Jokowi Minta Kemdag dan Dubes Buka Pasar Ekspor Non-Tradisional

"Pengamatan saya, banyak buyers (pasar) non-tradisional seperti Nigeria, Bangladesh, dan Arab Saudi," kata Menteri Perdagangan Thomas Lembong.
Yura Syahrul
21 Oktober 2015, 12:57
No image
ktifitas bongkar muat kontainer di PT Jakarta International Container Terminal (JICT), Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

KATADATA - Meski perekonomian global belum pulih, Presiden Joko Widodo ingin tetap menggenjot ekspor ke luar negeri. Caranya dengan memperluas target pasar ke pasar non-tradisional untuk mengganti penurunan ekspor dari negara-negara utama tujuan ekspor Indonesia selama ini.  

Saat ini, mayoritas negara tujuan ekspor Indonesia mengalami perlambatan ekonomi. Antara lain Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa. Kondisi ini menyebabkan permintaan barang-barang asal Indonesia mengalami penurunan yang signifikan.

Karena itu, Jokowi memerintahkan Menteri Perdagangan Thomas Lembong dan para duta besar Indonesia di berbagai negara agar aktif membuka pasar ekspor non-tradisional. "Saya tugaskan Menteri Perdagangan dan para duta besar untuk memperluas pasar ekspor non-tradisional karena potensinya ada," katanya seusai membuka Trade Expo Indonesia 2015 di Jakarta, Rabu (21/10).

Menurut Jokowi, pemerintah saat ini sudah memberikan insentif kepada para eksportir. Di antaranya, mendukung industri yang berorientasi ekspor dengan menurunkan bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga 9 persen mulai tahun depan. "Selain itu untuk kredit ekspor, tahun depan ada Rp 1 triliun yang kita berikan untuk Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)," imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Thomas menyatakan akan memaksimalkan kegiatan Trade Expo Indonesia ini untuk mencari para pembeli atau negara-negara tujuan ekspor non-tradisional. “Pengamatan saya, banyak buyers (pasar) non-tradisional seperti Nigeria, Bangladesh, dan Arab Saudi,” katanya. Dari sisi nilai ekspornya memang belum besar, namun pertumbuhan dan potensi pasar non-tradisional cukup tinggi.

Selain itu, pria yang akrab disapa Tom ini, berharap Kementerian Perdagangan dan para duta besar di negara-negara pasar ekspor non-tradisional dapat saling berkoordinasi untuk membuka pasar ekspor baru bagi para eksportir Indonesia. "Mereka (Dubes) dan kami merupakan ujung tombak ekspor ke pasar-pasar baru yang akan dibuka," katanya.

Kementerian Luar Negeri telah membentuk sebuah tim khusus diplomasi ekonomi untuk membantu para pengusaha Indonesia menemukan pasar ekspor dan investasi di luar negeri. Tim khusus ini diketuai oleh Wakil Menteri Luar Negeri A.M. Fachir, dan ketua harian tim dijabat oleh Duta Besar Indonesia untuk ASEAN, Ngurah Swajaya.

Menteri Luar Negeri Retno P. Marsudi mengatakan, tugas harian tim tersebut adalah berkoordinasi dengan para duta besar di masing-masing negara untuk menjembatani para investor Indonesia dalam membuka pasar ekspor dan bernvestasi di negara tujuan. “Jadi tim itu akan menjadi delivery unit yang bertugas menjembatani kebutuhan dengan pelaksanaan diplomasi ekonomi,” kata Retno, beberapa hari lalu.

Pekan lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan ekspor pada bulan Januari hingga September 2015 sebesar US$ 115 miliar atau turun 13,3 persen dari periode yang sama tahun lalu. Tiga negara utama tujuan ekspor non-migas Indonesia adalah Amerika Serikat, Jepang dan Cina. Nilai ekspor ke masing-masing negara itu pada September 2015 sebesar US$ 1,28 miliar; US$ 1,09 miliar; dan US$ 1,05 miliar atau porsinya 30,93 persen dari total nilai ekspor non-migas Indonesia.

Reporter: Ameidyo Daud Nasution
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait