Taslim seusai pemaparan kinerja semester I-2016 SKK Migas di Bandung, Selasa (18/7).   

Bank BUMN turut memberikan pinjaman kepada BP, yaitu Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Negara Indonesia (BNI). Selain itu, perusahaan pembiayaan infrastruktur yakni Indonesia Infrastructure Financing turut memberikan pendanaan. Namun, Taslim tidak merinci komposisi pendanaan dari masing-masing bank tersebut.

Advertisement

(Baca: Putusan Final Investasi Tercapai, Kilang 3 Tangguh Siap Dibangun)

Yang jelas, menurut dia, pembiayaan proyek tersebut menggunakan skema Trustee Borrowing Scheme (TBS).

Padahal, pada tahun lalu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sempat mempersoalkan skema itu lantaran berpotensi melanggar Pasal 6C Undang-Undang No. 22 Tahun 2001 tentang Migas.

KPK juga menganggap skema itu berpotensi menimbulkan kerugian negara karena bisa menambah beban biaya operasi dari kegiatan eksplorasi dan eksploitasi hulu migas (cost recovery). Sebab, bunga utang dengan skema TBS itu akan diklaim ke cost recovery yang ditanggung negara.

Namun, Taslim menilai, skema itu sudah sesuai peraturan Bank Indonesia yakni poyek itu tidak seluruhnya didanai oleh  perbankan. “Selama ini kami melihat ada aturan dari BI, kemudian dari Kemenko Perekonomian, kemudian kami juga jelaskan pendanaan ini menjadi perhatian KPK,” katanya. “Jadi saat penandatanganan (pinjaman) itu, tidak ada aturan yang dilanggar.”

(Baca: Gara-Gara Harga Minyak, Investasi Kilang Tangguh Ikut Menyusut)

Sebelumnya, Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi pernah mengatakan porsi pinjaman dengan skema TBS itu tidak mencapai 50 persen dari total nilai investasi proyek Train 3 Tangguh. Artinya, penggunaan skema itu tidak melanggar UU.

Seperti diketahui, pada akhir Juni lalu, SKK Migas akhirnya menyetujui keputusan final investasi proyek pembangunan kilang gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) Tangguh Train III yang diajukan oleh BP Tangguh Berau Ltd. Persetujuan itu ditandai oleh penyerahan empat dokumen dari Kepala SKK Migas kepada BP Regional President Asia Pacific Christina Verchere.

Empat dokumen tersebut yakni persetujuan nilai autorization for expenditure (AFE) untuk pembangunan kilang LNG Train 3 baik untuk fasilitas darat dan lepas pantai. Kedua, persetujuan penunjukan pelaksana proyek (EPC Award) untuk pembangunan kilang LNG dan fasilitas gas lepas pantai (platform dan pipa penyalur). Ketiga, persetujuan pasokan gas untuk pabrik pupuk di Papua. Keempat, persetujuan pembiayaan kilang LNG.

(Baca: BP Turunkan Harga, PLN Borong Gas Tangguh Train 3)

Nilai investasi proyek tersebut US$ 8 miliar, lebih rendah dari rencana sebelumnya yakni US$ 12 miliar.

Ini karena penurunan harga jasa, seperti pekerjaan Engineering Procurement Construction (EPC), akibat harga minyak dunia yang rendah.

Jika sesuai target, pengoperasian kilang ini bisa dimulai 2020. Dengan begitu, proyek ini diproyeksikan menyumbang tambahan 3,8 juta ton per tahun atau million tons per annum (mtpa) terhadap kapasitas produksi Kilang LNG Tangguh. Jadi, total kapasitas tiga kilang Tangguh akan mencapai 11,4 mtpa.

Sebanyak 75 persen produksi gas dari Train III ini nantinya akan disalurkan ke PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Ini untuk mendukung megaproyek listrik 35.000 megawatt.

Proyek Kilang LNG Tangguh Train-3 dioperasikan oleh BP Berau Ltd sebagai kontraktor mitra utama SKK Migas yang memegang saham mayoritas, yakni 37,16 persen. Terdapat enam kontraktor mitra Tangguh lainnya yang digandeng BP,  yakni: MI Berau BV (16,3 persen), CNOOC Muturi Ltd (13,9 persen), Nippon Oil Exploration (Berau) Ltd (12,2 persen), KG Berau/KG Wiriagar (10 persen), Indonesia Natural Gas Resources Muturi Inc (7,35 persen), dan Talisman Wiriagar Overseas Ltd (3,1 persen).

Editor: Yura Syahrul
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait