Pembangunan Infrastruktur Gas Butuh Investasi Rp 270 Triliun

Infrastruktur gas hanya ada di Sumatera, Jawa dan sebagian Kalimantan. "Indonesia memiliki peluang yang banyak, juga tantangan infrastruktur," kat Dirjen Migas Kementerian ESDM, I.G.N. Wiratmaja Puja.
Yura Syahrul
29 Oktober 2015, 19:51
Pipa Gas
Arief Kamaludin|KATADATA
Pekerjaan pipanisasi gas milik Pertamina Gas di Kawasan Marunda, Jakarta Utara.

KATADATA - Indonesia memiliki cadangan gas yang besar dan tersebar di beberapa wilayah. Namun, potensi itu belum bisa dimanfaatkan secara maksimal karena keterbatasan jaringan infrastruktur gas yang menghubungkan antara daerah penghasil dengan para konsumen.

Dirjen Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) I.G.N. Wiratmaja Puja menjelaskan, infrastruktur gas saat ini hanya ada di Sumatera, Jawa dan sebagian Kalimantan. “Indonesia memiliki peluang yang banyak, juga tantangan untuk membangun infrastruktur,” katanya di hadapan para investor dalam forum “Spotlight on Indonesia” di Singapura, seperti dimuat dalam situs resmi Direktorat Jenderal Migas, Kamis (29/10).

Padahal, pembangunan infrastruktur migas sangat diperlukan untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan gas sebesar 9.348 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) atau 1,1 kali dari kebutuhan pada tahun 2019. Karena itu, perlu membangun infrastruktur gas di bagian barat dan timur di Indonesia.

Wiratmaja menghitung, kebutuhan dana untuk membangun infrastruktur gas di bagian barat dan timur di Indonesia mencapai US$ 20 miliar atau setara dengan Rp 270 triliun (kurs Rp 13.500 per dolar Amerika Serikat). Kebutuhan dana itu dialokasikan untuk pembangunan jaringan pipa sebesar US$ 8,5 miliar dan regasifikasi sebesar US$ 8 miliar. Selain itu, pembangunan fasilitas LPG sebesar US$ 1 miliar dan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) sebesar US$ 400 juta. Ada pula kebutuhan dana untuk pembangunan gas kota sebesar US$ 2,5 miliar.

Wiratmaja juga memaparkan rencana induk kebutuhan jaringan transmisi dan distribusi pipa gas bumi di seluruh wilayah Indonesia tahun 2018.  Di wilayah Sumatera, kebutuhan jaringan transmisi sepanjang 1.661,3 kilometer (km) dan pipa distribusi sepanjang 843 km. Sedangkan di wilayah Jawa yaitu 1.654 km pipa transmisi dan 1.224,15 km pipa distribusi.

(Baca: ESDM Mengakui Program Konversi BBM ke Gas Berjalan Lambat)

Adapun di Kalimantan, kebutuhan pipa transmisi sepanjang 1.975 km dan pipa distribusi 302 km. Lalu, di wilayah Sulawesi yaitu 854 km pipa transmisi dan 100 km pipa distribusi. Sementara itu, di Natuna Timur yaitu 1.414 km pipa transmisi dan untuk Maluku serta Papua dibutuhkan jaringan pipa distribusi sepanjang 244 km.

Lantaran membutuhkan dana besar, Wiratmaja mengundang para investor asing untuk turut membangun infrastruktur gas di wilayah barat dan timur Indonesia. Untuk menarik minat para investor, dia menjanjikan insentif. “Silakan datang ke Indonesia, kami sedang menyelesaikan regulasi bagi investor agar tertarik menanamkan investasinya di Indonesia,” katanya.

Reporter: Anggita Rezki Amelia
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait