Realisasi Investasi Cina Rendah, BKPM Buat Desk Khusus

Franky Sibarani mengidentifikasi dua faktor penyebab rendahnya realisasi investasi Cina. Yaitu kendala bahasa dan investor Cina kerap menjalin kerjasama dengan mitra lokal yang tak diharapkan.
Yura Syahrul
29 Februari 2016, 12:48
BKPM
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA - Pemerintah melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menilai realisasi investasi Cina di dalam negeri masih rendah. Karena itu, bekerjasama dengan Kedutaan Besar Cina BKPM membuat desk khusus investasi Cina.

Kepala BKPM Franky Sibarani mengatakan, komitmen investasi Cina dalam rentang tahun 2010 hingga 2015 mencapai US$ 22 miliar. Namun, rasio realisasi investasi dari negara itu dalam periode tersebut hanya mencapai 14 persen. Kehadiran desk khusus ini diharapkan dapat menjembatani hambatan dalam mewujudkan realisasi investasi Cina. "Ini wujud tanggung jawab BKPM untuk memberi dukungan terhadap komitmen investasi," katanya dalam acara Investor Forum Cina dan Hong Kong di Gedung BKPM, Jakarta, Senin (29/2).

Franky menambahkan, dirinya dan Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal BKPM Tamba Hutapea akan menjadi Person in Charge (PIC) desk khusus ini. "Sedangkan dari Kedutaan Besar Cina akan menempatkan 2 atau 3 orang petugas di sini," katanya.

Menurut dia, kehadiran desk khusus ini menyusul beberapa desk khusus negara Asia Timur lain yang telah ada sebelumnya di BKPM. Sekadar informasi, BKPM telah membentuk desk khusus investasi Korea Selatan dan Jepang untuk memudahkan realisasi investasi kedua negara tersebut di Indonesia.

(Baca: Asing Tertarik Investasi E-Commerce, Logistik dan Barang Konsumsi)

Franky mengidentifikasi dua faktor penyebab rendahnya realisasi investasi Cina Pertama, kendala bahasa. Alhasil, kalau ada kendala bahasa dalam proses realisasi investasi itu maka sulit  diselesaikan. Karena itu, kehadiran petugas dari Kedutaan Besar Cina akan membantu menyelesaikan permasalahan bahasa kepada investor.

Kedua, investor asal Cina kerap menjalin kerjasama dengan mitra lokal yang tidak diharapkan. Solusinya, BKPM akan berkoordinasi dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Cina untuk mencarikan mitra dan lokasi investasi yang tepat. "Intinya kami sepakat untuk lebih aktif lagi menyelesaikan kendala-kendala tersebut," kata Franky.

Menurut Franky, sudah ada beberapa sektor industri asal Cina yang saat ini siap dibantu investasinya karena nilai investasi besar. Yaitu investasi pabrik pengolahan (smelter) di Mempawah (Kalimantan Barat) dan smelter di Morowali (Sulawesi Tengah). Selain itu, ada satu lagi investasi yang akan dibantu desk khusus ini, namun dia belum bersedia mengungkapkan industrinya.

(Baca: Di ASEAN, Fokus Pemasaran Investasi ke Malaysia dan Singapura)

Yang pasti, desk khusus ini tidak mengejar target jumlah investasi Cina yang akan dibantu. “Targetnya lebih banyak kepada investasi yang bisa kami wujudkan.”

Di kesempatan yang sama, Ketua Kadin Cina untuk Indonesia Zhang Min mengatakan komunikasi kedua negara harus diperkuat agar potensi investasi dapat segera ditingkatkan. Ia pun berharap, perbaikan iklim investasi di Indonesia dapat menarik lebih banyak lagi investasi langsung dari Cina ke Indonesia.

Menurut dia, sebenarnya angka investasi Cina lebih besar dari jumlah yang dicatat oleh BKPM . Contohnya, perusahaan asal Cina Qingshan telah berinvestasi dengan nilai lebih dari US$ 2 miliar di Indonesia. “Tapi dengan nama perusahaan Singapura," kata Zhang.

 

Reporter: Ameidyo Daud Nasution
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait