Transkrip Rekaman Lengkap Kongkalikong Lobi Freeport

Tokoh penting dalam rekaman ini antara lain Presiden dan Wakil Presiden, Menko Polhukam Luhut Panjaitan, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, dan Prabowo Subianto.
Yura Syahrul
3 Desember 2015, 13:17
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto
Arief Kamaluddin | Katadata
 

III. Kemudian pembicaraan berlanjut membahas rencana pembangunan smelter dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) untuk kebutuhan listrik smelter tersebut. Reza terlibat aktif bernegosiasi dengan Maroef.

Reza: Jadi gini Pak. Ini bahan dari Pak Luhut dan timnya. Sudah baca?

Maroef: Perpres sudah baca yang percepatan pembangunan ekonomi Papua.

Advertisement

Reza: Jadi mereka itu kan mau maju dulu, dibangun (smelter) di sana. Apa sudah ada konsep di sana dari Pak Menteri?

Maroef: Oh tidak begitu.

Reza: Jadi tetap di Gresik?

Maroef: Oh ndak, UU tidak mengatakan begitu. PP juga tidak mengatakan begitu. Jadi pemurnian harus dibangun di dalam negeri. PP-nya juga begitu, Pemurnian itu dilakukan 100 persen di dalam negeri. Kemudian tanggal 23 Januari 2015, pas setengah bulan yang lalu, itu persyaratan untuk memperpanjang izin ekspor harus melengkapi. Salah satu di antara enam itu harus menentukan eksak lokasi. Satu lagi soal feasibilty study. Dapatlah di Gresik. Jadi tidak ada yang mengatakan harus di Papua . Setelah kita umumkan di Gresik dan kita tanda tangani 23 Januari itu, baru muncul Pemda Papua yang mengatakan harus dibangun di Papua.

Setya: Terus janji presiden.

Maroef: Ya betul, kemudian Presiden ke sana, janjikan oke kalau gitu dibangun. Kalau kita bangun di Papua, siapa yang mau kasih. Di Gresik saja sudah 2,3 M. Kalau di Papua bisa hampir 4 M. Dari mana mau dananya, gak mungkin bangun di Papua.

Reza: Ya ya. Jadi begini Pak, soal itu saya ngomong sama Darmo. Saya bilang Darmo siap ya. Dia kan ngurusi semua. Dia akan melihatnya ini kalau perlu biayanya besar juga.

Setya: Pengusaha juga.

Reza: Kalau ini tugasmu untuk mengamankan. Jadi saya sudah bicara, Pak Jokowi. Urusan dia saya. Dia dipakai Pak Luhut semua.

Reza: Soal saham itu ada pemikiran (membangun) PLTA.

Maroef: PLTA? Yang mau memiliki sahamnya siapa Pak?

Reza: Ada nominee-nya, punya Pak Luhut. 

Maroef: Yang sahamnya itu juga maunya Pak Luhut. Itu jaminan guarantee dari Freeport untuk saham itu. Seperti dulu yang dilakukan oleh Freeport kepada pengusaha.

Setya: Pak Luhut pernah bicara dengan Jim Bob di Amerika.

Reza: Jadi kalau itu bisa diolah, ini rahasia yang tahu cuma kita berempat ya Pak. Diolah gitu…

Maroef: Pak itu harus ada yang perlu dihitung sekarang. Waktunya tinggal 6 minggu dari sekarang. Dari enam isu yang saya kasih Pak Ketua itu waktunya tinggal 6 minggu dari sekarang. Kalau itu tidak keluar, katakanlah 23 Juli nanti, tanggal 1 Juli tidak ada kepastian maka kita akan arbitrase internasional

Reza: Apa?

Maroef: Arbitrase internasional jalan. Tidak ada lagi itu. 1 Juli-lah Pak sudah ada kepastian. Sekarang apa guarantee-nya kalau permintaan itu (pembangunan smelter) dipenuhi, ini (izin perpanjangan kontrak Freeport) juga keluar. Apa garansinya kalau permintaan itu ada sinyal, 1 Juli sudah ada sinyal, apa garansinya? Ya toh Pak, apa garansinya?

Maroef: Ini kan masih di Solo.

Reza: Ya ketemunya di sinilah. Ketemu Pak Luhut, ini kan masih ada kesibukan. Habis itu baru.. Habis itu Jumat ke Pak Luhut. Harus ditugasin itu dia. Kalau bisa tuntas dan minggu depan sudah bisa settlement. Tanggal 22, seperti usul lalu, itu yang sekarang sudah kerja. Kita sudah approach beberapa kali. Benar, kalau Freeport memiliki 15 persen kita pasti bilang.

Maroef: Kalau tidak salah ada feasibility study, coba ditinjau lagi. Kalau tidak salah Freeport itu off taker.

Reza: Itu tadi Pak. Saran saya jangan off taker dulu. Kalau bapak off taker dulu itu akan ada di kedua belah pihak.

Maroef: Dari mana…?

Reza: Dari third parties yang…..

Maroef: Bapak juga nanti baru bisa bangun kalau kita kasih purchasing guarantee lho pak.

Reza: Oh ya betul.

Maroef: Ketergantungan bukan dari third party, tapi dari kita dong.

Reza: Oh iya, tapi kan kalau bapak ikut bikin kan, bapak ikut mengendalikan PLTA-nya.

Maroef: Artinya investasinya patungan, (komposisinya) 49:51.

Reza: Iya.

Maroef: Investasi patungan, tapi off taker kita juga?

Reza: Iya

Maroef: Kalau gitu double dong.

Reza: Enggak double Pak.

Maroef: Modal dari kita, kita juga yang off taker. Anu, kita bicara dulu di depan supaya kita bisa mengolahnya.

Reza: Pak off taker itu hanya sugar guarantee.

Maroef: Iya purchasing guarantee.

Reza: Purcahsing guarantee itu tidak ada uang keluar. Hanya guarantee, maka cuan. Uang keluar itu hanya untuk pembangunan. Kalau itu bapak juga harganya bisa dikontrol pada yang wajar.

Setya: Harga itu sektor terbesar.

Reza: Iyalah itu kira-kira. Harga perlu dikendalikan yang wajar. Atau kalau terbalik, kalau pure itu, itu kan satu deal. Misalnya Jim bilang, Freeport gak usah ikut. Silahkan yang lain, murni. Investor banyak yang mau, gak susah kalau Freeport. Marubeni ngotot mau masuk situ, cuma harga tinggi. Itu maksud saya Pak. Justru kita sebagai lokal, merasa nyaman kalau itu opsinya sama Freeport dibandingkan kalau sama orang luar. Cina pun ada yang mau Pak.

Maroef: Ini yang Pak Riza sampaikan yang lalu sama Dharmawangsa itu kan

Reza: Iya, itu harganya yang wajar. Bukan harga yang tidak ketinggian tidak kerendahan. Kan PT-nya milik bapak juga, 51 persen. Nanti bapak juga jangan sampai  menekan ke induk usaha Freeport, pertambangan.

Maroef: Kuncinya kan itu lagi, surat perpanjangan itu. Tidak mungkin keluar purchasing guarantee, kalau tidak (izin perpanjangan kontrak). PLTA mau dibangun itu kan untuk underground mining. Underground mining baru bisa dipastikan mau dilanjutkan kalau ada perpanjangan.

Reza: Betul perpanjangan. Ini komitmen itu dibutuhkan. Komitmen itu belum off take guarantee, belum Pak.

Maroef: Lho kalau komitmen, Freeport komitmen. Begitu ada perpanjangan komitmen kita akan jalankan. Saya pertaruhkan itu.

Reza: Itulah Pak, yang perlu duduk itu komitmen.

Maroef: Karena tidak mungkin itu Pak. Freeport sudah menanam 4 M dollar (US$ 4 miliar). Sudah yang mempersiapkan underground, untuk infrastruktur dan pesiapan operasional, meskipun tanpa kepastian. Jadi jangan ragu dengan komitmen. Terus untuk smelter Desember nanti (2015) kita taruh lagi 700 ribu dollar, itu commitment fee. Itu Desember. Tanpa ada kepastian lho Pak, karena kita tidak tahu dianggap tidak komitmen.

Reza: 700 juta ya Pak?

Maroef: Sorry 700 juta dollar. Apalagi yang kita kurang komitmen. Tidak perlu komitmen lagi, ini sudah komitmen. Ndak ada ndak ada.

Reza: Tapi kira-kira kalau konsep tadi (skema pembangunan PLTA) mau ambil apa enggak?

Maroef: Saya nggak jamin mau apa nggak. Tapi kasihkan dulu itu Pak (perpanjangan kontrak). 

Reza: Wah kalau ada 700 juta, proposal gitu gua lepas ini.

Setya: Artinya kalau ada opportunity…. Kan ada di Pak Luhut.

Maroef: Signed dulu itu.

Reza: Signed itu pasti, itu akan segera.

Maroef: Tapi kalau dengar penjelasan Pak Ketua tadi, sayanya enggak begitu jelas. Dari Pak Jokowi ya, enggak jelas.

Reporter: Muchamad Nafi, Yura Syahrul
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait