Transkrip Rekaman Lengkap Kongkalikong Lobi Freeport

Tokoh penting dalam rekaman ini antara lain Presiden dan Wakil Presiden, Menko Polhukam Luhut Panjaitan, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, dan Prabowo Subianto.
Yura Syahrul
3 Desember 2015, 13:17
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto
Arief Kamaluddin | Katadata

IX. Selain masalah bisnis dan ekonomi, ketiganya lalu berbicara tentang konstalasi politik. Setya dan Reza juga menceritakan bagaimana jaringan dan lobi yang dibangun dengan sejumlah kalangan di elit negara ini.

 

Maroef: Tapi kan Pak Riza masih ada Pak Ketua yang back up.

Advertisement

Reza: Ah kalau saya kan Pak, hidupnya biasa saja. Itu kan sudara saya, banyak saudara pak.

Setya: Karena Itu Pak, seperti kata Presiden, rata-rata kita minta itu setuju tapi harus pakai strategi. Ya kita selalu kadang-kadang salah kita

Reza: Pak Jokowi sudah baik, sudah baik Pak. Cuma sekarang dirombak. Sekarang sudah baik banget. Sekarang dirombak lagi. Jangan bawa ke ranah politik

Maroef: Membantu politik, membantu urusan politik.

Reza: Betul Pak.

Setya: Kayak HR.

Reza: Saya sama Pak Marciano. Aduh Pak Riza, jangan muncul, jangan muncul kata saya. Biarkan dia bantu Prabowo tapi jangan muncul. Pak, saya gak muncul susah Pak. Gimana muncul ketahuan.. Usahakan jangan muncul. Percaya omongan saya. Bener juga omongannya. Gua muncul di Polonia, puk puk puk  langsung muncul di sosmed. Aduuuh saya lagi sama Prabowo dan Hatta. Ya udah mau apa, nasib.

Setya: Nasib duit keluar banyak. Duit Pak. Itu saya lihat kasihan. Ngapain itu, udah 50 M, 30 M. Begitu kita hitungin udah 500 M. Ngapain. hahahaa

Maroef: Lewat Pak

Setya: Lewat Pak

Reza: Padahal duit kalau kita bagi dua pak, heppy Pak. 250 M ke Jokowi JK, 250 M ke Prabowo Hatta, kita duduk aja. Ke Singapura, main golf, aman. hahahaa. Itu kan temen, temen semualah, Pak Susahlah. Kita hubungan bukan baru kemarin. Masak kita tinggal nggak baik. Tapi kan sekarang udah gak ada masalah. Sudah normal. Gitu

Setya: Saya ngomong sama Presiden, ini Pak Bung Riza juga bantu. Oh ya ya itu dia kawan saya baik. hahaha

Reza: Memperjuangkan dia itu capek sob. Segala macam cara, Pak Hendro ngomong sama Megawati waktu di Kebagusan. Belum saatnya. Dikira sekaligus. Belum Pak. Saya itu baik, saya kasihan sama Pak Jokowi, saya akan bantu Pak Jokowi ke Hatta sebagai cawapres. Pak Jokowi sama Hatta mungkin Pak, tapi Mega-nya gak mau. Saya sama Hatta itu sahabat.

Maroef: Jokowinya mau, Pak?

Reza: Jokowinya mau banget sama Hatta.

Setya: Tahu-tahu pisah, pusing sudah terlanjur ke Pak Hatta.

Reza: Tapi itu kan pengalaman.

Setya: Tapi kalau ngomong baik-baik, lamaa menikmati. Kayak yang kemarin itu yang Fahri dan Fadli Zon marah itu. Itu kan gitu Pak soal UU. Udah kerja capek-capek. Jam 2 kita ketemu lagi. Semua wakil ketua dan Komisi II saya ajak ketemu presiden. Jelasin. Sama Fahri dijelasin, efeknya bahayanya. Jelasin. Saya tengahin Bapak Presiden, sambil becanda nih. Udah becanda, terus dia tenanglah. Itu menteri-menteri, menteri Polhukam gak ada yang ngomong Pak. Nanti jawab gini pak. Saya tidak setuju karena ini ni, singkat. Marah dong temen-teman. Bapak presiden, kalau buat saya ini pak. Apa gak sebaiknya kita pertimbangkan dulu. Ya saya setuju Pak Ketua. Ya bapak kan mau rapat kita pertimbangkan, Walau nanti diputuskan enggak tapi paling enggak jadi dipertimbangkan. Tapi pakai guyon dulu. Kalau enggak gitu dia stik. Dia stik mati kita.

Reza: Saya bilang ke Pak Marciano. Pak saya gak berani ke rumah bapak dulu Pak. Begitu saya ke rumah Bapak, ada yang ngabarin kalau sudah dicap. Habis Pak Jokowi dilantik, saya nggak berani dulu. Udahlah biar bapak kerja tenang. Sekarang dia sudah aman. 

Setya: Udah tahu lah, kan Pak Luhut lapor semua pertemuan itu kalau Bung Riza semua yang ngatur.

Reza: Saya sih bukan menjilat dia Pak. Tapi kalau temen-temen saya paling gak hepi, pada ribut semua. Nanti rusak negara kita.

Setya: Waduh hancur

Reza: Iya kan. Maksudnya biar harmonis, harmonis rukun. Kalau Pak Luhut kan sahabat lama. Ya udah kita duduk Pak Luhut. Pak Luhut gak percaya. Belum cukup sama gue. Udahlah bisalah. Gua yang atur, gua jamin. Wah seneng banget, Pak Luhut ke Pak Jokowi. Nih si bos yang urus katanya. Dia mau bawa ke istana, Riza tolak. Wah kalau saya ke istana, ada yang motret. Tambah pusing kepala saya. Susah ini Pak, tukang gosip

Maroef: Makanan empuk

Reza: Iya makanan empuk. Wah gila betul. Kita kerja benar.

Maroef: Pak terima kasih waktunya Pak

Setya: Sekarang komisaris di sana siapa saja?

Maroef: Komisarisnya orang Papua-nya tiga, kemudian Indonesia non-Papua Pak Marz...(tidak jelas), Pak Andi Mattalata.

Setya: Ohh...Marsilam (berdasarkan situs PT Freeport Indonesia, jajaran komisarisnya dari Indonesia terdiri atas: Andi Mattalatta, Hoediatmo Hoed, Marzuki Darusman, Thom Beanal, Titus O. Potereyauw).

Maroef: Satu lagi bekas Presdir.

Reza: Pak Rozik ya?

Maroef: Oh, bukan itu Presdir waktu kontrak.

Setya: Hidayat itu beberapa kali ketemu saya. Nututi, saya menghindar terus. Saya sudah tahu itu. Kan saya tahu bahasa di Presiden kayak apa. Kan dia tiggal begini Pak. Rahasia terjamin. Orang lain gak ada yang ikut. Menteri pun gak tahu.

Maroef: Kalau tahu Pak?

Setya: Kalau misal, situasi menterinya juga bisa terus, tapi juga belum tentu terus. Kalau gak terus tahu Pak bocor.

Maroef: Lain cerita lagi itu Pak

Setya: Karena menterinya enggak share ini. Surabaya sama presiden itu hadir di PDIP. Dia ikut dari Papua Pak. Dia lihat ada di VIP lounge, dia cari saya. Pak Ketua saya tahu Pak Ketua ada di sini. Urusan Papua tolong Pak Ketua. Insya Allah. Sudirman gitu. Jadi panjangan ngomongnya, Bapak Presiden gini gini. Baik-baikan aja. Kalau ribut, masih muda saya dihantam ama Darmo.

Reza: Darmo ikut ke papua dia.

Setya: Darmo ikut ke papua?

Reza: Ikut dia.

Setya: Terus di pulang dia.

Reza: Dia sama presiden hanya sampai Surabaya. Terus menterinya pulang

Setya: Presiden itu gak hepi gara-gara itu. Dia gak gepi itu, menteri ini, Jonan dan Bappenas. Kalau ngomong itu saya pusing Pak Ketua, sama menteri ini.

Maroef: Andrinof

Setya: Andrinof

Reporter: Muchamad Nafi, Yura Syahrul
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait