Ekspor April Masih Lesu, Industri Manufaktur Terus Tumbuh

Penurunan impor bahan baku dan penolong pada Januari-April 2016 menunjukkan kebutuhan bahan baku produksi sudah mulai dapat dipenuhi dari dalam negeri.
Desy Setyowati
16 Mei 2016, 18:14
Pabrik otomotif
Arief Kamaludin|KATADATA

Kinerja ekspor Indonesia masih lesu. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor pada April 2016 sebesar US$ 11,45 miliar atau turun 3,07 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, neraca dagang masih bisa surplus US$ 667,2 juta karena laju penurunan impor lebih dalam. Peningkatan industri manufaktur di dalam negeri turut berperan mengerem laju impor.   

Berdasarkan sektor usahanya, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan selama Januari-April 2016 mencapai US$ 34,68 miliar. Dibandingkan periode sama tahun lalu, nilainya memang turun 6,46 persen. Namun, pada periode yang sama, kontribusinya terhadap angka ekspor secara keseluruhan meningkat dari 71 persen menjadi 77 persen.

Sebaliknya, kontribusi sektor usaha lainnya kian menciut. Pada Januari-April 2016, nilai ekspor sektor migas anjlok 39,28 persen dibandingkan periode sama 2015, dengan penurunan kontribusi dari 13,73 persen menjadi 9,65 persen. Nasib serupa dialami sektor pertambangan. Nilai ekspornya turun 24,64 persen, dengan kontribusi menurun dari 13 persen jadi 11,36 persen. Adapun ekspor sektor pertanian turun 19,84 persen, dengan porsi yang mengempis dari 2,17 persen menjadi 2,02 persen.

“Ini tren yg menarik. Ekspor kita makin didominasi oleh manufaktur,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo dalam konferensi pers BPS di Jakarta, Senin (16/5). Ke depan, dia pun berharap, struktur dan nilai ekspor berdasarkan sektor usaha terus berubah ke arah peningkatan ekspor manufaktur.

Tren geliat sektor industri pengolahan di dalam negeri juga dapat dilihat dari kinerja impor berdasarkan kelompok penggunaan barang sejak awal tahun ini. BPS mencatat, nilai impor kelompok bahan baku/penolong selama Januari-April 2016 turun 15,38 persen. Begitu pula dengan impor kelompok barang modal yang melorot 17,02 persen.  

(Baca: Neraca Dagang April Surplus tapi Kinerja Ekspor Terus Melorot)

Sasmito melihat, penurunan impor bahan baku dan penolong menunjukkan kebutuhan bahan baku produksi sudah mulai dapat dipenuhi dari dalam negeri. Ia menambahkan, pelaku usaha mulai beralih pada barang substitusi impor yang bisa diproduksi di dalam negeri. Contohnya, sebagian truk sudah diproduksi di dalam negeri.

Berdasarkan hasil kajian Sasmito, produk impor lain yang disubstitusi di dalam negeri adalah televisi dan printer. “Banyak produk-produk yang sudah mulai dihasilkan (oleh produsen nasional),” katanya. Ia juga memperkirakan, industri di dalam negeri yang merupakan substitusi impor telah mulai terbangun, meski porsinya belum sampai 10 persen.

(Baca: Pemerintah Prioritaskan Empat Industri untuk Dikembangkan)

Seperti diketahui, pemerintah dalam setahun terakhir memang berupaya mendorong industri di dalam negeri untuk menekan defisit neraca perdagangan. Upaya yang dilakukan adalah meluncurkan 12 paket kebijakan ekonomi sejak September tahun lalu. Paket yang banyak memuat deregulasi peraturan itu bertujuan mempermudah peningkatan usaha dan investasi di dalam negeri.  

Namun, Ekonom Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih menilai industri manufaktur belum mampu mendongkrak kinerja ekspor meski didukung oleh selusin paket kebijakan. Buktinya, nilai ekspor industri manufaktur lebih rendah dibandingkan tahun lalu meskipun porsinya terhadap ekspor mengalami peningkatan.

(Baca: Survei BI: Kuartal II, Sektor Manufaktur Mulai Ekspansi Usaha)

Lana menjelaskan, penyebab utamanya adalah perlambatan ekonomi negara-negara yang menjadi mitra dagang terbesar Indonesia. Cina misalnya, pertumbuhan ekonominya tahun ini diperkirakan hanya 6,5 persen. “Volume harus diperhatikan. Januari-April dibanding (periode sama) 2015 turun. Artinya jumlah barang yang diminta lebih sedikit dibanding sebelumnya,” katanya kepada Katadata.

Editor: Yura Syahrul
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait