Ekspor Migas dan Perhiasan Menopang Surplus Dagang Februari

Surplus dagang pada Februari tahun ini merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir. "Ini hal menarik, biasanya Januari ke Februari terjadi penurunan," kata Kepala BPS Suryamin.
Yura Syahrul
15 Maret 2016, 16:05
Perhiasan
Katadata
(Arief Kamaludin | KATADATA)

KATADATA - Melanjutkan tren bulan sebelumnya, neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2016 mengalami surplus sebesar US$ 1,15 miliar. Ini merupakan nilai surplus dagang bulanan terbesar sejak Juli tahun lalu. Pencapaian tersebut ditopang oleh surplus sektor minyak dan gas bumi (migas) dan lonjakan ekspor nonmigas, terutama ekspor perhiasan dan permata.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin menyatakan, surplus dagang pada Februari tahun ini merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir. Misalnya, selama dua tahun terakhir, surplus dagang pada Februari 2014 dan 2015 masing-masing sebesar US$ 843,4 juta dan US$ 662,7 juta. “Ini hal menarik, biasanya Januari ke Februari terjadi penurunan,” katanya dalam konferensi pers BPS di Jakarta, Selasa (15/3).  

BPS mencatat, nilai ekspor pada Februari lalu mencapai US$ 11,3 miliar atau meningkat 7,8 persen dibandingkan Januari 2016. Sementara kalau dibandingkan dengan Februari lalu menurun 7,18 persen. Sebaliknya, nilai impor pada Februari lalu sebesar US$ 10,16 miliar atau turun 2,9 persen dibandingkan bulan sebelumnya 2016. Adapun dibandingkan Februari 2015, nilainya juga turun 11,7 persen.

Yang menarik, sektor migas dan nonmigas sama-sama mencatatkan surplus, yaitu masing-masing sebesar US$ 10 juta dan US$ 1,14 miliar. Padahal, dalam 12 bulan terakhir, sektor nonmigas selalu menderita defisit perdagangan.

Advertisement

(Baca: Perhiasan dan Busana Jadi Jagoan Ekspor di Masa Depan)

Ekspor migas pada Februari 2016 memang naik 0,47 persen menjadi US$ 1,1 miliar. Hal itu ditopang oleh peningkatan ekspor minyak mentah sebesar 33,3 persen. Sebaliknya ekspor hasil minyak malah turun 35,2 persen dan ekspor gas turun 12,6 persen. Dari sisi impor, seluruh komponen migas mencatatkan penurunan. Ini merupakan nilai impor migas terendah sejak 13 bulan terakhir. “Volume ekspor minyak mentah naik sampai 42,3 persen dibandingkan Februari 2015,” kata Suryamin.

Sementara itu, ekspor nonmigas pada Februari lalu naik 8,7 persen dibandingkan bulan sebelumnya menjadi US$ 10,2 miliar. Meskipun dibandingkan bulan sama tahun lalu masih turun 2,25 persen. Peningkatan terbesar ekspor nonmigas adalah

komoditas perhiasan atau permata sebesar US$ 593,7 juta atau 153,8 persen menjadi US$ 980 juta. Komoditas lain yang mencetak kenaikan ekspor adalah benda-benda dari besi dan baja sebesar 74,2 persen; kapal laut 366,9 persen; dan kendaraan dan bagiannya 13 persen.

(Baca: BPS Prediksi Neraca Dagang Berpotensi Defisit Semester I-2016)

Suryamin melihat adanya kenaikan ekspor dari industri manufaktur meskipun nilainya tidak terlalu besar. “Ini gambaran positif, yang merupakan hasil kebijakan menggenjot industri manufaktur dan UMKM,” ujarnya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution merespons positif pencapaian surplus neraca dagang Februari 2016 tersebut. Hal itu menandakan ekspor sudah mulai tumbuh dalam beberapa bulan terakhir ini. “Itu sudah menunjukkan tanda-tanda naik secara berkesinambungan,” katanya di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (15/3).

(Baca: Impor Melemah, Neraca Dagang Januari Surplus US$ 50,6 Juta)

Namun, Darmin juga menyoroti impor barang modal yang belum terlalu banyak. “Kalau ekonomi kita sudah betul-betul bergerak naik, impor semestinya pelan-pelan juga naik,” katanya. Jadi, secara umum, dia menilai kondisi ekonomi yang membaik itu lebih banyak ditopang oleh peningkatan ekspor.

BPS mencatat, nilai impor kelompok bahan baku atau penolong dan barang modal selama Januari-Februari 2016 turun dibandingkan periode sama tahun lalu, yaitu masing-masing sebesar 19,18 persen dan 12,62 persen. Sebaliknya, impor golongan barang konsumsi meningkat 34,38 persen.

*Catatan: Beberapa jam setelah pengumuman BPS dan tulisan ini diberitakan, BPS merevisi angka surplus perdagangan migas. Nilai ekspor dan impor migas pada Februari 2016 sama yaitu sebesar US$ 1,11 miliar. Dengan begitu, tidak ada surplus perdagangan migas pada Februari 2016.

Reporter: Miftah Ardhian
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait