Pemerintah Ramal Penurunan Ekspor Sampai Akhir Tahun

"Tahun lalu ekspor kontraksi (turun) 14 persen. Tahun ini saya harapkan kontraksi single digit, mungkin antara 6-9 persen," kata Thomas Lembong.
Yura Syahrul
15 Juni 2016, 19:46
Pelabuhan ekspor
Arief Kamaludin | Katadata
Aktivitas bongkar muat kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Neraca perdagangan Indonesia hingga bulan Mei lalu masih melemah. Hal itu ditandai oleh penurunan ekspor dibandingkan tahun lalu. Pemerintah memperkirakan kondisi tersebut masih terus berlanjut sampai akhir tahun sejalan dengan perlambatan ekonomi global.   

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca dagang pada Mei 2016 surplus sebesar US$ 375,6 juta. Pencapaian itu ditopang oleh nilai ekspor sebesar US$ 11 miliar atau naik 0,3 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sedangkan nilai impor naik 3 persen menjadi US$ 11,1 miliar.

Meski begitu, kalau dibandingkan dengan Mei 2015, nilai ekspor turun 9,6 persen. Sedangkan nilai ekspor periode Januari-Mei 2016 mencapai US$ 56,6 miliar atau anjlok 12,8 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Begitu pula dengan nilai impor yang lebih rendah 4,1 persen daripada Mei 2015 dan impor Januari–Mei 2016 melorot 11,6 persen dibanding periode sama 2015.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengakui, neraca dagang saat ini tidak terlalu bagus meskipun mampu mencetak surplus. “Surplus tapi ada tidak bagusnya,” katanya di Jakarta, Rabu (15/6). Sebab, surplus neraca dagang itu dicatatkan lantaran angka ekspor dan impornya turun.

Advertisement

(Baca: Impor Barang Konsumsi Naik, Surplus Dagang Mei Mengecil)

Hal itu menandakan sektor industri masih belum bergerak. Kondisi ekonomi dunia yang terus melambat menyebabkan permintaan menurun. Ujung-ujungnya, ekspor Indonesia ikut turun.

“Jadi jangan dilihat dari kesalahan kita. Kita korban situasi dunia yang kayak begini,” katanya.

Meski begitu, Darmin melihat tren kenaikan impor pada Mei lalu menunjukkan ekonomi di dalam negeri mulai bergerak. Antara lain, melalui pembangunan infrastruktur. Di sisi lain, kondisi itu tetap harus diwaspdai dengan berupaya menggenjot ekspor.

“Lama-lama jangan terbalik kejadiannya, impor naik lebih cepat daripada ekspor sehingga kita bisa berbalik lagi jadi defisit,” kata Darmin. Untuk itu, pemerintah harus mempersiapkan diri dengan memacu ekspor, salah satunya ekspor minyak dan gas bumi, sehingga bisa mengimbangi kenaikan impor.

Di tempat terpisah, Menteri Perdagangan Thomas Lembong menyatakan, labilnya neraca dagang saat ini karena perekonomian Indonesia masih dalam masa transisi. “Jadi tiga langkah ke depan, dua langkah ke belakang. Tidak satu garis lurus langsung membaik,” katanya. Apalagi, kondisi ekonomi dunia saat ini masih diliputi ketidakpastian.

(Baca: Neraca Dagang April Surplus tapi Kinerja Ekspor Terus Melorot)

Menurut dia, ekonomi Indonesia dalam proses pengalihan dari ketergantungan terhadap komoditas menjadi ke sektor manufaktur, industri ringan, kerajinan, olahan dan komoditi yang lebih strategis serta memiliki nilai tambah tinggi. Namun, peralihan itu membutuhkan waktu.

Menteri Perdagangan Thomas Lembong
Thomas Lembong (Katadata | Arief Kamaludin)

Karena itulah, Lembong memperkirakan, ekspor Indonesia masih akan turun sepanjang tahun ini. Tapi, dia berharap penurunannya tidak sebesar tahun lalu. “Tahun lalu ekspor kontraksi (turun) 14 persen dari tahun ke tahun. Tahun ini saya harapkan kontraksi single digit, mungkin antara 6-9 persen,” katanya.

Senada dengan Darmin, Lembong juga menilai kenaikan impor pada Mei lalu merupakan sinyal positif. Hal itu bisa menandakan ekonomi mulai menguat sejalan dengan kenaikan impor bahan baku. “Tapi saya masih sangat waspada, mudah-mudahan kontraksi ekspor tahun ini tidak separah tahun lalu.”

(Baca: Darmin Minta Cina Bantu Atasi Defisit Dagang Indonesia)

Sebaliknya, Ekonom Bank Permata Josua Pardede masih pesimistis melihat prospek neraca dagang dan perekonomian tahun ini. Ia menilai sektor riil dan dunia usaha belum bergerak, yang ditandai oleh penurunan impor bahan baku periode Januari-Mei 2016 sebesar 13 persen dibandingkan periode sama 2015. Begitu pula dengan impor barang modal yang melorot 17 persen. Artinya, pelaku usaha masih menahan ekspansinya.

Lazimnya secara musiman, menurut Josua, kondisi dunia usaha mulai membaik pada kuartal II dnegan meningkatnya kapasitas produksi. Namun, hingga Mei lalu, kondisinya masih menurun dan pelaku usaha cenderung belum berekspansi.

Ke depan, Josua berharap daya beli masyarakat bakal pulih pada semester II nanti sehingga sektor usaha akan mulai ekspansi dan meningkatkan kapasitas produksinya awal tahun depan. “Harus ada perbaikan permintaan dulu agar pasokan meningkat sehingga memperbaiki impor. Jadi, kalau demand  belum meningkat, semester satu tahun depan juga kondisinya masih seperti ini,” ujarnya.

Reporter: Safrezi Fitra, Ameidyo Daud Nasution, Miftah Ardhian
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait