Transkrip Rekaman Lengkap Kongkalikong Lobi Freeport

Tokoh penting dalam rekaman ini antara lain Presiden dan Wakil Presiden, Menko Polhukam Luhut Panjaitan, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, dan Prabowo Subianto.
Yura Syahrul
3 Desember 2015, 13:17
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto
Arief Kamaluddin | Katadata
 

VIII. Topik selanjutnya, mereka membicarakan perkembangan ekonomi. Jusuf Kalla dinilai lebih pas mengurus ekonomi di tengah situasi perekonomian yang sedang melemah.

 

Reza: Sebelum bubarin Pak, kalau gak gini Pak. Saya ini kan pedagang. Saya ikutan politik kan karena teman-teman saja. Baik, gak cerai. Saya pedagang. Saya bilang eh ini saatnya damai. Kita kumpulin semua yuk. Kumpul Bang Ical, Anis Matta, Hatta, pokoknya semua kita kumpul.

Advertisement

Setya: Panggil Pak Luhut

Reza: Kita undang Pak Luhut datang. Saya siapkan depan. Ada Pak Luhut ama timnya. Saya bilang itu, saat ini kita sudah kalah. Kalah Pilpres. Tapi kita akan balas tahun 2019. Cuma sekarang kita harus berdamai membangun negara. Jangan ikut. Presiden sama Wapres enggak boleh diganggu, saya bilang. Kita cari makan. Sekarang Pak Luhut yang ada di sana. Ini temen-temen dan kita minta ikutlah Pak Luhut. Coba Pak Luhut sampaikan ke Jokowi. Kalau mau sepakat begitu kita dukung. Ini saran saya. Mulai ngomong rurururuurr…

Akhirnya sepakat pak malam itu. Oke kita dukung Jokowi-JK supaya sukses. Nanti 2019 ceritanya lain. Langsung deh pada dukung Jokowi, pada ketemu Jokowi semua. Prabowo apa dukung Jokowi. Sejak itu. Makanya Pak, DPR gak pernah ganggu Jokowi. Gak pernah ganggu Jokowi. Malah yang enggak mendukung Jokowi itu PDIP. KMP enggak semuanya mendukung. Itu kita happy juga sih. Kalau negara aman kita punya jalan. Tapi kalau ribut terus di parlemen, pusing kepala. Bayangin sudah kurang aman negara, ekonominya ancur.

Setya: Kesalahan menteri-menterinya juga.

Reza: Ya presiden juga andil.

Setya: Ya kita harus jujur.

Reza: Kalau Pak JK presiden.

Setya: Wah terbang kita.

Reza: Atau dia pasrahin Pak JK urus ekonomi saja. Saya pergi dah blusukan. Pak JK urus saja ekonomi.

Setya: Ya tapi sekarang sudah dibatasin terus presiden.

Reza: Obyektif ya Pak, kita pengi ada growth, bisnis kita jalan. Semua orang gitu kan. Gaji lancar pajaknya gak gila-gilaan. Pajaknya gila Pak. Pajaknya dahsyat Pak.

Maroef: Semua macam-macam dipajakin ya.

Setya: Hancur.

Reza: Iya.

Setya: Mobil jeblok, orang beli gak bisa. Perbankan gak mau lagi, hancur.

Reza: Kalau Freeport mah gak ada kaitannya sama ini. Kalau saya ada ritel, saya punya air lines, hancur berdarah. Rupiahnya jelek market-nya drop. Saya ada perusahaan ritel, saya punya toko-toko orang perempuan di mall-mal, gubrak, waduh gila Pak. Bagaimana nasibnya. Perkebunan sawit juga jeblok perusahannya. Gimana pula

Setya: Gak ada uang.

Reza: Gak ada uang. Rakyat udah gak ada uang. Gak ada demand, drop.

Maroef: Itu konsep PP 15 untuk sawit gak jalan Pak? Padahal itu konsepnya presiden untuk CPO.

Reza: Hancur Pak, hancur Pak.

Setya: Presiden itu senang meresmikan meresmikan. Tapi sekarang gak jalan. Sekarang dia serahin ke Pak Jusuf Kalla. Saya ketemu Pak Jusuf Kalla. Jusuf Kalla bilang wah ini banyak yang gak jalan. Saya bilang jangan meresmikan terus.

Reza: Kalau pak JK itu pengusaha.

Setya: Bagus itu Pak

Maroef: Dia bisa menghitung

Reza: Bagus Pak. Dia bisa meng-create. Kalau tahu sekarang kita lagi berdarah. Dia gak mungkin menghindari, dia tidak akan diam. Dia akan cari akal. Jokowi mana mau ketemu kita. Allah  

Setya: Ini kaya PSSI babak belur.

Maroef: Kita kan sponsor Persipura. Bubar Pak. Pada ngirim surat mau membubarkan. Kasihan Persipura.

Reza: Pemain bola itu kalau dia gak main dua bulan, otot-ototnya rusak semua

Maroef: Drop semua. Sakit semua. Sakit jantung semua Pak

Setya: Kembali itu Pak. Pak Luhut ditakutin, enggak bisa enggak.

Reza: Sebetulnya lepas dari apa pun, nasibnya jelek. Jujur saja ya Pak, nasibnya jelek sebagai bangsa Indonesia. Mendingan karena Jokowi tapi kita kan berdarah. Masak musuhan itu kan gilaaa. AduuhhhAmpuuunnn ampuunnn.

Setya: Ampuun.

Reza: Si Alid, Alidu mau ngomong sama KEN. Sama KEN kan hopeng. Ngomonglah duluan sama Cicip. Dapat ijin nangkap ikan. Beli kapal 10, join ama China, bikinlah KMA. Ada ijin, keluar semua. Kapal sudah datang. Cicip diganti Bu Susi. Sama Bu Susi, kapal asing gak boleh nangkap. Bangkrut dia langsung. Ganti pakai bendera Indonesia kapalnya. Kapal 350 Dwg harus buatan Indonesia. Buatan asing gak boleh beroperasi di sini. Bangkrut langsung. Edan Pak, ini ngaco Pak, gawat ya

Setya: Ekspor aja berhenti. Megenai di tempatnya Susi semua, banyak gulung-gulung tikar semua.

Reza: Enggak cuma situ. Tempat lain juga sama.

Setya: Iya. Itu Presiden gak tahu

Reza: Ada lagi teman Pak. Dia memang bisnisnya minuman. Dia bikin UIC, Si Aseng, tahu kan Pak. Ini pabrik dia,150 juta dolar investasinya. Pabrik dibikin udah mau jadi, ada peraturan ama Rahmat Gobel, penyalur-penyalur itu gak boleh jualan bir. Berhenti. Pabrik gak jadi diresmikan. Bayangkan Pak. Berdarah Pak. Gila

Maroef: 150 juta dollar Gila 

Reza: Banyak kasus Pak. Belum lagi pengusaha batu bara.Tapi Pak kita muter-muter dia masih presiden Pak. Suka gak suka harus kita bayar, udah Pak. Ya kan.

Maroef: Masih panjang.

Setya: Masih panjang.

Reza: Yang penting gak papa, yang penting halal.

Setya: Rakyat itu suka gak suka ama dia dianggap itu bener semua.

Reza: Iya. Salah gak salah jalan terus. Yang dianggap salah menteri-menterinya. Dia enggak. Gila dah. Haduuuhh

Reporter: Muchamad Nafi, Yura Syahrul
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait