Pertamina Ingin Masuk Blok Sanga-Sanga Sebelum Kontrak Berakhir

Pertamina sudah mengalokasikan dana membeli saham Blok Sanga-Sanga. Hal itu dimungkinkan karena Pertamina mengalokasikan 70 persen dari belanja modalnya di sektor hulu migas.
Yura Syahrul
11 Februari 2016, 15:13
No image
Kantor pusat PT Pertamina di Jakarta.

KATADATA - PT Pertamina (Persero) ternyata sangat bernafsu untuk mengelola Blok Sanga-Sanga di Kalimantan Timur. Bahkan, perusahaan minyak dan gas bumi (migas) milik negara (BUMN) ini berniat masuk sebelum masa kontrak VICO Indonesia sebagai pengelola blok tersebut berakhir tahun 2018.

Direktur Utama Pertamina Dwi Soecipto menyatakan, Pertamina saat ini memang dalam posisi ingin mengambil alih pengelolaan semua blok migas yang akan berakhir masa kontraknya. Strategi tersebut sudah dilakoni Pertamina ketika mengambil alih saham dan pengelolan Blok Mahakam dari tangan Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation saat masa kontraknya habis akhir 2017 nanti.

Namun, Pertamina juga memiliki strategi lain, yaitu masuk dengan membeli kepemilikan saham partisipasi blok-blok migas meski kontraknya belum habis. “Sebelum habis (masa kontraknya) blok-blok itu, kami bicarakan dengan existing operator apakah kami bisa chip in (kontribusi) sebelum blok itu habis,” katanya seusai acara peresmian Universitas Pertamina di Jakarta, Kamis (11/2).

Strategi serupa ingin diterapkan Pertamina terhadap Blok Sanga-Sanga. Padahal, sejak tahun lalu Pertamina telah mengajukan penawaran minat kepada pemerintah untuk mengelola blok tersebut setelah masa kontraknya habis. Minat itu sejalan dengan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 15 tahun 2015 tentang pengelolaan blok migas yang akan berakhir kontraknya.

Ada tiga opsi yang bisa dipih pemerintah. Pertama, perpanjangan kontrak oleh kontraktor lama. Kedua, pengelolaan oleh Pertamina. Ketiga, pengelolaan bersama antara kontraktor lama dan Pertamina. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM I.G.N. Wiratmaja Puja juga pernah mengatakan, blok-blok yang habis masa kontraknya pada 2018 akan ditawarkan ke Pertamina.

Demi memuluskan rencana tersebut, Pertamina telah meneken kesepakatan dengan VICO mengenai kerahasiaan data Blok Sanga-Sanga, pada 20 Januari lalu. Dengan begitu, Pertamina bisa mengakses ruang data (data room) blok tersebut untuk melihat dan mengevaluasi potensi yang dimilikinya.

(Baca: Pertamina Kantongi Izin Akses Data Blok Sanga-Sanga dari VICO)

Pekan lalu, Senior Vice President Upstream Business Development Pertamina Denie S. Tampubolon mengatakan evaluasi itu mencakup banyak hal. Antara lain cadangan migas yang tersisa, aspek teknis, aspek komersial, dan sumber daya manusia yang ada di Blok Sanga-Sanga. Ia memperkirakan proses evaluasi itu memakan waktu sekitar tiga sampai empat bulan.

Namun, Dwi menyatakan Pertamina juga berminat masuk dan terlibat dalam pengoperasian Blok Sanga-Sanga. Caranya dengan membeli saham partisipasi yang dimiliki VICO sebagai operator blok tersebut. “Kalau memang disetujui oleh operator yang ada, kami chip in dan dapat sahamnya,” kata dia.

Bahkan, Dwi mengaku Pertamina sudah mengalokasikan dana untuk membeli saham Blok Sanga-Sanga. Hal itu dimungkinkan karena Pertamina selalu mengalokasikan 70 persen dari belanja modalnya di sektor hulu migas. Tujuannya untuk menutup ketimpangan produksi migas Pertamina yang saat ini masih 300 ribu barel per hari (bph) sementara produksi kilang 880 bph dan kebutuhan minyak 1,6 juta bph. “Makanya selama ini kami kejar itu (blok migas), baik di dalam negeri dan luar negeri,” katanya.

Di sisi lain, Dwi optimistis bisa mendapatkan saham Blok Sanga-Sanga meski VICO telah secara resmi mengajukan perpanjangan kontrak pengelolaan blok tersebut kepada pemerintah. “Biasa seperti itu, sama-sama ada ketertarikan.” Ia pun mengacu kepada keberhasilan Pertamina mengambil alih dua blok migas di Aceh yaitu Blok B dan Blok North Sumatra Offshore (NSO) dari tangan ExxonMobil Oil Indonesia pada oktober 2015.

(Baca: Langkah Tergesa-gesa Pertamina Mencaplok Aset Migas di Aceh)

Padahal, perusahaan migas asal Amerika Serikat (AS) itu masih memiliki sisa masa kontrak di kedua blok tersebut sampai tahun 2018. Aksi korporasi Pertamina tersebut sempat menuai sorotan karena semestinya bisa mendapatkan dua blok itu secara gratis setelah masa kontrakhnya habis tiga tahun lagi.

Sekadar informasi, awal bulan ini Wiratmaja menyatakan VICO telah mengajukan perpanjangan kontrak pengelolaan Blok Sanga-Sanga setelah masa kontraknya habis tahun 2018. Cadangan minyak di blok ini sebersar 13.232 MSTB (thousand stock tank barrel) dan cadangan gasnya 448,96 miliar kaki kubik (BSCF). Sementara produksinya saat ini sebesar 16.733 barel setara minyak per hari (BOEPD).

(Baca: VICO Indonesia Ajukan Perpanjangan Kontrak Blok Sanga Sanga)

Hingga masa kontrak berakhir tahun 2018, Blok Sanga-Sanga dikelola oleh VICO sebagai operator. Adapun pemegang saham blok ini terdiri dari BP East Kalimantan sebesar 26,25 persen, Lasmo Sanga Sanga (26,25 persen), Virginia Indonesia Co LLC(7,5 persen), OPICOIL Houston Inc (20 persen), Universe Gas & Oil Company (4,37 persen), Virginia International Co LLC (15,63 persen).

Reporter: Anggita Rezki Amelia
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait